Penggunaan nuklir sebagai salah satu sumber energi (pembangkit listrik) sangatlah diperlukan hal ini TERUTAMA sebagai ‘diversifikasi’ atau keberagaman sumber energi yang ada di Indonesia. Diversifikasi ini sangat perlu untuk menghindari ketergantungan terhadap satu jenis energi saja.

Tanya – soedardjo batan

Bagaimana tanggapan Bapak Ibu atas tulisan Energi terbarukan lebih merusak lingkungan dibandingkan energi nuklir di

http://www.energiportal.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=46&artid=585 ?

Lalu bagaimana jika Bapak ibu sekalian membandingkan dengan artikel di http://www.earthisland.org/takeaction/new_action.cfm?aaID=23

to energy efficiency measures, alternative forms of energy production, with relatively low greenhouse emissions, are available–prominent among them, cogeneration plants, combined cycle gas turbines, wind energy, and solar energy. These alternative methods are without the negatives of nuclear power, including inefficient, large transmission systems, release of radioactive effluents in normal operation, the threat of catastrophic accidents, generation of radioactive waste, and production of nuclear weapons material. Giving the same treatment to nuclear power as to energy efficiency and alternative energy would could become the basis of a general revival of the nuclear industry, which is desperate to build new reactors.

Tanggapan 1 – Rovicky Dwi Putrohari

Kalau asumsinya menyatakan bahwa greenhouse effect disebabkan oleh emisi karbon yg akhirnya menjadi paling tertuduh bahan yang merusak lingkungan, maka nuklir akan menjadi lebih baik dalam kurun waktu puluhan tahun.

Dampak penggunaan energi fosil dan terbarukan lainnya memang menunjukkan bahwa jumlah gas emisi yg ditimbulkan perkwh, sangatlah besar. Silahkan simak uraian saya disini : http://rovicky.wordpress.com/2007/04/06/energi-masa-depan/ mengapa energi angin lebih besar pernah terjawab di mailist indoenergi bahwa ini disebabkan karena konstruksi energi angin lebih banyak menggunakan logam yang proses eksplorasi hingga produksinya menghasilkan emisi gas rumahkaca dibanding konstruksi beton.

Skali lagi itu semua kalau asumsinya lingkungan akan dipengaruhi oleh gas rumahkaca akibat ulah manusia (anthropogenic cause). Namun kalau gas rumah kaca ini disebabkan proses alam (natural couse) maka kita ta peru ribut2 soal gas emisi. Dan asumsi diatas menjadi tidak tepat. Namun konsekuensi logis lainnya adalah, kita tak bakalan terpacu untuk mengganti sumber energi fosil ke energi baru lainnya (termasuk nuklir, angin, geothermal dll).

Saya pikir penggunaan nuklir sebagai salah satu sumber energi (pembangkit listrik) sangatlah diperlukan hal ini TERUTAMA sebagai ‘diversifikasi’ atau kebragaman sumber energi yang ada di Indonesia. Diversifikasi ini sangat perlu untuk menghindari ketergantungan terhadap satu jenis energi saja. Kalau soal harga, saya masih ragu PLTN akan menekan harga jual listriknya. Toh menekan harga listrik kalau hanya karena subsidi juga tidak banyak manfaat, karena yang lebih memanfaatkan listrik lebih banyak toh masyarakat yg relatif mampu.

Mengenai artikel kedua ‘

quote ‘ Readers should let the officials below know that the Kyoto Protocol must promote energy efficiency and renewable energy—not nuclear energy–;…. ‘ Keduanya bukanlah hal yang antagonis, bahkan tidak berhubungan tetapi keduanya terpisah. Jadi walaupun menggunakan energi nuklirpun efisiensi dan pemanfaatan renewable energi TETAP diperlukan,

Tanggapan 2 – soedardjo batan

Yth. pak Rovicky Dwi Putrohari,

Milis ini juga diiukuti oleh PNS dari BATAN. Untuk itu mohon maaf jika teman-teman BATAN terpaksa mengulang diskui di milis BATAN.

Ada hal-hal yang berkaitan bahwa PLTN TIDAK LEBIH HIJAU. hal tersebut dapat Bapak simak di http://www.stormsmith.nl/report20050803/Chap_1.pdf, terutama Gambar 4a hingga 6.

Serta silahkan menyimak juga http://www.oxfordresearchgroup.org.uk/publications/briefing_papers/pdf/secureenergy.pdf,
halaman 42 dan 43.

In about 70 years (in scenario 1) to 45 years (in scenario 2) the nuclear CO2 emission surpasses that of the gas-fired electricity generation. Scenario 2, which is the most likely scenario, is well within the operational lifetime of a new build in the UK.

Emisi CO2 untuk uranium akan melebihi PLTG, jika kadar uranium lebih kecil 0,01% U3O8.

Tanggapan 3 – MetNet

Kenyataannya, proses Uranium yg kadarnya kurang dari 0.2% U3O8, selain emisi CO2 meningkat signifikan, juga sdh tdk ekonomis.

So whats the problem ?

Rangkuman Diskusi Mailing List Migas Indonesia Bulan Agustus 2007 ini dapat dilihat dalam file berikut: