Diskusi PLTN di milis ini sangat menarik. PLTN BUKAN HANYA MILIK BATAN DAN BAPETEN. Untuk itu, diskusi yang kritis tentang PLTN perlu TERBUKA DIMANA SAJA. Kekhawatiran kita tentang KKN pada program PLTN, sudah diantisipasi lama oleh Mantan dan Almarhum Kepala BATAN yang lalu. Bahwa jika program PLTN jika dibumbui masalah KKN sekali saj, maka seumur hidup orang tidak percaya.

Pembahasan – agung

*Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir *

*Medco Gandeng Korea Hydro*

Rabu, 25 Juli 2007 | 14:44 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta*:PT Medco Energi International Tbk., akan menggandeng Korea Hydro and Nuclear Power Co. Ltd guna membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Rencana perusahaan milik keluarga Panigoro ini diungkapkan Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Waryono Karno hari ini.

Menurut dia, Medco dan Korea Hydro telah menekan nota kesepahaman tentang *The Cooperation on the Nuclear Power Project Business Preparation in Indonesia Looking at Possibility Using an IPP Scheme* pada pada Rabu (25/7) di Seoul Korea Selatan. ‘Kedua belah pihak baru melakukan penjajakan dan pembicaraan masih tahap awal,’ kata Waryono di Jakarta Rabu (25/7).

Dia melanjutkan perjanjian antara Medco dengan Korea Hydro bersifat *business to business* yang dipayungi dengan perjanjian antar dua pemerintah yang telah dibuat pada Desember 2006 lalu. ‘Namun demikian pembicaraan dua perusahaan belum mencapai penentuan lokasi PLTN dan nilai investasi,’ ujar Waryono.

*NIEKE INDRIETTA

http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/07/25/brk,20070725-104340,id.html

Tanggapan 1 – Chairul Hudaya

Mudah mudahan PLTN akan membawa keberkahan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
Kerjasama ini menunjukan bahwa pengelolaan PLTN akan berbasis IPP.
Kita tunggu saja realisasinya..

Tanggapan 2 – andryansyah rivai

Saya kok bingung, bagaimana akan membawa keberkahan dan kemakmuran, kalau semuanya harus beli dari luar. Kalau PLTU diharapkan seperti itu saya masih bisa ngerti karena batubaranya dari negeri sendiri, sehingga daripada didiamkan akan lebih baik kalau untuk membangkitkan listrik karena kita butuh listriknya. Terus yang dipilih Korea, mengapa tidak Jepang, AS, Kanada, atau Perancis. Mengapa tidak sekalian yang buatan China seperti pemilihan PLTU? Bisakah dijelaskan sehingga mudah diterima?? Terima kasih, andry

Tanggapan 3 – okta.saparinda

…mau tanya ke bapak2 yang ahli struktur,ngebangun PLTN apa gak takut gempa pak? sebab saya punya kerjaan di aceh, ngebangun fasilitas untuk dark room atau X-Ray room,setiap kejadian gempa,lapisan lead (timah hitam) yang sudah terpasang, selalu mengalami pergeseran dan setelah dilakukan pengetesan ulang,ada leak radiasi disana… binyun saya pak…kumaha atuh…? gak kebayang ama saya sebagai orang awam, ngebangun fasilitas PLTN di indonesia, dimana intensitas gampanya tinggi sekali.. …tulung..gusti…

Tanggapan 4 – Wisnu Purwanto

Industri nuklir sebagaimana industri migas memiliki kriteria, spesifikasi dan standard yang sangat ketat terutama menyangkut safety and security. Cost untuk safety merupakan komponen terbesar dari total cost of ownership; termasuk decommissioning dan waste disposal. Saya tidak (ingin) meragukan kapabilitas serta kredibilitas teman-teman yang terlibat dalam pembangunan PLTN pertama di Indonesia untuk berkompromi masalah safety – dan saya juga tidak ingin berspekulasi kemungkinan adanya korupsi yang mungkin menggerogoti spesifikasi. Saya percaya mereka semua belajar dari kasus Chernobil, Three miles island dan bebarapa kasus lain. Saya mencoba berpikir positif – PLTN di Indonesia dibangunan dengan pertimbangan yang matang; seluruh kriteria, spesikasi dan standard seluruhnya bisa dipenuhi, sehingga resiko terjadinya kecelakaan yang berpotensi melepaskan bahan radioaktif ditekan sekecil mungkin. Saya mencoba bisa menerima fakta bahwa komponen lokal dari PLTN pertama tersebut relatif sangat kecil; Namun demikian masih ada yang mengganjal; yaitu – 100% KETERGANTUNGAN BAHAN BAKAR terhadap pihak asing – entah Korea, Australia, Canada, Amerika ataupun negara lainnya. Jika pasokan terganggu – baik untuk alasan politis ataupun non-politis – kegagalan berproduksi suatu pembangkit listrik berskala besar bisa mengganggu system jaringan kelistrikan – setidaknya di pulau Jawa. Saya sendiri ‘pernah’ begitu antusias dengan pembangunan PLTN di Indonesia; namun setelah saya menyelesaikan skripsi saya mengenai – Ongkos Pembangkitan Teraras PLTN I di Indonesia – dan bermain dengan angka2 – antusiasme tersebut perlahan meredup.

Tanggapan selengkapnya dari Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia bulan Agustus 2007 ini dapat dilihat dalam file berikut: