Select Page

Semangat ISO akan berjalan baik apabila didukung oleh seluruh pihak dari Top Management hingga Low Level sehingga tercipta suatu continual improvement bagi kinerja perusahaan tersebut..
Bila dihubungkan dengan kecerdasan sikap dan emosional yang pak Isywara sampaikan mungkin bisa diartikan bahwa kecerdasan sikap dan emosional itu berlaku untuk seluruh level karyawan terutama untuk Top Level dimana bisa dianggap sebagai penggerak semangat ISO.

Pembahasan – Isywara Mahendratto

Sebelum berkecimpung di bidang “kecerdasan sikap” atau “kecerdasan emosional” yang sekarang, saya berprofesi sebagai konsultan ISO 9000 diperusahaan yang sama.

Satu fenomena menarik yang sering saya temukan diberbagai perusahaan yang saya bimbing (barangkali fenomena ini pulalah yang menyebabkan saya sekarang beralih profesi menggeluti bidang kecerdasan sikap / kecerdasan emosi) adalah walaupun perusahaan sudah memiliki Visi dan Misi yang luar biasa bagus namun sering hanya “habis” sebagai penghias dinding disetiap ruang perusahaan saja.

Demikian halnya dengan Manual Mutu, Prosedur Mutu, Instruksi Kerja ataupun Dokumen Pendukung lainnya hanya menjadi dokumen “pasif” yang sekedar memenuhi persyaratan sertifikasi, bahkan terkadang menjadi tambahan beban administratif belaka.

Seolah perusahaan tidak memiliki “ruh” ataupun kehilangan semangat “bertumbuh” sama sekali, padahal sebagai sebuah tools, ISO 9000 merupakan sebuah sistem yang sangat bagus dan dinamis.

Usut punya usut ternyata ada beberapa pertanyaan “mendasar” yang harus dijawab perusahaan sebelum dan sesudah menerapkan ISO 9000, yaitu :

– Apakah Visi dan Misi perusahaan sejalan dengan Visi Misi pribadi karyawan ybs. ?

– Apakah sasaran mutu fungsi memang benar benar diinginkan oleh masing masing fungsi ?

– Apakah prosedur sudah dipandang sebagai “cara” yang akan memudahkan dan “melindungi” pekerjaan karyawan ?

– Apakah karyawan sudah melihat bahwa “kompetensi” merupakan kebutuhan pribadi ybs. ?

– Apakah setiap “ketidak sesuaian” yang ditemukan sudah difahami sebagai sebuah sarana “bertumbuh” (atau malah difahami sebaliknya sebagai sebuah aib) ?

– Apakah karyawan sudah memahami bahwa mereka merupakan “sel” penting dari sebuah fungsi ?

– Apakah karyawan sudah menyadari bahwa sebagai sebuah fungsi dari sebuah sistem, mereka harus saling bekerja sama ?

Dan banyak pertanyaan lain yang berhubungan dengan “kecerdasan sikap” ataupun “kecerdasan emosional” yang harus dijawab oleh karyawan sebelum dan sesudah menjalankan ISO 9000.

Tanggapan 1 – Eri Triharso

Mas Isywara,

Sangat menarik opini anda. Bolehkah saya berhubungan lewat japri, karena kayaknya kami perlu bantuan/konsultasi dng anda baik dalam rangka ISO maupun implementasinya sehubungan dng masalah kecerdasan emosi ini.

Tanggapan 2 – febi arfiyanto

Sekedar share,

Saya sudah pernah mengalami perbedaan background alasan implementasi ISO 9001:2000. Diperusahaan pertama implementasi ISO dikarenakan persyaratan pelanggan, diperusahaan kedua ISO muncul atas inisitif middle manager yang pernah punya pengalaman ISO dan di tempat ketiga ISO sudah terimplementasi dengan baik karena dokumen dan prosedur sudah termaintain secara worlwide meskipun dalam prakteknya masih ditemukan findings. Selain itu saya pernah ikut kegiatan quality audit dimana perusahaan tersebut menunjukkan komitmennya bahwa dengan ISO perusahaan tersebut dapat berjalan lebih baik.
Dari pengalaman tersebut saya bisa melihat bahwa semangat ISO akan berjalan baik apabila didukung oleh seluruh pihak dari Top Management hingga Low Level sehingga tercipta suatu continual improvement bagi kinerja perusahaan tersebut..
Bila dihubungkan dengan kecerdasan sikap dan emosional yang pak Isywara sampaikan mungkin bisa diartikan bahwa kecerdasan sikap dan emosional itu berlaku untuk seluruh level karyawan terutama untuk Top Level dimana bisa dianggap sebagai penggerak semangat ISO. Mohon maaf bila salah, saya masih belajar mengenai Quality Management System.

Tanggapan 3 – Isywara Mahendratto

Setuju !

Yang saya maksudkan adalah tentang bagaimana karyawan dan perusahaan sama sama ‘bertumbuh’.

Karyawan sebagai individu semakin ‘kompeten’ dan ‘sejahtera’, perusahaan sebagai sebuah sistem semakin ‘berkualitas’ dan ‘untung’.

Karyawan memiliki ‘sikap kerja’ yang positif, perusahaan memiliki budaya perusahaan yang sehat, dsb.

Lihat artikel Corporate Culture berikut :

http://servocenter.wordpress.com/2007/05/12/corporate-culture/

Tanggapan 4 – Decky Antoni

Teman2,

Sekedar sharing saya rasa untuk ‘kecerdasan emosi’ (EQ) dan ‘kecerdasan spiritual’ (SQ) boleh coba training ESQ yang diciptakan oleh Bpk Ary Ginanjar, mudah2an bermanfaat.

Saya sudah pernah mencoba hasilnya cukup bagus untuk penyatuan misi dan visi perorangan dengan misi dan visi perusahaan, nama trainingnya ‘mission statement’.

Share This