Kesiapan masyarakat dan operatornya: dengan budaya keselamatan yang masih sangat jauh dari memadai dalam masyarakat kita, apakah bijaksana untuk mengadopsi suatu tekhnologi yang benar-benar sangat membutuhkan kesadaran dan budaya safety yang tinggi. Mengingat bahwa negara kita merupakan negara yang secara geographist berada dalam ‘ring of fire’. Apakah cukup bijaksana untuk mengadopsi PLTN yang sangat mungkin bocor apabila terkena gempa bumi? Jangan samakan diri kita dengan negara Jepang yang jelas sudah sangat maju dalam hal tekhnologi, budaya dan kesadaran masyarakatnya.

Pembahasan – Djanegara, Bob – conocophillips

Mohon maaf,

Mau ikutan bicara soal pengadaan PLTN di Indonesia.. Ada pertanyaan yang sangat menggelitik dalam hati saya tentang perlunya pembangunan PLTN di Indonesia, yang saya harapkan bisa dijawab oleh rekan – rekan pendukung PLTN di Indonesia:

1. Kesiapan masyarakat dan operator nya: dengan budaya keselamatan yang masih sangat jauh dari memadai dalam masyarakat kita, apakah bijaksana untuk mengadopsi suatu teknologi yang benar – benar sangat membutuhkan kesadaran dan budaya safety yang tinggi. ( saya setuju sekali dengan komentarnya pak Nur Hasan).

2. Mengingat bahwa negara kita merupakan negara yang secara geographist berada dalam ‘ring of fire’, apakah cukup bijaksana untuk mengadopsi PLTN yang sangat mungkin bocor apabila terkena gempa bumi? Jangan samakan diri kita dengan negara Jepang yang jelas sudah sangat maju dalam hal teknologi, budaya dan kesadaran masyarakat nya.. Saya kira kita harus sangat mempertimbangkan tentang disiplin dari rakyat/ pekerja di negara kita yang masih sangat ‘parah’..
3. Dengan kembali mengingat bahwa negara kita merupakan negara yang secara geographist berada dalam ‘ring of fire’, apakah tidak lebih bijak untuk mengembangkan listrik tenaga panas bumi, yang jelas – jelas melimpah di Negara kita… Sementara, saya sendiri tidak begitu tahu, apakah bahan bakar nuklir banyak tersedia di Indonesia? Kalau tidak tersedia di dalam negeri, maka bukankah hal itu membuat ketergantungan yang sangat besar dari kita kepada produk luar? Kenapa kita harus menggunakan sumber daya yang tidak ada di dalam negeri, sementara sumber yang tersedia di dalam negeri (dalam bentuk panas bumi) tersedia dengan melimpah di sini, lebih aman, dan belum banyak dimanfaatkan.

Banyak cara untuk maju dan memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri.. Banyak juga alternative yang ‘murah’, diantaranya, mungkin yang paling murah itu adalah geothermal itu.. kenapa musti mengambil alternative yang paling tinggi resiko nya? Mudah – mudahan bisa dijadikan pertimbangan.

Tanggapan 1 – Puluh Agus N. Rianto-medcoenergi

Jawaban buat pak Bob ada pada lampiran, (diperoleh dari : http://www.batan.go.id/ppen/ )

Quote:

Uranium (Nuklir)

Secara geologi, seperempat daratan Indonesia diperkirakan mengandung deposit mineral radioaktif terutama uranium yang merupakan bahan bakar bagi energi nuklir. Sejak tahun 1960 telah dilakukan prospeksi umum dan saat ini telah mencakup 78 % dari luas total 535.000 km2 yang terdapat di Indonesia. Beberapa kerjasama teknik pernah dilakukan dengan CEA Perancis (1969-1979), PNC Jepang (1977), BGR Jerman Barat (1977-1978).

……………………………………………………….

Berdasarkan perhitungan, cebakan (in-place) di sekitar Kalan, Kalimantan Barat yang mengandung sekitar 6.707 ton RAR, 1.699 ton EAR-1 dan total spekulatif sebesar 4.090 ton uranium. Pada umumnya cadangan spekulatif yang diperhitungkan berada di daerah Kalan, yakni di sektor daerah Mentawai yang berlokasi di sekitar 50 km dari arah tenggara Kalan.

Jika eksplorasi ditingkatkan dalam skala industri, cebakan terbukti yang lebih besar akan dapat ditemukan di Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Dalam tahun 1993 – 1995, BATAN juga telah melaksanakan pemetaan di wilayah Irian Jaya seluas 3.000 km2.

Apabila teknologi energi nuklir sudah dapat dikembangkan ke penggunaan bahan baku nuklir yang lain, maka Indonesia juga mempunyai potensi yang cukup besar misalnya cadangan Thorium yang saat ini masih dikategorikan sebagai limbah industri penambangan timah (Pb) di wilayah Sumatera. Selain itu bahan baku nuklir juga dapat dikembangkan ke arah penggunaan Plutonium, Lithium dan Hidrogen, sesuai dengan teknologi energi nuklir yang dikembangkan.

Tanggapan 2 – x.sulistiyono-exxonmobil

Bagaimana ya besarnya cebakan uranium di Freeport ? Ada or tidak ?

Tanggapan 3 – soedardjo – batan

Masalah Uranium sudah banyak dibahas di milis migas ini, silahkan membuka arsipnya di:

http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/41973

http://www.batan.go.id/ppen/

http://www.batan.go.id/ppen/Web%202005/PIN/hasil.pdf

http://www.batan.go.id/ptrkn/file/tkpfn12/paper/Makalalah-Peserta/teddy-ugm.pdf

http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/41109

Kalau Freeport adalah tambang emas, maka biasanya uranium berasosiasi dengan emas, lihat di:

http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/40653

http://www.batan.go.id/ppgn/Program%20Litbang.htm.(https://www.abnamromorgans.com.au/download.cfm?DownloadFile=A850B786-D60D-
5745-01A6C6F3E81E0EB5).

Jadi nggak usah jauh-jauh,

karena uranium juga merupakan by produk pabrik pupuk fosfat seperti PETROKIMIA
http://www.batan.go.id/ptlr/index.php?option=com_content&task=view&id=32&Itemid=48

PUPUK FOSFAT MENGANDUNG URANIUMKAH?…..Re: Uranium Melawi
http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/41009