ROP = Rate of Penetration, menghitungnya simple saja: jarak dibagi waktu. Secara manual bisa, namun secara ‘real time’ juga bisa, soalnya alat sekarang kan canggih2. Kalau secara manual, biasanya mud logger akan menghitungnya dalam ft/hr atau dalam meter/hr dan langsung di plot di mud logs nya. Semakin rapat jarak ngitungnya, semakin detail pula chart atau ROP lognya. Pada alat2 canggih yang menyajikan data2 real time, ROP ini langsung di plot di lognya bersama2 dengan data2 logs yang lain pada saat drilling berlangsung. Nilai kurva ROP bervariasi karena tingkat kekerasan formasi bisa berlainan apalagi pada saat berganti formasi (misal dari formasi sandstone ke shale –> informasi lithology ini didapat dari returned drill cuttings, bukan dari ROP) atau dari formasi keras masuk ke formasi yang porous (nah, yang kayak gini biasanya disebut sebagai ‘drilling break’ atau perubahan ROP yang mencolok), dsb. Data ROP biasanya berlaku untuk section tertentu, dalam 1 sumur ada beberapa section. Kalau dibilang absolut, mungkin ya ROP absolut untuk section yang bersangkutan. Hal ini sangat penting untuk pemilihan jenis mata bor (drilling bit) untuk section2 atau formasi2 tertentu. Sedangkan ROP rata2 biasanya hanya untuk melihat overall drilling performance aja, tapi kurang akurat bila dipakai sebagai dasar untuk optimizing drill bit selection untuk perencanaan ngebor secara keseluruhan.

Tanya – athur queen

Dear All,

Mohon pencerahannya.

Bagaimanakah data ROP diperoleh? Apakah pemilihan bit mempengaruhi data ROP? Bisakah data ROP mengindikasikan jenis lithogi dari formasi yang sedang di bor? Apa saja sih gunanya data ROP?
Terima kasih.

Tanggapan 1 – Nataniel Mangiwa

.Rate Of Penetration: satuannya bisa meter/hour atau minute/meter, dari satuannya jelas bahwa ROP di dapat dari pembagian jarak (kedalaman)/waktu atau dalam berapa menit untuk mengebor 1meter formasi.

.Jelas bit mempengaruhi ROP.

.ROP bisa mengindikasikan kekerasan formasi yang di bor tapi tidak menentukan jenis litologi

.Indikasi high pressure, pemodelan d’exponent (analisa trend pressure profile dari suatu well), untuk data development well berikut (informasi jenis bit yg akan dipilih serta setting drilling parameter yg bisa di apply utk optimize drilling time).

Tanggapan 2 – athur queen

Dear pak Nataniel,

Terima kasih pak atas penjelasannya. Saya masih penasaran, bagaimana data ROP diperoleh. Klo ROP didapat dari pembagian kedalaman / waktu = kecepatan. Berarti ROP merupakan hasil perhitungan donk pak! Klo ROP merupakan hasil perhitungan, kenapa nilai kurva ROP bervariasi terhadap kedalaman seperti halnya kurva GR dan SP yang didapat dari hasil pengukuran wireline dan diletakkan dalam satu kolom yang sama? Apakah data ROP mengindikasikan kecepatan absolut penetrasi bor ato kecepatan rata-rata? Berapakah range nilai ROP pada umumnya?
Terima kasih.

Tanggapan 3 – Harry Eddyarso

Dik Athur yang baik,

Saya perhatikan dari dulu dik Athur ini getol banget nanya2 soal drilling, btw pingin jadi drilling engineer ya?? ๐Ÿ™‚ Kalo iya, saya lagi nyari drilling engineer ni, mau join?

Okay, saya coba jawab deh:

1. ROP = Rate of Penetration, ngitungnya simple aja: jarak dibagi kecepatan. Secara manual bisa, namun secara ‘real time’ juga bisa, soalnya alat sekarang kan canggih2. Kalau secara manual, biasanya mud logger akan menghitungnya dalam ft/hr atau dalam meter/hr dan langsung di plot di mud logs nya. Semakin rapat jarak ngitungnya, semakin detail pula chart atau ROP lognya. Pada alat2 canggih yang menyajikan data2 real time, ROP ini langsung di plot di lognya bersama2 dengan data2 logs yang lain pada saat drilling berlangsung. Nilai kurva ROP bervariasi karena tingkat kekerasan formasi bisa berlainan apalagi pada saat berganti formasi (misal dari formasi sandstone ke shale –> informasi lithology ini didapat dari returned drill cuttings, bukan dari ROP) atau dari formasi keras masuk ke formasi yang porous (nah, yang kayak gini biasanya disebut sebagai ‘drilling break’ atau perubahan ROP yang mencolok), dsb.

2. Data ROP biasanya berlaku untuk section tertentu, dalam 1 sumur ada beberapa section. Kalau dibilang absolut, mungkin ya ROP absolut untuk section yang bersangkutan. Hal ini sangat penting untuk pemilihan jenis mata bor (drilling bit) untuk section2 atau formasi2 tertentu. Sedangkan ROP rata2 biasanya hanya untuk melihat overall drilling performance aja, tapi kurang akurat bila dipakai sebagai dasar untuk optimizing drill bit selection untuk perencanaan ngebor secara keseluruhan.

