Jika kita ingin memasang offshore pipeline untuk crude oil, yang menghubungkan PLEM di SPM dengan Offshore Platform (kedalaman sekitar 100 ft), biasanya memang selalu memasang dua pipa sekaligus secara paralel (twin pipeline) yang sejajar, tidak pernah 1 pipeline saja untuk pipeline sistem SPM, PLEM. Yang pasti tujuan utamanya bukan untuk keperluan pigging. Metode konstruksinya dengan system S lay system, dengan menggunakan pipelay barge. Pipa dilas diatas barge sambung menyambung, barge sambil ‘berjalan’ dan perlahan-lahan pipa dilentangkan di dasar laut sesuai rute pipeline.

Tanya – Adi Nugroho

Selamat siang.

Rekan-rekan milis sekalian,

Ada bbrp hal yg ingin saya tanyakan:

1. Jika kita ingin memasang offshore pipeline untuk crude oil, yg menghubungkan PLEM di SPM dengan Offshore Platform (kedalaman sekitar 100 ft) , apakah harus memasang dua pipa sekaligus secara paralel(twin pipeline),ataukah cukup satu pipa saja untuk tiap line nya?

2. Jika memang harus dua pipa, tujuannya untuk apa? untuk keperluan piggingkah? atau hal lain? dan metode konstruksiny seperti apa?

3. Saya sedang mencoba menghubungi vendor2 untuk SPM (Single Point Mooring). Mungkin ada yang bisa bantu untuk info contact list vendor-vendor SPM selain Bluewater?

Terima kasih atas informasinya.

Tanggapan 1 – Effendy Udin

Dear rekan Adi,

1. Biasanya memang selalu twin pipeline yg sejajar, tidak pernah 1 pipeline saja utk pipeline sistem SPM, PLEM.

2. Yg pasti tujuan utamanya bukan utk keperluan pigging. Metode konstruksinya dengan system S lay system, dengan menggunakan pipelay barge. Pipa dilas di atas barge sambung menyambung, barge sambil ‘berjalan’ & perlahan2 pipa dilentangkan di dasar laut sesuai rute pipeline.

3. Single Buoy Mooring (SBM), coba buka saja website-nya di www.singlebuoy.com .

Barangkali info di atas masih kurang lengkap & silahkan bila ada temen2 lain yg lebih tau & ingin melengkapi.

Tanggapan 2 – didik.s.pramono

Pak Adi,

Menambahkan, untuk pertanyaan point 3 coba list vendor dibawah ini:

1. PGS Offshore Tech.

2. Maritime Tentech AS

3. Golar-Nor Offshore / Astano, El Ferrol

4. Advanced Production and Loading (APL)

Coba search di google untuk alamat website-nya.

Tanggapan 3 – bluesea@dnet.net.id

Sedikit melenceng..

Apakah industri perkapalan dalam negeri tercinta belum bisa bikin SPM sendiri?

Tanggapan 4 – Decky Antoni

For info,

Currently PT. Profab Indonesia (Batam Island) is fabricating various buoys (SPM), Turret Buoys, TAS (Turntable Acess Structure) for APL (Advanced Production and Loading), Bluewater Energy Services (BES) and SBM-Imodco.

Tanggapan 5 – Ramli Kadir

Sedikit nambahin Pak,

Kalau cuma bikin SPM sih, PT. Istana Karang Laut (IKL) jagonya dari dulu, bahkan untuk perusahaan2 minyak luar.
Silahkan buka www. istakala.com

Tanggapan 6 – malik

Pak adi,

Kalau menurut saya, twin pipeline atau bukan itu tergantung dari kebutuhan ya.. mungkin saja untuk menyalurkan sekian flowrate butuh pipa yang banyak, mungkin saja butuh dua pipa karena menyalurkan dua jenis content yang berbeda, atau mungkin saja karena alasan lain, seperti misalnya.. untuk kebutuhan flushing. Seperti kemarin ini saya ikut di dalam tim yang mendesain sistim offshore: pipeline-plem-spm; desainnya tadinya cukup untuk menggunakan satu pipa saja bersambung ke plem kemudian naik ke atas dengan underbuoy hose ke spm, kemudian dengan floating hose bersambung ke ship tanker. Tetapi karena adanya kebutuhan flushing, maka ditambahkanlah satu pipa lagi. Tetapi ada lagi di kasus lain yang sistim flushingnya tidak menggunakan tambahan pipa lain, jadi hanya satu pipa saja.

Jadi menurut saya intinya, dimulai dari menentukan kebutuhan dahulu kemudian dari hydraulic analisys dapat ditentukan konfigurasi seperti apa yang menghasilkan desain yang optimum. Kemudian ditinjau lagi dari aspek-aspek lainnya, operasinya, constructability-nya, bla bla bla, kalau kurang puas ya tinggal iterasi aja.

Tanggapan 7 – Arif.Wibisono

Mas Adi,

Point 1: saya setuju banget dengan pendapat P Ibrahim. Jadi penentuan 1 atau 2 pipe normally adalah dari hydraulic calc dengan mempertimbangkan flow rate, pressure drop, dll. Walaupun ga menutup kemungkinan penentuan juga mempertimbangkan aspek operability dan maintenability-nya.

Point 2: metode laying pipa itu ada banyak macamnya. Penentuan metode yang tepat tergantung pada kondisi lingkungan /environmental condition (water depth, wave, current and wind velocity) dan properti dari pipeline itu sendiri (diameter, grade-yang nantinya lari ke SMYS). Kita bisa pakai laying barge (S-Lay, J-Lay Methods), Reel Barge (biasanya untuk diameter-diameter kecil) atau Towing Methods. Untuk detail, bisa lihat buku Construction of Offshore Structures (Ben C Gerwick Jr).

Point 3: jika yang maksud SPM adalah yang type CALM (Catenary Anchor Legs Mooring ), mas Andi bisa hubungi SBM, Bluewater atau SOFEC. SBM itu mbah-nya SPM, dia klaim bahwa 80% SPM di dunia dia yang supply. Bluewater yang sekarang paling agresif dengan menawarkan type lain yang menurut dia bisa men-eliminate kelemahan-kelemahan type lama. SBM dan SOFEC biasa supply untuk type Turn Table sedangkan Bluewater bisa supply baik untuk type Turn Table atau Turret, walau dia prefer pakai type Turret karena type ini dia punya patent. Kalau SPM-nya tipe SALM (Single Anchor Leg Mooring), bisa hubungi APL. Biasanya siy, SALM applicable untuk laut-laut dalam.
Mudah-mudahan bisa membantu & cmiiw.
Kalo ada yang lain, bisa japri. Kebetulan saya kenal dengan vendor diatas.