Select Page

Berdasarkan data dari ASTM A249 ‘Standard Specification for Welded Austenitic Steel Boiler, Superheater, Heat-Exchanger, and Condenser Tubes’ tertera bahwa jenis material austenitik stainless steel untuk jenis 316 ter-listing hanya TP (Tube Pipe) 316, 316H, 316L, 316N & 316LN. Untuk Kode H menunjukan bahwa material tsb baik sekali dipakai untuk temperatur tinggi, kode ‘L’ (316L) untuk material dengan komposisi kimia ELC (Extra Low Carbon), sedangkan kode ‘N’ (316N) adalah untuk jenis material dengan penambahan (addition)Nitrogen (N2). Namun untuk 316LS2 tidak ada dalam listing tersebut.

Tanya – IN S999

Dear all,

>Mohon informasi tentang perbedaan material tube heat exchanger A249-TP316L dengan A249-TP316LS2. Mohon sharing data ASTM-nya bila ada yang punya.
Terima kasih.

Tanggapan 1 – ir_winarto

Dear INS,

FYI, berdasarkan data dari ASTM A249 ‘Standard Specification for Welded Austenitic Steel Boiler, Superheater, Heat-Exchanger, and Condenser Tubes’ tertera bahwa jenis material austenitik stainless steel untuk jenis 316 ter-listing hanya TP (Tube Pipe) 316, 316H, 316L, 316N & 316LN. Untuk Kode H menunjukan bahwa material tsb baik sekali dipakai untuk temperatur tinggi, kode ‘L’ (316L) untuk material dengan komposisi kimia ELC (Extra Low Carbon), sedangkan kode ‘N’ (316N) adalah untuk jenis material dengan penambahan (addition)Nitrogen (N2). Namun untuk 316LS2 tidak ada dalam listing tersebut.

Menurut saya, kode ‘S2’ yang ditambahkan pada 316L adalah kode yang menyatakan bahwa material tsb memerlukan persyaratan tambahan (supplementary requirements) yang umumnya diberi kode dengan items ‘S’. Dalam persyaratan tambahan di ASTM A249 terdapat 9 peryaratan tambahan (supplementary requrements) dan untuk yang S2 menyatakan:

S2. ‘Minimum Wall Tubes’ : When specified by the purchaser, tubes shall be furnished on a minimum wall basis. Such tubes shall satisfy the minimum wall thickness requirements of Specification A 450/A 450M rather than the nominal wall requirements of this specification. In addition to the marking required by Section 18, the tubing shall be marked S2.

Beberapa literatur di internet mungkin bisa berguna :

http://www.thefabricator.com/TubePipeProduction/TubePipeProduction_Article.cfm?ID=131

http://www.e-pipe.co.kr/eng/ASTM/A249.htm

http://www.techstreet.com/cgi-bin/detail?product_id=1182653

Demikian semoga informasi ini bermanfaat.

Tanggapan 2 – IN S999

Dear Pa’ Win.,

Terima kasih atas penjelasannya, tapi ada sedikit tambahan pertanyaan dari saya,
Kami sebenarnya ingin mengganti tube material dari S/T HE yang dalam original specnya adalah 316LS2, setelah kami cek dengan X-ray analyzer, komposisinya memang dikategorikan 316L tapi ada Ti 0.03% dan Cu 0.44% serta Mo-nya 3.07% (sedangkan range standard di ASTM -316L 2%~3% Mo)
Mohon pencerahan tentang komposisi ini terhadap corrosion resistantnya.

Tanggapan 3 – Irfan Aditya

Pak,

Sedikit mau menambahkan. Memang grade 316 ini banyak sekali dimodifikasi untuk berbagai keprluan dalam aplikasi yang berbeda2. Ada yg ditambahkan Ti, Mo, Nb, Cu dll.

Jika ditilik dari formula ketahanan korosi pitting, maka Mo memberikan pengaruh terhadap ketahanan korosi pitting. Namun perlu juga diketahui kondisi operasi seperti apa fluida yg lewat, temperatur dll.

