Select Page

Claystone/batulempung: Merupakan batuan sedimen (sedimentary rock) yang mempunyai ukuran butir clay/ lempung/sangat halus(< 0.004mm), tersusun oleh mineral2 lempung (clay minerals) dari group alumina silicates (Al, Fe, Mg, Si), seperti: kaolinite, montmorillonite, smectite, chlorite, ataupun illite.

Tanya – Iskandar Teguh

Ass..

Dear rekan-rekan migas,

Mohon pencerahaanya mengenai Basic Geology dan drilling;

1. Terbuat dari apakah batuan-batuan seperti Claystone, sandstone dan limestone?apakah mereka memiliki mineral yang sama?

2. Apakah dalam suatu batuan seperti sedimentary rock memiliki mineral yang sama?

3. Bagaimanakah porosity dan permeability dari masing-masing formasi seperti shale, limestone, claystone?

4. Pada saat proses pengeboran, apakah yang akan terjadi dengan RPM dan ROP apabila melewati formasi limestone dan shale?

Terima kasih atas informasinya..

Tanggapan 1 – Nataniel Mangiwa

1. Terbuat dari apakah batuan-batuan seperti Claystone, sandstone dan limestone?apakah mereka memiliki mineral yang sama?

– terbuat dari kuarsa, carbonates, calsium, magnesium, dlsb. Batuan tsb tidak memiliki mineral yg sama.

2. Apakah dalam suatu batuan seperti sedimentary rock memiliki mineral yang sama?

-tidak

3. Bagaimanakah porosity dan permeability dari masing-masing formasi seperti shale, limestone, claystone?

– hampir semua punya porosity dan permebility, tapi skalanya saja yg berbeda. ada yg tinggi dan ada yg rendah atau mendekati nol.

4. Pada saat proses pengeboran, apakah yang akan terjadi dengan RPM dan ROP apabila melewati formasi limestone dan shale?

Limestone: RPM, sedikit agak mengecil – sdgkn ROP, akan sangat lambat (<<<) Shale: RPM, akan normal (relatif thdp trend normal) - sdgkn ROP, akan cenderung lambat (<). Tetapi semuanya ini hanya bersifat relatif, artinya tetap harus ada pembandingnya.

Tanggapan 2 – Rovicky Dwi Putrohari

1. Terbuat dari apakah batuan-batuan seperti Claystone, sandstone dan limestone?apakah mereka memiliki mineral yang sama?

– terbuat dari kuarsa, carbonates, calsium, magnesium, dlsb. batuan tsb tidak memiliki mineral yg sama.

Kalau dirunut :

Quark -> Atom -> Unsur -> Senyawa -> Mineral -> Batuan

Setiap jenis batuan terdiri atas berbagai jenis mineral

Setiap jenis mineral terdiri atas berbagai jenis senyawa dst

Tanggapan 3 – Suderajat Adjid

Menurut saya dari yang saya baca dan bayangkan

4. lumpurnya apa pak ? Claystone menjadi ductile kalo nyerap air, ini berdampak pada ROP turun dan mungkin juga bisa RPM turun, sebaliknya kalo limestone.
ROP kalo tidak salah ingat banyak variablenya, dari batuannya properties dan hardness nya, WOB, BIT, RPM, pore pressure, dll.

Tanggapan 4 – jarot setyowiyoto

Mineral penyusun batuan berlain-lainan.

Claystone/batulempung: Merupakan batuan sedimen (sedimentary rock) yang mempunyai ukuran butir clay/ lempung/sangat halus(< 0.004mm), tersusun oleh mineral2 lempung (clay minerals) dari group alumina silicates (Al, Fe, Mg, Si), seperti: kaolinite, montmorillonite, smectite, chlorite, ataupun illite.

