Sudah seharusnya PLTN tidak menjadi prioritas dalam pembangunan. Seharusnya PLTN menjadi alternatif terakhir. Kembangkan dulu alternatif yang lain, termasuk upaya penghematan energi dengan menaikkan efisiensi penggunaan energi yang bersifat terbarukan (angin, surya, mikrohidro, BBH-Bahan Bakar Hayati) yang mempunyai keuntungan bersifat tersebar, sehingga dapat dibangun di desa-desa dan pulau kecil, sehingga pembangunan dapat merata -pro rakyat miskin. PLTN memerlukan jejaring transmisi grid yang mahal untuk dapat mencapai pedesaan, apalagi untuk mencapai pulau-pulau kecil.

Tanya – Anshori Budiono

Berawal dari nonton acara pro dan kontra pembangunan PLTN Gunung Muria yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta minggu ini, barangkali ada rekan2 yang tahu dan bersedia share untuk hal2 berikut:

1. Strategic Plan Pemanfaatan Energy di Indonesia dalam kurun waktu 100 tahun ke depan.

2. Road Map Pembangunan PLTN Gunung Muria

3. Saat ini, Pembangunan PLTN Gunung Muria sudah pada tahap apa? Apakah sudah selesai feseability study nya?

3. Fund untuk Pembangunan PLTN Gunung Muria berasal dari mana? Korea Selatan?

4. Konsultan feseability study PLTN Gunung Muria?

5. Potensial Konsultan untuk FEED PLTN Gunung Muria berasal dari mana?

6. Potensial EPC Kontraktor untuk pembangunan PLTN Gunung Muria? berasal dari mana?

7. Operator dari PLTN Gn. Muria? PLN, Perusahaan swasta asing (PLN hanya membeli daya listriknya saja) atau siapa ya..?

8. PLTN Gn Muria nanti nya dibawah PLN, BATAN atau sebagai Industri Strategis langsung di bawah Presiden?

9. Seberapa besar keterlibatan insinyur-insinyur dan tenaga ahli Bangsa Indonesia pada pembangunan PLTN dan pengoperasian PLTN Gn. Muria..? Bagaimana langkah strategic pemerintah agar insinyur-insinyur dan tenaga ahli bangsa terlibat pada Pembangunan PLTN Gunung Muria?

10. Apakah Bangsa Indonesia akan melakukan sendiri peng-kayaan uranium (bahan bakar PLTN) atau hanya membeli dari luar negeri.

Mohon maaf ya terlalu panjang hal2 yang ingin saya ketahui. Siapa tahu dengan penjelasan hal2 di atas, beberapa teman atau saya sendiri tertarik untuk untuk banting setir dari dunia MIGAS ke dunia tenaga listrik nuklir.

Tanggapan 1 – benu269@gmail.com

Pertanyaan Bapak sangaaaaaat bagus.
Tapi, kayaknya susah untuk dijawab tuh.
Apalagi oleh tim PLTN.

Bukannya ‘serba tertutup’?

Buktinya, pada saat tim Nuklir mau sosialisai ke masyarakat sekitar gunung muria, eh…lari terbirit2 saat akan dikunjungi oleh warga sekitar.
Ini menurut berita di TV swasta lho….
Atau hanya issue alias berita boong ya?

Tanggapan 2 – Dasep Nurjani

Hingga sekarang kontroversi rencana pembangunan PLTN Gunung Muria di semenanjung Muria, Kabupaten Jepara, masih terus berlanjut. Perlu diketahui, bahwa pembangunan PLTN ini diperkirakan memerlukan dana sekitar 67 Trilyun Rupiah. Darimana dana diperoleh untuk pembangunan ini ? Sudah barang tentu yang nomor satu dan utama adalah: berasal dari pinjaman negara-negara yang sudah maju.
Nanti nya apa sanggup bayar……………………………………….