Tanggapan 4 – ir_winarto

Dear INS,

Untuk menjawab pertanyaan saudara mengenai pengaruh unsur-unsur Mo, Ti dan Cu dalam baja tahan karat austenitik 316L, dapat saya jawab sbb:

Molibdenum pada hakekatnya meningkatkan ketahanan baik terhadap korosi lokal (seperti pitting, crevice dll) dan korosi merata. Mo juga sebagai unsur yang mempromosikan struktur ferritic (ferrite former) seperti chrom. Ketahanan baja tahan karat austenitik terhadap korosi sumuran (pitting) akibat keberadaan ion klorida (Cl), dapat ditingkatkan melalui penambahan unsur-usnsur seperti krom (Cr), Molybdenum (Mo) dan Nitrogen (N). Untuk mengetahui ukuran ketahanan baja tahan karat terhadap korosi sumuran (pitting) biasanya dipakai persamaan PREN (Pitting Resistance Equivalent Number) yang rumusnya sbb: PREN = Cr + 3,3 x Mo + 16 X N.
Dari data komposisinya, nilai PREN untuk jenis 316 atau 316L sekitar 24 s/d 26, nilai ini lebih baik dibandingkan dengan Type 304 (PREN sekitar 19,0). Hal ini disebabkan oleh keberadaan unsur Mo dalam 316L sekitar 2 – 3%. Dengan meningkatnya kandungan Mo seperti pada jenis 317 (dan 317L), dimana Mo-nya antara 3-4%, misalnya 3,1% Mo maka PRENnya menjadi = 29,7. Nilai PREN semakin tinggi maka ketahanan terhadap korosi pitting akan semakin baik (meningkat).

Selain itu besarnya temperatur operasi juga berpengaruh terhadap ketahanan korosi baja ini. Untuk itu digunakan nilai CPT (Critical Pitting Temperature) dimana data untuk setiap jenis baja tahan karat diperoleh melalui pengujian dengan menggunakan standard ASTM G48A yaitu pengujian dengan menggunakan larutan 6% FeCl3 selama 72 jam. Dari literatur umumnya nilai CPT 316 atau 316L sekitar 59 deg Farenheit (15 deg Celcius) sedangkan CPT untuk 317/317L sekitar 66 F (19 deg C). Jadi Semakin tinggi kandungan Mo-nya, maka semakin meningkat CPT-nya.

Unsur Titanium (Ti) merupakan unsur pembentuk ferit yang kuat dan juga pembentuk karbida yang sangat kuat. Pada baja tahan karat austenitik, Ti berfungsi sebagai unsur penstabil (stabilizer) yang berfungsi menghambat atau mengurangi terjadinya korosi batas butir (intergranular corrosion – IGC), Selain itu Ti juga meningkatkan kekuatan mekanis pada temperatur tinggi.

Sedangakan unsur Tembaga (Cu) berfungsi meningkatkan ketahanan korosi dalam larutan asam tertentu dan juga sebagai unsur yang mempromosikan struktur austenitic (gama) seperti unsur nikel, dimana kelompok unsur ini digunakan dalam diagram schaeffler yang dimasukan dalam persamaan Nickel equivalent = %Ni + 30 x (%C + %N) + 0.5 x (%Mn + %Cu + %Co)
Selain itu unsur Cu juga digunakan untuk meningkatkan kekuatan mekanis material.

Dari data pengujian saudara yang menggunakan X-ray analyzer (seperti XRF) diperoleh Mo sebesar 3,07%, Ti = 0.03% dan Cu 0.44%. Dari pengujian tersebut nampaknya material tsb telah masuk dalam jenis 317. Menurut pendapat saya, pengujian dengan X-ray analyzer (XRF) secara umum tidak memberikan data komposisi secara keseluruhan mengingat kandungan karbon (C) tidak dapat dideteksi dengan alat tsb, sehingga sulit untuk menentukan apakan material tsb masuk katagori Extra Low carbon (ELC) dengan tipe 316L (C max = 0.03%) atau hanya 316 biasa ( C max = 0.08%).

Saran saya agar pengujian material OEM (original spec) saudara lebih jelas dan kurat, maka lebih baik saudara menguji material tsb dengan menggunakan metoda ‘Spark-Spectrometry’ dimana material tsb perlu diambil sampelnya dengan cara dipotong dengan ukuran luas 2×2 cm saja dan selanjutnya dibawa ke lab untuk ditembak dengan alat tsb. Hasil pengujian akan diperoleh unsur-unsur yang lebih banyak dan akurat (umumnya terdeteksi sekitar 14 unsur) dan datanya bisa dibandingkan sesuai dengan spesifikasi standar ASTM A-249. Maaf bukan promosi, FYI, di lab kami di metallurgi UI ada alat spark-spectro yang dapat melakukan hal tsb.

Untuk mengetahui ketahanan material SS austenitik 316, 316L 317 dan 317L dapat didownload pada alamat dibawah ini:

http://www.stal.com.cn/pdffile/316316l317317l.pdf

Demikian informasi dari saya semoga bermanfaat.

Share This