Select Page

Ada yang tahu tentang konsiderasi peletakkan kompresor terhadap sumber panas (misal Burn Pit)? Apakah ada jarak minimal compressor skid dari sumber panas tersebut? Atau perlu dihitung radiasi panas dari sumber tersebut? Kalau ya harus menghitung, ada yang bisa memberi tahu caranya ?

Tanya – Haris FaBiaN

Dear milisters,

Saya mo nanya nih. Ada yg tau ga tentang konsiderasi peletakkan kompresor terhadap sumber panas (misal Burn Pit)?

Apakah ada jarak minimal compressor skid dari sumber panas tersebut?

Atau perlu dihitung radiasi panas dari sumber tersebut?

Kalo iyah harus ngitung, ada yg bisa memberi tahu caranya tak?

Terima kasih yahh, maap ptanyaannya banyak.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Dik Haris Fabian,

Dik Haris Fabian ini kan junior saya di VICO dulu.

Begini dik haris fabian, dalam menentukan bahaya nya, terlebih dulu dik haris fabian sebaiknya melakukan HAZOP study terebih dahulu, agar dapat diperoleh the most credible event nya apa saja.

OK lah katakanlah HAZOP sudah dilakukan, setidaknya laporan HAZOP memerikan hal hal seperti ini:

1. Bahaya kebakaran karena terpantiknya emisi gas karena kebocoran pada fuel gas manifold oleh panas radiasi (Severity 3, Frekuensi 4, Risk Ranking = 7, katakanlah seperti ini)

2. Pekerja (maintenance / operation / auditor / siapa saja) yang terpapar oleh panas burn pit ketika sedang bekerja sehingga pekerjaan yang sangat penting tidak dapat dilakukan yang berujung pada hilangnya ongkos produksi ( Severity 3, Frekuensi 3, Risk Ranking 6)

3. Fire detector menangkap sinyal api dari burn pit, sehingga berpotensi shutdown (safe state) dan menyebabkan kehilangan produksi (Severity 3, Frekuensi 4, RR = 7)

4. dsb.

Dari masing masing HAZARDS ini dilakukan seleksi mana yang menjadi most credible case, atau katakanlah nilai Risk Rankingnya paling tinggi (dalam terminologi yang saya pakai nilai RR = 1 menunjukkan paparan resiko yang apling besar).

Katakanlah Pekerja yang terpapar oleh panas burn pit sebagai the most credible event. Maka fokus harus diletakkan disini yakni bagaimana caranya menyelesaikan ini?

Setiap event sejatinya memiliki Root Cause, maka Root Cause inilah yang harus dicari. Saya biasanya mencari root cause nya dengan FTA. Dalam kasus kita pekerja terpapar panas burn pit, root causenya antara lain: Letak Burn Pit yang terlalu dekat (jika kompresor dan burn pit diinstal secara bersamaan), Management of Change yang tidak melihat unsur facility siting dengan meletakkan kompresor ke dekat existing burn pit (jika kompresor diinstal belakangan setelah burn pit), Tidak adanya perhitungan panas maksimum pada laju alir minyak / gas maksimum menuju burn pit, tidak adanya / kurang diperhatikannya faktor environmental condition (arah angin, kecepatan angin, cuaca (hujan – cerah), temperatur udara, dsb) dalam perancangan, Kesalahan dalam menentukan komposisi gas sehingga nilai bakarnya tidak sesuai dengan kenyataan (sehingga radiasi nya pun tidak sesuai), dsb.

Dengan mengetahui root cause maka bisa diambil langkah langkah penyelesaian yang paling sesuai untuk masing masing root cause.

