Select Page

Saya mohon bantuan dan pencerahan untuk masalah Radiography Testing : 1. bagaimanakah rumus untuk menghitung waktu peluruhan isotop yang dipakai sebagi source kamera RT?; 2. bagaimanakah cara menghitung jarak aman paparan radiasi bagi non pekerja radiography?; 3. panduan untuk Safety dalam hal Radiography bisa saya dapatkan di situs apa ya?; 4. dimana saya dapat training untuk menjadi Petugas Pengam Radiasi (PPR) ?

Tanya – d_oktoberliant

Dengan hormat,

Pak Budi dan bapak2 semua, saya mohon bantuan dan pencerahan untuk masalah Radiography Testing :

1. bagaimanakah rumus untuk menghitung waktu peluruhan isotop yang dipakai sebagi source kamera RT?

2. bagaimanakah cara menghitung jarak aman paparan radiasi bagi non pekerja radiography?

3. panduan untuk Safety dalam hal Radiography bisa saya dapatkan di situs apa ya?

4. dimana saya dapat training untuk menjadi Petugas Pengam Radiasi (PPR) ?

Mohon bantuannya…

Tanggapan 1 – M. Teguh

Pak Duddy,

1. waktu peluruhan menjadi 1/2 dari jumlah awal (disebut waktu paruh) tergantung isotopnya. Misal Ir 192 waktu paruh 74 hari. Kalo beli 100 Curie, maka dalam 1 tahun (365 hari) sisanya = 100 (0.5)^(365/74) = 3.125 curie. makin kecil dayanya makin lama waktu untuk nembak (RT) untuk ketebalan yang sama.

2. tergantung source nya. kita bisa menggunakan survey meter/dosimeter untuk mengukur paparan radiasi dan mengecek jarak aman. kalo gak salah 0.75 mshivert/jam. jadi, makin besar source, makin jauh jarak aman yang diperlukan.

3. kalo tidak salah di Batan Serpong bisa.

Tanggapan 2 – soedardjo soedardjo@batan

Teman-teman BATAN lainnya mohon mengoreksi dan menyempurnakan.
Umur paro radiasi berbeda terhadap umur paruh binatang.

1. Lihat di

http://www.batan.go.id/Kamus/h.htm dan http://www.batan.go.id/Kamus/d.htm, serta di http://www.batan.go.id/ensiklopedi/cari_dtds.php

2. Lihat di http://www.batan.go.id/ensiklopedi/cari_dtds.php

3. Sementara silahkan melihat di http://www.batan-bdg.go.id/upload/files/Pengendalian%20Radiasi.pdf
http://www.batan-bdg.go.id/K2/ModulRingkas.pdf
Dengan google search banyak sekali diketemukan yang berkaitan dengan safety Guide dari IAEA.

4. PUSDIKLAT batan, hubungi kars@batan.go.id, atau http://www.batan.go.id/pusdiklat (detik ini sedang macet)

Maaf jawaban singkat, karena internet sering trip.

Tanggapan 3 – bandi sabandi

1. rumus peluruhan At = Ao ln e (0.893/T )x t

At = aktivitas setelah half life

Ao=aktivitas awal

T= waktu paruh isotop (Half life)

t= waktu

2.jarak paparan bisa dihitung dengan square law equation

D1 x I1 = D2 x I2 D1 = Jarak awal ( utk 1 meter ) D2= Jarak setelah berubah posisi I1=paparan radiasi pada 1 meter , I2 =paparan radiasi pada posisi jarak D2

3.PPR course dilakukan oleh BATAN dan BAPETEN hubungi batan di Pasar jumat jl. cinere pasar jumat bag. Training.

Tanggapan 4 – soedardjo@batan

Saya kira jawaban nomor 2 belum menjawab secara tuntas. Kita kembali ke pertanyaannya dahulu:

2. bagaimanakah cara menghitung jarak aman paparan radiasi bagi non pekerja radiography?

Inti pertanyaannya adalah jarak aman paparan radiasi bagi NON pekerja radiasi.

Padahal untuk bekerja secara aman terhadap sumber radiasi, tidak hanya melulu berhubungan dengan jarak. dengan jarak sedekat mungkin, namun dikerjakan dengan waktu sesingkat mungkin, dan menggunakan bahan proteksi radiasi yang lengkap, dapat juga aman bekerja di medan radiasi. Jadi faktor aman bekerja pada medan radiasi, tergantung kepada besarnya aktivitas sumber radiasi, waktu terpapar radiasi, proteksi radiasi (apron, hand glove) yang digunakan, jarak paparan (long tongs) dan lain sebagainya.

Pasal 17 ayat (5) huruf b Keputusan Ka. BAPETEN Nomor 08/Ka-BAPETEN/V-99, http://www.batan-bdg.go.id/upload/files/BDI_sk_08_99.pdf

Untuk pekerja radiografi tidak melebihi 25 mikro Sievert/jam (2,5 milli Rem/jam)

Untuk pekerja bukan pekerja radiografi tidak melebihi 7,5 mikro Sievert/jam (0,75 milli Rem/jam)

Untuk masyarakat umum tidak melebihi 2,5 mikro Sievert/jam (0,25 milli Rem/jam)

Jadi jika aktivitas sumber radiasi kecil sekali, kita boleh dekat sekali (jaraknya dekat) kepada sumber radiasi, asal laju paparan radiasinya tidak boleh melampaui ketentuan tersebut.
Kesimpulannya, radiasi itu memang berbahaya.
Namun jika kita dapat mengelolanya sehingga pekerja atau masyarakat umum mengetahui dengan jelas cara penangannya, maka semuanya akan aman-aman saja tanpa harus kita phobia terhadap sumber radiasi termasuk PLTN.

Tanggapan 5 – soedardjo@batan

Khusus jawaban no 2 dalam bahasa Inggris, silahkan membuka http://www.arpansa.gov.au/pubs/rhs/rhs31.pdf

Jarak aman tidak dihitung, tetapi diukur, dengan monitor radiasi.

Jika monitor telah menunjuk sama atau kurang 5mSievert atau 500 mrem dalam setahun, maka akan aman. silahkan dihitung sendiri ke laju dosis per jam, lihat http://www.batan-bdg.go.id/upload/files/BDI_sk-01-99.pdf butir 3.5

Tanggapan 6 – soedardjobatan@batan

Pada posting saya beberapa waktu yang lalu, menyatakan:

4. PUSDIKLAT batan, hubungi kars@…, atau http://www.batan.go.id/pusdiklat (detik > ini sedang macet).

Sekarang silahkan membuka di

http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/pengenalan_radiasi/default.htm

Share This