Secara letak terjadinya, korosi terbagi atas korosi lokal (pitting) dan korosi menyeluruh (general). Seperti halnya korosi pada umumnya, pitting juga terjadi jika ada beda potensial antara dua permukaan yang menyebabkan terjadinya perpindahan ion melalui suatu elektrolit. (Syarat terjadinya korosi kan ada beda potensial anodik/katodik dan ada elektrolit yang memungkinkan terjadinya pertukaran elektron). Bedanya, dalam kasus pitting, dua permukaan yang berbeda potensial ini saling bertumpukan pada lokasi yang sangat sempit sehingga korosi terjadi terus menerus dan lama-kelamaan bisa menyebabkan logam bolong.

Tanya – arlindo Anton

>Dear rekan-rekan,

Mohon maaf, mungkin rekan-rekan ada yang tahu TENTANG KOROSI PITTING, BAIK TENTANG ARTIKEL ATAUPUN TENTANG KONSEP DASAR KOROSI..
THX U

Tanggapan 1 – kip

Pak Anton coba cek ke http://www.corrosion-doctors.org mudah2an bisa membantu.

Tanggapan 2 – Mahatrisna

Pak Marlindo,

Berikut sedikit kutipan, tentang penyebab pitting corrosion terutama pada SS material:

‘The corrosion resistance of stainless steel materials depends on the formation of a thin and dense passivating oxide layer. Breakage of this passivating layer is possible in the presence of Halogen- ions, such as Chlorine, Iodine and Bromine. Due to the attack of these ions an increased corrosion takes place at locations where the passivating layer is interrupted. The corrosion attack takes place in the form of small pits which can propagate and destroy even thick parts in a rather short time. Therefore pitting corrosion has to be regarded as a much more severe attack and corrosion form than homogeneous corrosion. The corrosion rate increases with decreasing ph-value (acid value of the solution) and increasing oxidising ability of the electrolyte. Surface areas which show signs of mechanical treatment, or cold formed areas, accelerate the corrosion attack. Alloying with molybdenum and increasing chromium content reduces the susceptibility to pitting corrosion for chromium- and chromium-nickel steels. Pitting corrosion is not restricted to stainless steel, it may also take place on other materials creating a passive layer, e.g. aluminium’.

Tanggapan 3 – Widyastho, Ovulandra Wisnu@chevron

Pak Marlindo,

Singkatnya :

Secara letak terjadinya, korosi terbagi atas korosi lokal (pitting) dan korosi menyeluruh (general). Seperti halnya korosi pada umumnya, pitting juga terjadi jika ada beda potensial antara dua permukaan yang menyebabkan terjadinya perpindahan ion melalui suatu elektrolit. (Syarat terjadinya korosi kan ada beda potensial anodik/katodik dan ada elektrolit yang memungkinkan terjadinya pertukaran elektron).

Bedanya, dalam kasus pitting, dua permukaan yang berbeda potensial ini saling bertumpukan pada lokasi yang sangat sempit sehingga korosi terjadi terus menerus dan lama-kelamaan bisa menyebabkan logam bolong.

Sebagai contoh, terjadinya pitting pada sistim H2S bisa dibayangkan sebagai berikut :

1. Kita bayangkan saja pipa besi terbuat dari berlapis-lapis Fe

2. Adanya H2S pada sistim akan membuat Fe menjadi FeS sehingga timbul FeS di lapisan paling atas

3. FeS ini lebih katodik daripada Fe, akibatnya lapisan Fe dibawahnya akan terkorosi…. Terjadi pertukaran elektron terus menerus dengan lapisan dibawahnya sehingga akhirnya bolong…

Kalau panjangnya : Mungkin saya boleh tahu lebih spesifik pitting yang dialami seperti apa ? Pada sistim yang bagaimana ?

Rekan lain mungkin ada yang bisa menambahkan….

Tanggapan 4 – ifan rifandi

Menambahkan :

Pitting juga bisa terjadi pada stainless steel. Hal ini terjadi karena unsur Crom dalam lapisan pasif larut bereaksi dengan ion chlorida menjadi CrCl3. Larutnya unsur Cr dari lapisan pasif menyebabkan terjadinya beda potential antara lapisan pasif dan lapisan aktifnya. Beda potential menimbulkan aliran electron/ listrik yang memacu peningkatan reaksi Fe (yang ditinggalkan ikatannya oleh Cr) dengan ion Cl membentuk FeCl3 yang sangat korosif.
Untuk meningkatkan ketahanan pitting pada stainless steel ditambahkan unsur molibdenum (Mo).
Dalam dunia stainless steel juga dikenal nama PREN (Pitting resistant equivalent Number) Number = %Cr + 3.3(%Mo) + 16(%N)
Untuk ketahanan pitting airlaut, nilai PREN harus minimal 32.