Pertama berkaitan dengan yang pro PLTN sebagai berikut:

A.1. Pihak yang pro:

1. Ilmuwan nuklir dan pakar PLTN (BATAN)

2. Industri tenaga nuklir

A.2. Alasan pro:

1. Merupakan sumber listrik alternatif karena sumber konvensional (minyak, batu bara dan gas) makin menipis;

2. Harga listrik PLTN kompetitif;

3. Aman: per Twy (terrawattyear) kematian (manusia) yang disebabkan PLTN adalah 8 per Twy.

4. Terkait isu pemanasan global: PLTN selama operasi tidak mengemisikan gas rumah kaca CO2. Berdasarkan analisis daur hidup (penambangan uranium, pemurnian, pengoperasian PLTN, pengolahan limbah, penyimpanan limbah, dan pembongkaran instalasi PLTN yang mencapai akhir daur gunanya -use cycle), emisi CO2 lebih rendah daripada sumber konvensional;

5. Karenanya, PLTN adalah sumber energi berkelanjutan.

A.3. Persepsi pro:

1. Nisbah Untung/rugi = besar (keuntungan atau manfaatnya jauh lebih besar daripada faktor negatifnya);

2. Kesediaan menerima resiko = besar.

Kedua, berkaitan dengan pihak yang kontra berikut ini:

B.1. Pihak yang Kontra:

1. LSM;

2. Akademik;

3. Gus Dur

B.2. Alasan kontra:

1. Tidak dapat dijamin keamanannya – kasus Three Miles Island (AS, 1976) dan Chernobyl (Rusia, 1986);

2. Limbah nuklir baru aman setelah disimpan 10000 tahun;

3. Perlu diperhatikan angka kematian / kesakitan yang tidak segera terjadi karena penyinaran radioaktif -misalnya dari kecelakaan Chernobyl;

4. Laporan kenaikan leukimia anak di sekitar PLTN Sellafield, Inggris;

5. Perlu dibandingkan dengan kematian karena pembangkitan listrik dengan angin, surya, mini-mikrohidro, dan bahan bakar hayati (BBH) yang dikenal sangat aman;

6. Pencemaran udara;

7. PLTN menggunakan uranium yang non renewable (tak terbarukan) yang pada suatu saat akan habis, sehingga PLTN bukanlah sumber energi berkelanjutan;

8. Emisi CO2 lebih rendah, apabila: menggunakan bahan tambang berkualitas tinggi yang berkadar uranium 1% atau lebih (misal batuan tambang lunak atau soft ore -batas emisinya 0,0015%); namun bila makin rendah kualitas batuan tambang yang digunakan (misal granit -batas emisi lebih tinggi), akan semakin tinggi emisi CO2. Oxford Research Group dalam laporannya kepada British House of Commons pada tahun 2005 menyatakan bahwa: emisi CO2 PLTN bervariasi antara 20% – 120% dari PLTU gas, tergantung pada kualitas batuan tambangnya. Sebagian besar batuan tambang uranium yang diketahui, mempunyai kualitas rendah. Dengan adanya permintaan untuk bahan bakar nuklir yang juga naik, pada akhirnya batuan tambang berkualitas rendah juga akan ditambang (sehingga emisi CO2nya lebih tinggi daripada konvensional). Jadi, tidak ada jaminan akan mengurangi emisi CO2.

B.3. Persepsi kontra:

1. Nisbah Untung/rugi = kecil (merasa tidak atau sedikit merasa mendapatkan keuntungan);

2. Kesediaan menerima resiko = rendah.

C. Kesimpulan:

Seharusnya PLTN menjadi alternatif terakhir. Kembangkan dulu alternatif yang lain, termasuk upaya penghematan energi dengan menaikkan efisiensi penggunaan energi yang bersifat terbarukan (angin, surya, mikrohidro, BBH-Bahan Bakar Hayati) yang mempunyai keuntungan bersifat tersebar, sehingga dapat dibangun di desa-desa dan pulau kecil, sehingga pembangunan dapat merata -pro rakyat miskin.

PLTN memerlukan jejaring transmisi grid yang mahal untuk dapat mencapai pedesaan, apalagi untuk mencapai pulau-pulau kecil.

Sudah seharusnya, PLTN tidak menjadi prioritas dalam pembangunan.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Indonesia pembahasan bulan September 2007 selengkapnya dapat dilihat dalam file berikut: