WITSML merupakan struktur data untuk men-transfer data dari rig secara real-time ke aplikasi yang bersangkutan dengan eksplorasi (G&G, Drilling Engineering). Implementasinya yang pertama kali di Indonesia sudah dilakukan di BP saat ini. WITSML ini sendiri merupakan generasi lanjut dari WITS. Yang mana format dari WITS adalah format clear-text sementara itu untuk WITSML itu sendiri format nya adalah XML. Jadi semua data parameter drilling (rop, wob, hookheight..dst) dan lwd/mwd (trajectory, resistivity, neutron, gamma ray..dst) tersebut di-transmit ke kantor pusat operator field migas dalam format XML (yang sudah mengikuti standard struktur data WITSML). Selanjutnya aplikasi third party drilling engineering dan g&g akan membaca format xml ini untuk diproses secara lanjut oleh aplikasi yang bersangkutan.

Tanya – athur queen

Dear All,

Mohon pencerahannya!

Saya menemukan istilah WITSML dan searching ke internet. Dari hasil penelusuran, ditemukan bahwa WITSML singkatan dari Wellsite Information Transfer Standard markup Language.
Jadi kepikiran, kenapa butuh WITSML untuk transfer data wellsite? Bukankah seorang Wellsite Geologist pasti mengirimkan report ke kantor? Bukankah wellsite geologist akan menerima semua report dan laporan dari vendor-vendor (drilling, mudlog dan wireline) di lapangan? Bukankah setiap report sudah memiliki format standard yang berarti reportnya juga siap untuk tinggal dikirim ke siapa saja yang butuh termasuk ke kantor? Kenapa wellsite geologist harus mengirimkan datanya dalam bentuk WITSML?
Terima kasih.

Tanggapan 1 – Heru Danardatu

Mbak,

IMHO.

WITSML digunakan untuk real time monitoring. Kalau di Schlumberger namanya InterACT.
Jadi data langsung dikirim saat itu juga, bisa di monitor dari kantor.
Pengambilan keputusan bisa lebih cepat.

Tanggapan 2 – Darius Gorga

Dear Arthur…

WITSML itu sendiri hanya merupakan struktur data untuk men-transfer data dari rig secara real-time ke aplikasi yang bersangkutan dengan eksplorasi (G&G, Drilling Engineering).

Implementasinya yang pertama kali di Indonesia setahu saya sudah dilakukan di BP saat ini.

WITSML ini sendiri merupakan generasi lanjut dari WITS.

Yang mana format dari WITS adalah format clear-text sementara itu untuk WITSML itu sendiri format nya adalah XML. Jadi semua data parameter drilling (rop, wob, hookheight..dst) dan lwd/mwd (trajectory, resistivity, neutron, gamma ray..dst) tersebut di-transmit ke kantor pusat operator field migas dalam format XML (yang sudah mengikuti standard struktur data WITSML). Selanjutnya aplikasi third party drilling engineering dan g&g akan membaca format xml ini untuk diproses secara lanjut oleh aplikasi yang bersangkutan.

Aplikasi lanjut dari WITSML ini sendiri, adalah :

– data ‘real time’ drilling itu sendiri akan dapat di-feed ke aplikasi ‘drilling engineering’, sehingga drilliing engineer dapat dengan langsung membandingkan desain drilling itu sendiri dengan data actual secara ‘real time’.

– data ‘real time’ drilling itu sendiri akan dapat di-feed ke aplikasi ‘G&G’ secara real-time, sehingga para geoscientist (geologi dan geofisis) dapat membandingkan interpretasi geology mereka dengan kondisi drilling secara nyata.
Lalu melalui aplikasi drilling engineering dan G&G tersebut, data dapat di-visualisasikan ke satu screen, sehingga para decision-maker di operator migas dapat melihat secara real time progress operasional drilling yang sedang berlangsung. Seperti menentukan bagaimana mencapai target formasi yang mengandung oil/gas.

Jadi dengan WITSML ini sendiri, yang diharapkan adalah keseragaman struktur data yang dikirim dari aktivitas2 operasional rig (drilling, wireline, well testing, cementing) dapat dikirim dan di-visualisasikan secara real-time ke kantor pusat operator migas.