Disamping itu suatu event biasanya menimbulkan konsekuensi. Nah konsekuensi ini dapat dicegah dengan mengaplikasikan yang dinamakan dengan Layer of Protection. bagaimana caranya menentukan layer of protection? yah harus dengan melakukan ETA (event tree analysis). dengan event tree analysis maka kita akan mengetahui layer of protection apa saja yang harus dipasang. Misalnya: dengan memasang barrier antara burn pit dengan kompressor, bisa berupa dinding, pohon (tidak favorit) atau meninggikan ponds di burn pit. bisa juga dilakukan dengan membuat water curtain untuk mengurangi radiasi. Bisa juga dengan memasang sistem pengolahan minyak untuk mengurangi jumlah minyak yang terbakar di burn pit (semakin banyak minyak, radiasinya semakin besar toh?), dst.

Karena the most credible case nya adalah pekerja yang kelojotan, maka rumus perhitungan panasnya di alihkan ke efek bagaimana supaya orang tidak kelojotan apalagi mengalami 2nd degree burn, atau fatality. Ada nilai panas panas tertentu dari berbagai riset mengenai derajat keparahan dari efek radiasi. HATI HATI dalam memilih nilai nilai keparahan ini, pilih hasil eksperimen yang sahih karena kebanyakan dianut oleh software adalah yang terlalu konvensional.

Perkara menghitung radiasi itu hal yang remeh, API-520 menyebutkannya, silahkan dicari di sana untuk perhitungan yang konvensional. Untuk perhitungan yang lebih mujarab bisa pakai rumus dalam buku CCPS CPQRA, dan jika pakai software, dipasaran sudah tersedia banyak, antara lain pakai FLACS, CIRRUS, FLAREnet, SAFETI, dsb.

Semoga ga nambah bingung yah Dik Haris.

Tanggapan 2 – Haris FaBiaN

Tararengkyu Kak Darma, hehehehe. Penjelasan dari Kak Darma sangat membuka cakrawala berpikir saya untuk tidak setengah2 dalam melihat suatu permasalahan.

Project ini adalah project pemasangan kompresor yg bertujuan untuk merekoveri gas yg tadinya dibuang ke Burn Pit dan mengalirkannya ke VLP compressor suction scrubber . Sebenarnya project ini adalah projectnya Dept. Operation, jadi HAZOPnya sudah dilakukan oleh mereka. Dept. kami kebagian jatah memasangnya. Yang menjadi concern dalam pemasangan kompresor ini adalah:

1. Letak kompresor tidak boleh jauh2 dari line gas yg menuju Burn Pit, karena tekanan di line tersebut saja sudah 0.5 psig,

2. Letak kompresor juga tidak bole terlalu dekat dengan Burn Pit, karena resiko yg paling besar adalah operator kompresor bisa terpapar oleh radiasi dari api burn pit.

Oleh karena itulah saya menanyakan berapa nilai jarak minimum antara kompresor (plus manusia) dan burn pit, agar manusia yg menjalankan kompresor terebut aman dari sengatan panas api burn pit. Dan terima kasih atas bantuannya saya sudah menemukan penjelasannya di API RP 521 (hihii, lupa baca udah maen tanya ajahh, maap boss). Bwat teman2 yg sedang blajar seperti saya juga, bisa liat tuh penjelasannya di Section 4.4.2.3 dan contoh perhitungannya di Appendix C.

Skali lagi makasi Mas.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Dik HaRiS,

Perlu kiranya diperhatikan adalah Besarnya Api ketika Compressor telah dipasang. Maksud saya adalah, ketika kompresor sudah terpasang, api burn pit kan sudah tidak sebesar awal lagi, kecuali kompressor pada saat dalam perbaikan/shutdown.

Maka pemerian besaran radiasi yang diterima personnel selama (berusaha) meng-online kan kembali kompressor ini lah yang menjadi dasar besaran radiasi yang diterima. hal ini patut diketahui agar design efektif both in cost, operational and safety manner.

OREDA 2002 menyebutkan lamanya perbaikan kerusakan kompresor dapat mencapai 791 manhours, untuk kasus ‘low output’ pada centrifugal compressor, dan 140 manhours untuk kasus ‘Reciprocating Compressor Breakdown’.

Bukankah kompressor yang dipilih adalah reciprocating compressor? Semoga sukses proyek AFA nya.

Share This