Select Page

Ampere yang dikonsumsi oleh motor penggerak pompa adalah merupakan indikator dari daya (power) yang diperlukan untuk menggerakan pompa untuk menjalankan fungsinya plus inefisiensi transfer daya serta inefisiensi mekanik seperti adanya gesekan pada bearing, turbulensi aliran, power loss pada coupling, power loss pada motor yang mungkin akibat kondisi kumparan rotor yang sudah cacat, dan sebagainya. Sedangkan daya untuk menjalankan pompa sesuai dengan fungsinya adalah tergantung dari berat fluida yang dipindahkan setiap detiknya (masa jenis di kalikan dengan kapasitas aliran (Q)), jarak yang ditempuh oleh fluida (berbanding lurus dengan Head, H), dan tentu kekentalan fluida. Jadi ampere motor akan tergantung dari operating point pompa dan inefisiensi sistem.

Tanya – Fachry

Rekan rekan saya ingin mohon ilmunya…

Bagaimanakah hubungan antara flow fluida pompa dengan ampere motor (penggerak pompanya) ?

Apakah selalu berbanding lurus atau bagaimana ?

Tanggapan 1 – asuyanto

Fachry,

Saya asumsikan kamu ngomong ttg pompa sentrifugal.

Dalam keadaan steady state, debit pompa selalu berbanding lurus dengan ampere motornya dengan asumsi tegangan dari power dan efisiensi sistem tidak berubah.

Dalam keadaan operasional, pola ini akan berantakan karena dipengaruhi keadaan sekitarnya, contohnya : bisa saja motornya berputar dengan amper tinggi tapi tidak ada flow karena pompa berada dalam kondisi dead head.

Tanggapan 2 – Freddy Valensky @singgar-mulia

P= Rho x g x Q x H Daya yang dibutuhkan untuk memindahkan fluida

P = V x I Rumus hubungan Arus dengan Daya

dimana:

rho=massa jenis fluida

g= gravitai bumi

Q=debit alir

H= total Head Loss

P=Daya

V=Tegangan Motor

I= Arus

Jika kita subtitusi terlihat bahwa kapasitas yang dialirkan berbanding lurus dengan Daya yang dibutuhkan.
berarti jika kapasitas fluida meningkat maka daya yang dibutuhkan juga akan naik dikarenakan loadnyabertambah.. nah dengan naiknya daya berarti arus yg dibutuhkan juga meningkat.

Jadi… bukan berbanding lurus dengan laju alir melainkan dari Kapasitas alir ( jumlah fluida yg akan dialirkan).. Karna kalo laju fluida pada pompa jarang kita rubah, hanya feeding pada suctionnya saja yang sering kita atur dengan cara mengatur bukaan valve inlet ke pompa tsb…. semain banyak feeding kita berikan maka kerja pompa/motor akan semakin berat. logikanya begitu pak.. :).

Dilapangan juga sering saya perhatikan.. bahkan menjadi salah satu indikator jika pada panel terlihat amper motor menurun… maka pasti feeding fluida pada sisi pump suction pasti terjadi kendala…

Demikian pak fachry …mohon direvisi jika salah.

Tanggapan 3 – asuyanto

Pak Freddy,

Kalau menurut saya, kalau fluidanya 100% liquid, maka tidak akan ada perbedaan apakah kita bicara ttg laju (v) atau debit (Q) karena liquidnya inkompresibel, selama aliran fluida memenuhi seluruh permukaan diameter pipa (A).

Yang kedua, yang saya tahu sistem pompa biasanya diatur di sisi outletnya bukan pada suctionnya. Ini untuk menghindari kavitasi bilamana debit air berkurang, disinilah pengontrol recycle mulai berfungsi.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan Bulan November 2007 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This