Intinya, dengan menggunakan format xml ini, data real time tersebut akan dapat disebarluas kan melalui aplikasi web, dan data2 real time tersebut dapat dipelajari oleh geoscientist dan drilling engineer operator migas melalui internet tanpa mengenal batasan waktu dan geografis.
Dan ahli2 ini dapat berkumpul di suatu lokasi (di luar rig-site) utk mengambil keputusan dalam operasional drilling sehingga dapat mengurangi NPT (non productive time) dari operasional drilling.

Tanggapan 3 – Eko Yudha

Hehehe…suatu saat nanti, driller di lapangan cukup robot yang dikendalikan dengan remote control oleh drill eng & geologist sambil ngopi tubruk di warteg .. 🙂

Tanggapan 4 – Darius Gorga

Mas Eko,

Bukan suatu saat, hal itu sudah dimulai sejak 2 tahun lalu di wilaya Asia Tenggara, yaitu di SHELL Miri.

SHELL Miri (serawak) sudah punya Real Time Operations Center (RTOC) untuk memonitor operations drilling mereka di asia pasifik (cina, australia, dll) dari Miri. Dan juga expert2 SHELL yang nongkrong di RTOC Aberdeen, North America dan region lain, bisa saling share pengalaman dan masukan antar sesama mereka, sehingga dalam pengambilan keputusan bisa lebih cepat dan sinergy.

Untuk di Indonesia, BP Tangguh punya yang namanya ACE (Advance Collaboration Environment) untuk drilling, lokasinya ada di kantor BP Jakarta/Arkadia.

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

Dear milis

Hem, ehem eheem , artinya lagi pesaing anda dengan mudah mendapatkan hard data tanpa harus invest satu sen pun, tanpa harus, permisi ke bpmigas umpamanya, tanpa harus biding area of interest yang sudah dinyatakan free. pesaing anda tinggal duduk duduk juga minum kopi sambil (tentunya di dukung oleh hacker) capturing data yang sedang di transmit. selamat pak kebocoran kita ternyata tidak secara fisik saja tapi juga dari sisi knowledge.
selamat juga kepada rekan rekan yang senang ngoprek technology, ada sebaran hard data yang tinggal dijaring, ditumpuk, suatu saat pasti akan ada pasar yang membutuhkan nya bagi saya, interpret data seperti itu ngak harus immediate, target itu sudah jauh hari di rencanakan, mungkin satu tahun sebelumnya, sebelumnya sampai ke keputusan ini target nya, ratusan jam engineer dan engineering practices di bikinkan konsolidasinya menjadi drilling proposal. sepertinya cara yang dipandang obsolete, ambil tape, jump to boat, atau hely secepatnya sampai di kantor office masih merupakan cara yang ampuh untuk menjawab security issue.

Tanggapan 6 – Darius Gorga

Begitulah mas…

Dan tidak segampang itu juga untuk meng-crack data yang sudah pasti di desain sistem security nya oleh vendor2 software tersebut. Biasanya juga transmisi data2 penting seperti itu juga pastilah di-desain hanya beredar di dalam environment transmisi data si operator lading minyak. Yang notabene, environment nya tersebut dimonitor oleh sang empunya network setiap saat dengan sistem keamanan yang canggih.

Jadi perlu usaha extra untuk menerobos sistem keamanan network operator migas, lalu meng-crack enkripsi data yang sedang di transmisi kan. Hal itu bisa terjadi, tapi menurut saya tidak gampang.

Namanya juga software masih buatan manusia..tidak ada yang sempurna.

Sama seperti kalau kita naik pesawat terbang. Pesawat terbang juga buatan manusia.
Kalau ada orang yang mau jalan2 dari Jakarta ke Bandung, tapi takut naik pesawat terbang, yah .. si orang tersebut kan bisa pilih alternatif lain…apakah itu naik mobil pribadi, apakah itu naik kereta api.

Tokh juga kita mempunyai kebebasan untuk memilih dari alternatif-alternatif sarana dan teknologi yang sudah tersedia. Selama kita memiliki kontrol teknologi itu dan bukan sebaliknya.