Acceptance criteria yang digunakan dalam blast assessment berdasarkan ultimate performance dari bangunan dan bukan normal code recommended allowable stresses untuk conventional loading.

Tanya – Oktorius Kosasih

Saya sedang mempelajari kaitan antara RBI dengan blast overpressure dan blast wall design pressure. Dalam mempelajari topik ini saya mengalami sedikit kesulitan dengan istilah blast overpressure dan blast wall design pressure, oleh sebab itu mohon maaf apabila pertanyaan saya banyak.

Saya pernah baca bahwa blast overpressure acceptable limit untuk bangunan dan orang di dalamnya sebesar 0.5psi (untuk perumahan dan perkantoran di US).

1. Apakah ada codes/standard untuk angka blast overpressure di industri migas?

2. Berapa acceptable limit blast overpressure untuk offshore platform?

3. Apakah besar acceptable limit blast overpressure untuk onshore berbeda dengan di offshore?

4. Lazimnya, apakah besaran blast overpressure lebih kecil daripada besaran blast wall design?

5. Bagaimana caranya menghitung blast wall design pressure?

Terima kasih.

Tanggapan 1 – Wahyu Hidayat

Saya juga belum menemukan standard yang mengatur ini. Akan tetapi beberapa buku menjelaskan tentang design criteria. Crowl dalam bukunya ‘Understanding Explosions’ terbitan CCPS menyebutkan:

‘Many risk analysts use 3 psi (20.7 kPa) as a conservative end point for quantitative risk cal cu la tions. That is, for overpressures greater than 3 psi (20.7 kPa), the structures are considered completely damaged and all of the humans in the structures result in fatalities. This assumes that humans are within the damaged buildings and fatalities are almost certain due to the collapsing structure (AIChE,1999a, 2000). Oswald and Baker (1999) provide considerably more detail on fatalities due to building collapse.Structures can be designed for blast resistance—this sub ject is beyond the cope of this book. More detailed infor ma tion can be found else where (ASCE,1997)’.

Ministry of Environment Singapore dalam Guidelines for QRA Study (Section 26 of the Environmental Pollution Control Act) mensyaratkan QRA study harus mengestimate jarak terhadap blast overpressure pada beberapa kriteria seperti 5psi to be within the plant site, 1 psi in commercial area (perkantoran, perdagangan), dan 0.5psi must not extend into residential area.

Blast loads berbeda dengan typical conventional loads yang terjadi pada bangunan. Blast loadsmemiliki peak pressure yang lebih tinggi (3 – 15 psi) dan durasi yang lebih pendek (10 – 100 msec), daripada conventional wind loads. Karakteristik inilah yang menyebabkan kerusakan yang parah ke bangunan karena load ini dideliver ke sistim struktur bangunan lebih cepat daripada kemampuan sistim merespon dan membangun ketahanannya.

Acceptance criteria yang digunakan dalam blast assessment berdasarkan ultimate performance dari bangunan dan bukan normal code recommended allowable stresses untuk conventional loading.

Blast Technology Cooperative – consortium industri perminyakan dan kimia dalam hal explosion hazards – melalui analisis yang lebih baru (Metode Baker Strehlow yang baru) mengurangi design blast pressure dari 3.2 psig menjadi 1.4 psig sehingga menghasilkan cost savings.

Umumnya associated damage terhadap bangunan berbeda tergantung tipe strukturnya. Lees’s Loss Prevention dan Crowl Understanding Explosions menjelaskan tipe-tipe bangunan.

Ada baiknya QRA dilakukan untuk mengetahui secara detail potensi, scenario, dan consequences dari explosion hazards berikut blast overpressure yang bisa terjadi dan kemudian disimulasikan berdasarkan occupancy sehingga mendapatkan individual risk. Kemudian bandingkan terhadap individual risk tolerance criteria yang sudah ditetapkan company. Jika masih melebihi, cari engineering solution (seperti meningkatkan lagi design pressurenya atau menata ulang facility siting).

Maaf kalau belum banyak menjawab akan tetapi buku di atas dan referensinya bisa dirujuk untuk lebih detilnya.

References yang disitir di Crowl sangat bagus:

ASCE (1997), Design of Blast Resis tant Build ings in Petrochemical Facilities, Reston, VA:

Amer i can Soci ety of Civil Engi neers.

Oswald, C. J. (2001), Report A150-301: Enhancement of the BEAST (Build ing Eval u a tion
and Siting Tool) Com puter Pro ram, San Anto nio, TX, Baker Engi neer ing and Risk
Consul tants.

Oswald, C. J. and Q. A. Baker (1999), “Vulnerabil ity Model for Occu pants of Blast Dam –
aged Build ings,” 34th Loss Pre ven tion Sym po sium. New York: Amer i can Insti tute of
Chemical Engi neers.

Baker, Q. A., C. M. Doolittle, et al. (1997), Recent Developments in the Baker-Strehlow
VCE Ana ysis Methodology, 31st Loss Prevention Symposium, Houston, TX. New
York: American Insti tute of Chemical Engi neers.

Crowlnya saya punya tapi tidak dengan referencesnya, ada yang punya? Sepertinya saya dan Cak DAM punya hardcopy dua references yang terakhir (kopian dari NUS), mesti dicek dulu. Cak DAM?

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Mas Oktorius,

Saya kira apa yang diperikan oleh Wahyu (baik dari e-mail dia di bawah ini atau dari attachment yang dia sisipkan belakangan) sudah cukup mumpuni untuk memberikan risalah umum tentang acceptable limit to blast overpressure.

Saya hanya menggarisbawahi bahwa :

Usaha usaha untuk mengurangi resiko ledakan langsung dari sumber nya adalah hal yang jauh lebih baik jika terdapat skenario satu kejadian (event), dalam hal ini satu kejadian ledakan mempengaruhi banyak gedung-gedung (berikut isinya) di sekitarnya. Dengan cara apa? Inherently Safer Design tentu saja.

Sekuat apapun gedung yang anda bangun, jika di dekatnya terdapat sumber ledakan yang frekuensi kejadiannya tinggi, tentu saja dia lebih ringkih (vulnerable) dibanding dengan gedung yang tidak blast overpressure proof, namun frekuensi kejadian overpressure nya sangat rendah.

Semoga ini selalu menjadi pikiran pertama dalam merancang bangunan.

Tanggapan 3 – Oktorius Kosasih

Dear All,

Terima kasih Bapak2 yang telah bersedia menjawab pertanyaan saya. Saya rasa untuk tahap pengenalan terhadap konsep blast overpressure dan blast wall design sudah sangat mumpuni. Nanti kalau saya sudah selesai mempelajari materi ini mungkin kita bisa berdiskusi lagi.

Salut untuk milis migas dan rekan2 yang bersedia untuk membagi pengetahuannya.