Sandstone/batupasir: Batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir pasir/sand dengan range 0.125mm-1mm (skala wentworth). Tersusun atas butiran (ini bisa berupa mineral maupun rock fragment). Butiran mineral (urut dari yang paling stabil-baik secara mechanical maupun chemical stability) yaitu: quartz (dan zircon, tourmaline), chert, muscovite, microcline, orthoclase, plagioclase, hornblende (dan biotite), pyroxene, dan yang terakhir olivine. Butiran yang lain bisa berupa heavy minerals (mineral berat) umumnya kandungannya kecil (sekitar1%) misal: apatite, epidote, garnet, rutile, staurolite, tourmaline, dan zircon. Butiran yang dari rock fragment bisa berasal dari volcanic maupun metasedimentary lithic fargment. Disamping butiran, batupasir juga tersusun oleh apa yang disebut sbg matrix dan cement. Nah dari sekian banyak mineral tsb yang umum dijumpai di batupasir adalah quartz, feldspar dan rock fragmen, tiga komponen inilah yang akhirnya oleh Pettijohn et al. (1975) dipakai sebagai dasar klasifikasi penamaan batupasir (disamping klasifikasi2 yang lain tentunya).

Limestone/batugamping: merupakan batuan karbonat (carbonate rock) yang terbentuk secara biological and biochemical processes. Batuan karbonat ini (by definition) harus tersusun oleh >50% carbonate minerals, yaitu: calcite (CaCO3 – rhombohedral), aragonite (CaCO3 – orthorhombic), dan mineral dolomite (Ca-Mg (CO3)2). Aragonite termasuk unstable minerals at surface temperature and pressure, shg jarang kita jumpai. Dari hal tersebut munculah 2 komponen penyusun yang penting yaitu calcite dan dolomite. Dari sini Boggs (1987) mengklasifikasi jika calcite nya >90% maka disebut Limestone, dan jika dolomite nya yang >90% disebut Dolostone, jika kurang dari itu hanya mensifati saja misal namanya menjadi Dolomitic limestone, dst.

Porositas sandstone banyak bertipe grain-porosity/intergranular porosity (porositas antar butitan), besar kecilnya porositas dipengaruhi oleh proses2 diagenesa, seperti faktor compaction pada depth of burial. Semakin dalam posisi batuan tersebut umumnya semakin compact, shg porositasnya juga semakin mengecil. Namur jika mengalami proses diagenesa ‘dissolution of unstable grain’ maka akan bisa memperbesar porositas. Untuk batupasir ini umumnya jika porositas meningkat maka permeabilitasnya juga akan meningkat. Namun belum tentu untuk yang berbutir halus (misal claystone atau shale), umumnya mempunyai porositas besar namun permeabilitasnya kecil, karena adanya capillary forces yang menghalangi mudahnya aliran fluida melalui small pore-throats.

Seperti kita ketahui bahwa besaran porositas ada 2macam, yaitu total porosity dan effective porosity, permeability sangat berhubungan dengan effective porosity (pore/ porositas yang saling berhubungan).

Porositas di batugamping sangat berbeda dibandingkan dengan batupasir, baik dari sisi type and distribution within a reservoir, shg pada carbonate kadang2 susah diprediksi kualitas reservoarnya. Pada batupasir meski proses diagenesa terlibat, namun parameter primary porosity dan proses pengendapapan sangat dominant menentukan, sedangkan pada carbonate banyak di drive oleh diagenetic porosity. Kita mengenal type2 porositas di carbonate seperti: vuggy, cavern, channel, stylolitic, burrow, boring, intra/inter-particle, inter-crystalline, dll. Sedangkan di batupasir hanya didomiansi oleh intergranular porosity saja. Sehingga pada limestone belum tentu pada posisi yang dalam (deep burial) akan mempunyai porositas yang kecil, tergantung proses diagenesa yang berlangsung disana, jika dissolutionnya berperan maka vuggy/porositas gerowong yang besar akan kita dapat.

Nah masuk pada proses pengeboran, disamping RPM dan ROP, parameter WOB (Weight on Bit) untuk teknik pengeboran juga dilibatkan. RPM dan WOB dikombinasikan untuk mendapatkan ROP (rate of penetration) yang optimum. Untuk claystone (soft-rock) umumnya digunakan increase RPM dan reduced WOB, sedangkan pada limestone (hard-rock) digunakan increase WOB dan decrease RPM.
Demikian, mungkin bapak2 drilling dapat menambahkan he..he..

Demikian, mudah2an penjelasan yang singkat ini dapat bermanfaat.

Share This