Select Page

High rise building banyak macamnya. Kalau hanya 20-30 lantai mungkin tidak terlalu sulit dan hanya menggunakan metoda konstruksi yang umum dipakai..shear wall sebagai core dan dikombinasikan dengan struktur balok kolom. Tapi apabila diatas 40 lantai, bahkan gedung tertinggi didunia lebih dari 100 lantai (imagine that)…tentu tidak sesederhana itu mendesign gedung tersebut. Selain itu, perencana high rise building juga harus memperhatikan metoda konstruksi yg digunakan….misalnya mutu beton yang akan turun atau berubah karena melalui selang concrete pump yang sangat panjang dan tentunya mempengaruhi slump concrete tersebut pada saat sampai pada ketinggian tertentu.

Tanya – Dirman Artib

Rekan-rekan milis yth.

Sudah semenjak lama pertanyaan ini muncul, dan bahkan sudah saya tanyakan sana-sini kepada hampir structural engineer yang saya kenal tapi hasilnya nihil, maklum semua dari mereka adalah Structural Engineer di dunia oil&gas yang hanya berkutat dengan struktur platform. Soal konstruksi dan struktur high rise building, ada yang lebih ahli, mungkin.

Teori :

Material yang diberi gaya melewati batas proporsionalnya akan mengalami deformasi plastis.Bila gaya tsb. arahnya bolak-balik/kiri-kanan maka material mengalami dislokasibutir, ini biasa disebut strain-hardening. Efek strain hardening adalah bertambahnya kekerasan permukaan dan akibatnya material menjadi getas/mudah gagal.

Sebuah gempa biasanya juga memberikan gaya bolak-balik/kiri-kanan. Jika gaya tersebut cukupbesar dan melewati batas proporsional material struktur sebuah bangunan,maka fenomena yang sama dengan di atas akan terjadi. Berarti karakter material telah berobah dari karakter/properties awal ketika baru dibangun. Berarti resiko kegagalan material struktur akan meningkat dalam menahan gaya mekanikal atau integritas bangunan akan menurun. Bisa saja indikasi fenomena tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenarnya secara mikro telah mengalami perobahan.

Well,

Setelah kejadian gempa cukup besuarrr tadi malam, apakah ada peraturan nasional/international consensus, codes/standards or industrial practice yang mewajibkan atau paling tidak merekomendasikan kegiatan inspeksi/pengukuran/test terhadap structural sebuah high rise building ?

Apa nama peraturan, code/standard, engineering practice tsb ?

Bagaimana metode inspeksi/test atau pengukuran nya ?

Kalau tidak ada satupun aturan,code/standard ………bagaimana sebenarnya quality/safety assurance of high rise building dalam fase operasi dan pemakaian jika dilihat dari aspek gempa ini ?

Tanggapan 1 – Mahyarudin Dalimunthe

Saya coba menjawab pak Dirman. CMIIW, Masalah inspeksi tentang kelayakan bangunan juga saat ini sedang di kaji ulang di US pasca tragedi Jembatan yang rubuh di Minnesota.

Terus terang saya belum tau code atau peraturan tentang inspeksi kelayakan bangungan seperti Jembatan dan bangunan. tapi menurut saya ada. Mungkin teman-teman yang lain tau akan hal ini.

Mengenai quality/safe insurance dalam mendesain bangunan code/peraturan yang ada sebenarnya sudah cukup memberikan tingkat safety yang ada. hal itu ditandai dengan nilai safety factor kekuatan material. sebagai contoh untuk menghitung gaya tekan (Compressive Force) yang bisa dipikul oleh struktur adalah : 0.85*f’c*b*a, dimana 0.85 itu adalah safety factor dimana dianggap kemampuan beton disini hanya 85% dari kekuatan yang sebenarnya. begitu juga dengan peraturan untuk seismic analysis pada bangunan dan jembatan. sebagai contoh peraturan di Indonesia saat ini mengharuskan mendesain struktur bangunan tahan gempa dengan periode ulang gempa 200 sampai 500 tahun yang mana kekuatan gempa tersebut sangat kuat, sehingga sudah cukup mengakomodir keamanan. bagaimana jika yang terjadi gempa dengan periode ulang 1000 tahun??well, kemungkinan terjadi sangat kecil tapi tetap saja mungkin. untuk hal ini ya kita hanya bisa berdoa, karena manusia berusaha tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Tanggapan 2 – Wisnubrata, Gatot

Ada buku bagus yang membahas itu Pak Dirman,

Judulnya : Teknologi Audit Forensik, Repair dan Retrofit untuk Rumah & Bangunan Gedung.

Pengarang : Sjafei Amri, ST., Dipl. E.Eng

Terbitan : Yayasan John Hi-Tech Idetama

Buku itu membahas berbagai metoda pemeriksaan pada komponen atau struktur bangunan disertai dengan konsep & teknologi perbaikan kerusakan bangunan.

Tanggapan 3 – uci sanusi

Pa Dirman,

Sy akan coba jawab sesuai pengalaman saya, sebenernya sy juga bukan orang highrise walaupun waktu kerja praktek di konsultan highrise, sy orang onshore lah dibilang dan juga shore (jetty, port dll).

Jadi di peraturan ACI 308 maupun SNI 1726 itu ada kok yang menjelaskan tentang desain terhadap gempa untuk bangunan darat pastinya bukan offshore. Kalau tidak salah ada 4 tier itu, yang paling boros itu bangunan bersifat inelastis pada saat gempa kuat dan yang paling murah itu pembentukan sendi plastis saat gempa kuat pada balok sebagai mekanisme pelepasan energi (energy release), atau sering dikenal dengan strong column weak beam. Jadi yang dikorbankan adalah balok secara kalau bangunan sampai 20 lantai pake yang paling boros wah itu duitnya buanyak banget, jadi pasti dihindari deh. Nanti setelah kejadian balok2 yang terbentuk sendi plastis nya itu bisa dibenerin tetapi bangunan tetap berdiri dengan kokoh karena strong column itu tadi.

Metoda strong column weak beam juga diadopsi sama AISC (steel) bisa diliat di peraturannya dan SNI baja Indo yang copy habis AISC 2005 dan juga setelah AISC mengadopsi metoda ini buru2 orang Australia mengeluarkan Adendum terhadap peraturan baja mereka dan mengadopsi metoda ini.

Juga pada saat gempa itu bukan hanya bolak balik kanan kiri pa, tapi jika pusat masa berbeda dengan pusat kekakuan (stiffness) maka akan terjadi torsi (puntir) fenomena ini disebut torsional coupling, jadi agak rumit lah. Biasanya gerakan pada saat gempa ini selaras dengan gerakan harmonik bangunan tersebut yang dapat dilihat setelah melakukan analisa ragam (modal analyses), dan untuk bangunan yang berderajat kebebasan banyak (multi degree of freedom) itu akan ada beberapa nilai natural period dan juga natural frequency, dan biasanya nilai2 itu lebih dari 5 buah kalau untuk bangunan tinggi.

Tapi bersyukurlah bp2 structural engineer offshore, karena secara finansial jauh lebih baik daripada ahli2 gedung, hehehhe dan juga tingkat kerumitan tidak serumit struktur offshore. Sy sudah membuktikan sendiri ahli gedung bertingkat cukup kewalahan dan klepek2 waktu membangun struktur bangunan pabrik yang banyak mesinnya karena tidak pengalaman. Jadi sepertinya ahli struktur high rise memang tier terendah (mungkin loh ya) karena kalau di masuk ke migags pasti tahun pengalaman dipangkas habis, tul kan??

Tanggapan selengkapnya dari Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Agustus 2007 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This