Select Page

Dalam NFPA 30 tabel 2.3.2.2.1. saya membaca bahwa jarak antar shell untuk storage tank dengan diameter lebih dari 150 ft dengan type tank floating roof adalah 1/6 dari jumlah diameter tank yang berdekatan bila menggunakan remote impounding atau 1/4 dari jumlah diameter tank yang berdekatan bila menggunakann dike. Yang ingin saya tanyakan: 1. Seperti apakah bentuk dan desain remote inmpunding tersebut?; 2. Apabila telah dipakai remote impounding apakah masih perlu diberi dike? kalau masih perlu diberi dike, apakah dimensi dike yang digunakan sama dengan dimensi dike kalau tidak menggunakan remote impounding?

Tanya – Mohammad Luthfi

Yang saya hormati Bapak/Ibu anggota milist Migas,

Untuk kesekian kalinya ada yang ingin saya tanyakan kepada para anggota milist ini, terlebih yang sudah experience dalam bidang Migas.

Dalam NFPA 30 tabel 2.3.2.2.1. saya membaca bahwa jarak antar shell untuk storage tank dengan diameter lebih dari 150 ft dengan type tank floating roof adalah 1/6 dari jumlah diameter tank yang berdekatan bila menggunakan remote impounding atau 1/4 dari jumlah diameter tank yang berdekatan bila menggunakann dike.

Yang ingin saya tanyakan:

1. Seperti apakah bentuk dan desain remote inmpunding tersebut?

2. Apabila telah dipakai remote impounding apakah masih perlu diberi dike? kalau masih perlu diberi dike, apakah dimensi dike yang digunakan sama dengan dimensi dike kalau tidak menggunakan remote impounding?

Atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan terimakasih….

Tanggapan 1 – roeddy setiawan

Dear Pak Luthfi,

Wah pertanyaan bapak ini mendetail sekali. bagi saya pak semua apa yang ada di manual yang bapak lihat merupakan kumpulan hal 2 yang di harus di perhatikan, kalau bapak mau membuat tank farm.

Tank farm anda dilengkapi dengan dike yg isinya 110 % isi tanki sudah oke.
setelah itu munkin bapak lihat kanan kiri dari tank farm bapak; …. e e e h ada lagi tanki lain lagi dengan design yang sama resiko, tentunya bapak grading resiko, resiko dan resiko lagi. misalnya event ini :

tank yang disamber gledek, sobek, bocor dan terbakar. rate of hc consumption harus ditentukan, jadi seluas area dike akan generate heat flux berapa banyak, kalau sehabis dihitung heat flux nya lebih kecil dari heat flux safety matches yang saya taruh ditengah 2 telapak tangan untuk melindungi nya dari angin sebelum rokok saja menyala yah bagus engak perlu kalanjutannya. tank jadi kempot, karena operator mau cepat cepat selesai disaat loading, ada wayang di luar terminal, karena kempot bocor , static terbakar, sama seperti diatas heat flux berapa, radiasi thermal berapa dari heat flux tersebut, kalau setelah dihitung ngak masalah terhadap adjacent tank yah selesai. floating roof, tenggelam ini karena efflux yang kebesaran juga, ada paduan suara di luar terminal plus panjat pinang. pompa dikebut supaya loading cepet selesai. tanki exposed , hujan gerimis , bleduk terbakar lagi, sama juga event nya, tank terbakar dulu, strukturnya tidak men suport beratnya sendiri, kolaps, hc yang terbakar menari nari memenuhi dike anda.

Kalau hitungan bapak hasilnya positif berpengaruh ke adjacent tank, tendunya anda kepingin another protection, untuk itulah secondary impoundment suka dibikin orang.

Bagaimana design nya yah bikin design, fluid dari dike bisa di transfer secara cepat tanpa bantuan mekanis apa apa, bikin design kalau api tidak eng-gantol (seperti di krl jakarta bogor) tiba tiba muncul pringisan di secondary impundment bikin juga design fluid dari situ bisa ditransfer back ke tank yang tidak terkena dampak, bikin juga design dimana bermwall nya tidak retak retak karena tidak pernah dipakai, kemarau kadar airnya ciut wall nya retak seperti sawah kurang air, bikin juga impound ment yang tidak bodor ke bawah misal dengan menganti atau meningkatkan qualitas dasar impoundment supaya kedap hidrocarbon, bikin impounment dengan additional protection layer. bikin sumur bor untuk monitor hc yang nakal menjelinap keluar, lalu masuk ke badan air. kalau semua nya di ignore bisa bisa bapak di definisikan sbg outlaw oleh pak hakim dan qualify masuk penjara karena sudah ada undang undang pencemaran.

Tapi pak mau bikin impoundment dimana boleh lah saya dipakai he he bercanda.

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Mas Luthfi,

Saya tidak tahu apakah anda salah mencantumkan Paragraphnya atau NFPA-30 yang kita gunakan edisinya berbeda.

Mungkin kalau anda menggunakan NFPA-30 edisi 2003 sebagaimana yang saya anut, Paragraph yang ditinjau adalah Para 4.3.2 dan sub paragraph yang membicarakan jarak antar tank untuk tanki > 150 ft dibahas di Sub Para 4.3.2.3 ‘Control of Spills from Aboveground tanks’.

Disitu memang disebutkan tentang remote impounding.

Remote impounding adalah tempat penampungan besar yang harus inherently safer (tidak bocor, tidak menyebabkan kebakaran, dan memiliki sarana untuk pengolahan yang memadai). Remote impounding ini menampung liquid limpahan dari drainage di dalam bundwall.

Untuk dikes saya kira NFPA menyebutkan dengan jelas kriteria nya yakni kemiringan tidak boleh kurang dari 1%, kapasitas diking yang sanggup menampung tumpahan liquid dari tanki terbesar, dinding dikes haruslah tanah, baja, beton atau padatan yang didesain untuk dapat menahan rembesan pada tekanan hydrostatiknya yang maksimum.

Saya kira design impounding dan dikes tidak berbeda baik dari material maupun daya tampungnya.

Semoga menjelaskan.

Share This