Istilah Batu Delima, diambil dari nama buah delima yang berwarna merah, sehingga kadang orang juga menyebut lengkap sebagai Batu Merah Delima (BMD). Nama ini sering kita dengar di lingkungan orang2 yang suka batu permata (gemstone), karena warnanya yang sangat indah, harganya bisa mencapai ratusan juta rp, makanya juga ada yang menyebut sebagai rajanya batu permata (disamping batu2 permata lainnya tentunya).

Tanya – Andry

Dear Migas indonesia,

Saya mau nanya nich, katanya batu delima yang asli bisa digunakan sebagai mata bor untuk penambangan minyak. Betul apa nggak ya?
Mohon pencerahan.

Tanggapan – jarot setyowiyoto

Sekilas Tentang Batu Delima

Istilah Batu Delima, diambil dari nama buah delima yang berwarna merah, sehingga kadang orang juga menyebut lengkap sebagai Batu Merah Delima (BMD). Nama ini sering kita dengar di lingkungan orang2 yang suka batu permata (gemstone), karena warnanya yang sangat indah, harganya bisa mencapai ratusan juta rp, makanya juga ada yang menyebut sebagai rajanya batu permata (disamping batu2 permata lainnya tentunya).

Di pasar internasional BMD ini disebut sebagai Ruby (dari bahasa Latin: Rubrum yang berarti merah), yaitu merupakan mineral Corrundum (korundum) dengan komposisi kimia: Aluminium Oksida (Al2O3), bentuk kristal hexagonal, mempunyai kisaran warna merah jambu-merah anggur/ keunguan, dan mempunyai tingkat kekerasan yang sangat tinggi dengan nilai 9 (skala MOHS). Seperti kita ketahui, tingkatan kekerasan yang paling tinggi (nilai 10) adalah intan (diamond). Jenis korundum ini yang berwarna biru (karena kandungan titanium nya) dipasar dunia sering disebut dengan Sapphire (Batu Safir).

Sekilas tentang urutan tingkat kekerasan mineral (K) dalam skala Mohs (urut dari yang tidak keras); K=1: talk/kapur, K=2: gipsum, K=3: kalsit, K=4: fluorit,
K=5: apatit, K=6: Ortoklas/feldspar, K=7:
quartz/kwarsa, K=8: topaz, K=9: korundum, dan K=10:
intan. Kekerasan mineral yang lebih tinggi mampu menggores yang dibawahnya.

Material mata bor, ujungnya sering dilapisi (coated) dengan intan, dengan tujuan agar dalam proses pemboran mampu menggerus semua jenis batuan/mineral yang dilewatinya, karena dia mempunyai tingkat kekerasan yang paling tinggi. Nah kalau sekarang mata bor tersebut dilapisi dengan batu delima atau ruby/korundum yang mempunyai kekerasan satu tingkat dibawah intan, bagaimana? Tentu nantinya tergantung dari jenis batuan /mineral yang ditembus mata bor tersebut.

Kalau batuan yang ditembus, kekerasan mineral penyusunnya dibawah 9, ya tidak masalah. Misal quartz sandstone/batupasir kwarsa ( batuan yang mineral penyusunnya dominant dari kwarsa, dimana mempunyai rata2 kekerasan 7), maka dengan mata bor batu delima/korundum masih dapat ditembus. Namun kalau lapisan batuannya didominasi oleh intan atau ruby..wah..bukan hanya sulit nembus, tapi pasti rame.. wellsite geologist nya juga senang karena daerahnya mengandung batu mulia he..he..

Namun dalam proses pemboran tentunya tidak hanya semata-mata dipengaruhi oleh faktor perbedaan tingkat kekerasan antara bit dan lapisan batuan yang ditembusnya, faktor2 petrophysic, rock mechanic, dll tentunya juga akan berpengaruh.
Bapak2 drilling mungkin lebih bisa mengkupas hal ini. Terimakasih.