3. Nilai ROP bisa bervariasi lebar sekali tergantung dari tingkat kekerasan formasi yang bersangkutan (baik dari segi jenis lithology nya maupun porositas formasi), mulai dari > 150 ft/hr (biasanya di top hole) sampai dengan < 0.1 ft/hr (biasanya di basement atau jenis formasi keras lainnya, seperti: dolomite, chertz, limestone).

4. ROP gunanya untuk apa? Sebagian udah dijawab sama Mas Nataniel di bawah ini. Tapi yang jelas, ROP diperlukan untuk:

a. Drilling performance: makin tinggi ROP, makin cepat ngebornya selesai, makin murah pula biaya sumur tsb. Dulu waktu di ARCO kami punya semacam KPI (Key Performance Indocator) yang kami namakan ‘2000 ft Club’, artinya para drilling supervisor / engineer yang pernah ngebor lebih dari 2000ft dalam 24 jam akan dapat semacam ‘bintang’ begitulah. Jadi ada kebanggaan sendiri bagi yang pernah mencapainya, terus stickernya bisa dijahit di coverall masing2 :-). Dalam sejarahnya, malah ada yang mencapai 3000ft dalam 24 jam (di area Laut Jawa).

b. Untuk mengetahui perubahan lapisan formasi sebelum drill cuttings sampai ke surface dan sebelum logging dilakukan (kecuali kalau pakai LWD yang sensor GR/Resistivity nya di bit – yang ini langsung ketahuan). Untuk jenis2 lithologynya tetap harus lihat cuttingnya dulu, kecuali kalo udah tau duluan dari data2 offset wells kayak di sumur2 development.

5. Data2 ROP dari offset wells tentu mempengaruhi pemilihan jenis bit agar pemboran sumur yang sedang berlangsung LEBIH BAIK dari ROP di sumur2 sebelumnya, sehingga biaya sumurnya bisa ditekan lebih murah lagi. Biasanya untuk formasi2 yang empuk (soft to medium formation) kita pake jenis bit yang ‘milled tooth’ yang bekerja berdasarkan prinsip ‘gauging’ (formasinya dikerok kayak kita ngerok kelapa) dan gerigi bit jenis ini punya kemampuan untuk ‘self-sharpening’ bila patah (sisa patahannya akan tetap runcing tajam). Jadi bitnya tajam terus gak pernah aus (worn-out). Untuk formasi2 yang medium to hard, biasanya pake jenis ‘insert bit’, itu lho drill bit yang gigi2nya kayak peluru dan terbuat dari tungsten carbide. Prinsip kerja dari insert bit ini adalah dengan ‘crushing’, jadi batuan formasi itu ditumbuk dengan gigi2 tungsten carbide yang keras itu. Nah, setelah pecah lalu pecahannya diangkut oleh lumpur ke permukaan. Dengan kemajuan teknologi, sekarang udah umum kita gunakan drilling bit jenis PDC (Polycristalline Diamond Compact) bit (pake intan buatan) yang menghasilkan ROP yang relatif tinggi. Harganya relatif lebih tinggi di atas jenis 3-cone bit (baik insert maupun milled tooth), tapi ROP yang dihasilkan bisa 2-3 kali lebih cepat dan kadang2 1 PDC bit bisa dipakai di 2-3 sumur yang berbeda. Untuk formasi2 yang very hard, biasanya dipakai jenis Diamond bit, yang gigi2nya rada kecil tapi sangat tahan gerus, sehingga batuan yang super keraspun akan tergerus oleh intan tsb.

Semoga cukup jelas ya Athur…

Tanggapan 4 – Harry Eddyarso

Dear all,

Maaf, ada kesalahan ketik yang sangat mengganggu di bawah ini, yaitu ‘jarak dibagi kecepatan’ yang seharusnya:’jarak dibagi waktu’, misalnya pada depth tertentu jarak 1 ft dibor dalam waktu 5 menit, maka ROP nya = 12 ft/hr untuk 1 ft section tsb. Sekali lagi maaf ya. ๐Ÿ™‚

Tanggapan 5 รขโ‚ฌโ€œ satam

Dear Pak Harry ,

Terima kasih atas penjelasannya…tapi kalau untuk drilling engineer backgroundnya bisa gak dari instrumentasi. terus kalau memang bisa..sertifikasi apa yang cocok untuk kursus drilling tersebut. saat ini saya ambil instrument inspector….kira-kira apa yah yang cocok untuk itu? maklum saya tahap pemula…

Thanks atas jawabannya.

Tanggapan 6 – Eko Yudha

Ikut nanggapin ya,

Walaupun mata kuliah drilling engineering biasanya hanya ada di jur. Teknik perminyakan, dalam kenyataanya temen2 dari semua jurusan bisa menjadi drilling engineer asal punya basic fisika. Malah saya lihat teman2 dari Tek Mesin lebih jago terutama bila menyangkut peralatan drilling.
Oya, saya malah dengar pak Herman Lantang, sahabatnya Soe Hok Gie yg jg aktivis 66 itu, dari Sastra UI jadi mud engineer di MI (kalo saya gak salah) ..nah lho hehe..

Tanggapan rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan September 2007 dapat dilihat dalam file berikut :