Topik yang sangat menarik tentang fuel requirement yang diminta machinery vs available fuel yang ada di lapangan. Kadang kadang dilapangan senangnya action melulu tanpa membuat suatu assesment yang agak lengkap. Baru sebulan turbine dipake dapat laporan turbinenya topping terus, jadi gas yang diangkut berkurang, setelah kasak kusuk berhari hari plus boroskop ketahuan combustor sudah jadi keripik, apa mau dikata.

Tanya – Muchlis Nugroho

Bapak2 dan Ibu2 numpang tanya,

Jika saya punya 2 sumber fuel gas (A dan B). Gas A memiliki LHV dan Wobbe index yang lebih tinggi dibandingkan dengan Gas B dengan perbedaan cukup tinggi (lebih dari 15%).

Bisakah kedua gas saling interchangeable sebagai bahan bakar sebuah GTG tanpa merubah burner tip? Misalnya dengan menyeting tekanan fuel gas supply (sebatas gas ke GTG package battery limit, tekanan dalam combustion chamber tetap terkontrol otomatis oleh instrumentasi GTG package) ketika menggunakan gas B lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan supply saat menggunakan gas A.

Terimakasih sebelumnya,

Tanggapan 1 – Nurfathoni

Pak Nuchlis,

Wobbe index adalah fungsi dari komposisi dan temperatur Gas, so apablila Bapak mempunyai dua sumber yang berbeda, solusinya adalah mencampur antara Gas yang WI besar dan kecil sehingga meet dengan WI requirement dari GTG…

Pengalaman saya mendesain Fuel Gas untuk GTG (juga requirement dari GTG manufacture itu sendiri) nilai WI yang diijinkan adalah +/- 5 % dari nilai requirement WI dari GTG tersebut… (kebetulan waktu itu di proyek kami adlaah GE Nuovo Pignone Frame 5.

Kadang2 ada juga di fuel gas line supplynya dipasang heater/cooler untuk mengatur Wobbe Index dari Fuel gas Supplynya…

Begitu Pak, semoga membantu…

Tanggapan 2 – Restoto

Pak Budhi,

Mungkin article berikut ini bisa membantu menjawab pertanyaan dari milis ttg fuel gas dan wobbe index pada gas turbine.

Terima kasih and wass,

Tanggapan 3 – roeddy setiawan

‘Dear Millis,

Topic yang sangat menarik nih, tentang fuel requirement yang diminta machinery vs available fuel yang ada di lapangan. Kadang kadang dilapangan senang nya action melulu tanpa membuat suatu assesment yang agak lengkap. baru sebulan turbine dipake dapet laporan turbine nya topping terus, jadi gas yng diangkut berkurang, setelah kasak kusuk berhari hari plus boroskop ketahuan combustor sudah jadi keripik, apa mau dikata.

Wobe index adalah ratio dr LHV (heating value) thd spec grav dr fuel , sebenarnya yang diinginkan combustor (turbin) kalau wobe index nya sama bisa saling substitusi. somehow saya sering dengar profesional di turbine gas bilang yah kira kira beda 10 % kata nya okay.di substitute tanpa harus kutak kutik ke combustor, fuel control system dan injector gas orifice yang terpasang.

Tapi pendapat saya wobbe index itu harus berbanding terbalik dg luas lobang orifice, maksudnya supaya heat flux yang diberikan ke combustor tetap sama sesua dengan design. (saya lupa berapa heat flux yang akseptable ) heating value yang terlalu besar tanpa merubah/tuning fuel control system, sudah pasti usia pakai turbine sudah pasti tidak sebaik yang nurut nurut saja. kalau turbine yang nurut bisa sampai 35,000 firing hrs, yang senang pakai LHV tinggi barangkali combustor nya sudah jadi keripik pd say 15000 firings hrs.

Hal yang sama misalnya kalau diminta supaya memanfaatkan lean gas dr gas bio.. Lha gas ini kurang lebih lhv nya hanya sepertiga dr yang di recomm, tanpa adjustment yah mungkin turbin bisa hidup saja tapi ngangkat beban transient ngak bisa respond. jadi supaya heat flux nya sama luuas injection gas orifice harus lah tiga kali nya. kira kira kasaranya begitu.

Sebetulnya masih ada parameter lain yang harus dilihat dengan jeli, dalam hal fuel quality supaya kita bisa extend usia pakai turbin tsb. misalnya fuel yang ada merkaptan dan h2s akan mengakibatkan korosi di komponen yang kena lengas , kalau dari awal sudah pasti akan pake fuel yang busuk nya ngak ketulungan ini, barangkali stainless steel dg ditambah coating bisa dimintakan untuk bagian (kritical section) yang akan dilalui sour gas ini. Kalau kita diminta menggunakan refinery waste gas yng biasanya ada h2 nya , safety & pressure integrity dr fuel system harus di extra dan extra, karena h2 ini gampang mlobos ke sana sini, serta autoignitionya cukup redah , jadi pas lah harus extra extra dan extra lagi reviewing fuel control system dan orifice nya .

Untuk fuel yang diperoleh dari coal bed methane, juga hrs xtra, xtra dan xtra. masalahnya fuel tsb diperoleh dg cara dihisap dg blower, atau vacuum pump. otomatis udara atau poket2 udara (jaman dulu kala) kebawa juga . nah premix ini punya masalah tesendiri. pendapat saya quality control dan sensor oxigen harus ada didalam package plus fluidaa lain untuk maintain mixture itu selalu ada pada level jauh diatas flamability limit pada temperature dan pressure say untuk turbine kan 185 psig plus temp nya. kalau ,kalau sudah ketemu angkanya, lebih baik lagi ditambah allowance yang cukup supaya kemungkinan explosion tidak mungkin terjadi.