An example of absorption dehydration is known as Glycol Dehydration. In this process, a liquid desiccant dehydrator serves to absorb water vapor from the gas stream. Glycol, the principal agent in this process, has a chemical affinity for water. This means that, when in contact with a stream of natural gas that contains water, glycol will serve to ‘steal’ the water out of the gas stream. Essentially, glycol dehydration involves using a glycol solution, usually either diethylene glycol (DEG) or triethylene glycol (TEG), which is brought into contact with the wet gas stream in what is called the ‘contactor’. The glycol solution will absorb water from the wet gas.

Tanya – Kautsar Amru

Dear all,

Salam kepada bapak2 dan ibu2 sekalian yg professional dan memiliki banyak pengalaman di dunia oil and gas dalam mailist ini.

Saya adalah engineer yg masih hijau, muda, dan belum begitu banyak pengalaman di dunia oil and gas ini.

Ketika saya berdiskusi dengan teman saya mengenai gas treatment hasil dari pengeboran oil lebih lanjut, muncul ide untuk mengganti dehidrasi glykol untuk menyerap kandungan air dalam gas (proses absorbsi) dengan menggunakan silica gel (proses adsorbsi). [company kami masih pake proses glycol dehisration sbgmana pada umumnya].

Bagaimanakah kiranya tanggapan, komentar ataupun masukan dari bapak-ibu sekalian?? (Ohya major produksi company kami masih berkonsentrasi pada oil, sehingga gas terkadang lbih digunakan sbagai gas Lift, LPG, dan PLTG. belum menjual gas. Namun saya ingin berinovasi dalam masalah gas treatment ini).

Balasan dari bapak-ibu semua di mailist ini saya harap selalu.

Tanggapan 2 – ronggo ahmad

Dear Om Amru,

Salam jumpa kembali..

Om Amru, pada tiap pemilihan strategi sistem pemroses, pasti sudah memiliki landasan filosofi (design philosophy) mengapa suatu desain proses itu dipilih.

Proses absorbsi dipilih sebagai sistem pemrosesan penghilangan air pada aliran gas alam karena kandungan air dalam aliran gas alam terebut cukup banyak (sekian lb/MMSCFD misalnya). Sehingga sistem proses absorbsi cocok untuk menghandle persyaratan proses untuk hal ini, karena dengan menggunakan proses absorbsi antara glikol-air, maka glikol yang dibutuhkan sangat memadai untuk setiap satuan massa air yang tersingkirkan dari aliran gas alam.

Penggunaan glikol akan lebih menghemat biaya investasi alat (dan serta biaya operasional) rather than using proses adsorbsi, karena dengan menggunakan proses adsorbsi, tentu saja anda harus menghilangkan kembali (meregenerasi) kandungan air yang terserap dari dalam pori-pori silica gel menggunakan aliran gas kering yang telah dipanasi sebelumnya diatas dew point air pada kondisi proses adsorbsi tsb. Kemudian jumlah silica gel/adsorben yang dibutuhkan pada tiap satuan laju alir volumetrik gas alam pasti juga besar, karena bisa saja kandungan air dalam gas alam tersebut berjumlah cukup besar.

Selain itu, proses adsorbsi dengan melibatkan regenerasi adalah suatu jenis proses partaian (batch) yang lebih tidak disukai dibanding proses kontinyu pada proses absorbsi menggunakan glikol yang telah berjalan sejauh ini pada Gas Processing Facility di tempat anda bekerja.

Mungkin saudara Amru bisa memverifikasi filosofi desain di plant anda dengan kondisi aktual yang ada di lapangan saat ini, apakah jumlah air dalam aliran gas alam saat ini sudah menurun dibanding kondisi saat unit absorbsi glikol tersebut masih didesain ?
Coba dilihat kembali berapa jumlah kandungan air pada aliran gas alam semula pada saat unit absorbsi itu dibangun, apakah sudah cocok dengan aplikasi glikol dehydrator tersebut ? jangan2 kandungan airnya cuma 1 lb/MMSCFD, airnya dihilangkan dengan menggunakan
glikol dehydrator…bisa2 unit processnya tidak match dengan kebutuhan processnya, bisa boros energi dan inefisien.

Tanggapan 3 – Nurfathoni

Sekedar menambahkan sedikit….

Juga harus dipertimbangkan siapa konsumen dari sales gas kita, apakah itu untuk fuel, untuk Ammonia Plant or untuk LNG plant…

Biasanya untuk di proses hulu, TEG lebih jamak digunakan, mengingat secara cost lebih murah, juga target dehidrasi x lb/MMSCF H2O- nya ‘relatif’ agak ‘tinggi’ let say 10 lb/MMSCF.. Cuman karena process absorpsi, maka kondisi operasi untuk kondisi optimum perpindahan massa air dari Gas ke glikol lebih berpengaruh.. Dibanding dengan menggunakan process adsorpsi, let say mol sieve dryer, dia lebih bisa ,mencapai target penghilangan air yang lebih tinggi (bone dry), makanya teknologi ini lebih sering digunakan di LNG Plant yang bener2 tidak mentolerir adanya moisture, karena adanya operasi kriogenik.. Tentunya seperti dibahas sebelumnya , dia juga ada proses regenerasi desicant padatnya dengan regeneration gas (HC gas yang dipanaskan), tentunya konsumsi energi ‘bisa’ lebih tinggi dari penggunaan TEG.. Di samping itu tentu diperlukan unit yang lebih dari satu, saat ada unit yang online, maka unit yang lain dalam kondisi regenerasi.. Juga secara sistem kontrol, akan lebih rumit, karena tiap unit mempunyai mode in service- depressuring/heating-regeneration-cooling/repressuring- untuk kembali in service…

Pemilihan2 tersebut di atas tentunya memperhatikan kondisi raw gas kita, dan spesifikai (requirement) dari sales gas tersebut…

Di samping menggunakan TEG kontaktor kolom untuk glycol de-h2O, (biasanya MEG+methanol)juga dapat diinjeksikan langsung pada wet gas, dankemudian di downstreamnya dipasang separator untuk menangkap glikol+air dari gas tersebut…

Tanggapan 4 – ronggo ahmad

Terima kasih atas tanggapan dari mas Fafank,

Secara umum saya sependapat dengan analisis pemilihan proses yang diajukan anda. Namun ada paragraf yang mau saya koreksi :

‘ Di samping menggunakan TEG kontaktor kolom untuk glycol de-h2O,
(biasanya MEG+methanol) juga dapat diinjeksikan langsung pada wet gas, dan kemudian di downstreamnya dipasang separator untuk menangkap glikol+air dari gas tersebut…’

Untuk ‘menangkap’ glikol+ air tidak menggunakan separator, namun glikol yang telah mengikat air tsb di regenerasi kembali di kolom regenerator. Kolom regenerator ini berprinsip kerja seperti kolom distilasi untuk memisahkan glikol dengan air dan air dilepas ke atmosfer sebagai uap air.

Sekian dulu sedikit koreksi dari saya.
Selamat mempelajari process lebih dalam kembali.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia bulan November 2007 ini dapat dilihat dalam file berikut: