Pada saat ini sudah dikembangkan teknologi konversi kendaraan bermesin bensin dengan mengadopsi sistem sequential injection untuk mobil2 keluaran terbaru.Sedangkan untuk ‘kit’ standar dengan menggunakan regulator dan mixer sudah sangat umum digunakan. Untuk mesin diesel, dikenal dua sistem konversi yaitu Bifuel atau dikenal juga dengan DDF (Diesel Dual Fuel), yaitu gas dan solar digunakan secara bersamaan dengan rasio gas dengan solar antara 50-50 s/d 70-30 dan konversi 100% dedicated gas hal ini dilakukan dengan mengubah siklus diesel menjadi otto (untuk jenis ini jeroan mesin harus di-‘oprek’ diantaranya dengan penambahan sistem pengapian menggunakan busi dan penyesuaian compression ratio).

Tanya – cng.suparman

Teman2 KMI,

Saya mau usul untuk membahas mengenai dual fuel untuk mobil dan engines.
Saat saya melihat ngv asia pacific conference ke dua di bangkok, saya kagum denganmaju pesatnya teknologi dual fuel untuk mobil dan bifuel untuk diesel engine.

1. dual fuel untuk mobil, memungkinkan mobil untuk menggunakan 100% gas alam (NGV) dan bisa di switch ke bensin kembali secara manual maupun otomatis. tanpa mengubah enigne dipasang kit yang ternyata saat ini sudah mulai dicoba untuk taxi2 kita.

2. Bifuel engine, ini khusus untuk diesel engine. tanpa mengubah engine, dipasang kit sehingga pemakaian solar pada gas engine bisa berkurang sekitar 60% – 70%.

Saya yakin alat ini sangat kita perlukan dan dapat menjadi alternatif solusi pengatasi mahalnya BBM saat ini.

USUL: KITA MEMBAHAS ASPEK TEKNIS ALAT2 INI, ATAU MUNGKIN ADA ALAT2 LAINNYA YANG SERUPA DENGAN INI.

Tanggapan 1- Arthur Silalahi

Pak Suparman,

Kami selama ini sudah banyak menguji teknologi yg bapak bicarakan. Untuk mobil kami sudah menguji sistem dgn menggunakan LPG bukan CNG karena tekanan operasi LPG yg relatif lebih aman. betul sekali mobil bisa jalan dgn baik baik saat memakai gas dan bensin. perubahan mode dari gas-bensing atau sebaliknya juga tidak terasa karena sistem kontrol yg semakin baik. banyak merk yg siap beredar di pasaran dan semuanya memakai prinsip yg sama. hanya saja kalau sistem kontrol semakin canggih maka harga semakin mahal. kami sudah uji mobil dgn sistem ini sejauh 16 rb km. sesuai dgn standar pengujian uji jalan mobil menurut ASTM. Kalau untuk diesel sistemnya lebih rumit lagi. kami sudah pasang pada salah satu unit mobil uji kami. ada kontrol untuk mengatur aliran solar dan kontrol untuk aliran gas. untuk diesel aliran solar harus tetap ada karena dibutuhkan sebagai trigger untuk pembakaran gas. nanti kita bisa bahas lebih lanjut aspek teknis alat2 seperti ini.

ps: untuk diesel kita sudah melakukan reverse engineering loh pada komponen pressure regulator. harapan nya ke depan komponen ini bisa kita produksi sendiri.

Tanggapan 2- Danny

Pak Suparman dan KMI-ers lainnya..

Memang di tengah gonjang-ganjing harga minyak dunia dan merebaknya issue pengurangan subsidi BBM, gas mulai ‘kembali’ dilirik sebagai alternatif solusi untuk bahan bakar transportasi. Dilihat dari sisi kemanan suplai, teknologi, infrastruktur dan keekonomian memang gas khususnya gas alam merupakan sumber energi yang ideal sebelum kita melangkah ke energi terbarukan (non-fosil fuel).

Teknologinya sendiri sudah cukup terbukti dan aplikasinya di dunia sudah mencapai 7.1 juta unit kendaraan dengan populasi terbesar di Argentina, Pakistan dan Brasil (di atas 1 juta unit) –(IANGV 2007) disusul dengan Iran, Thailand dan India.

Pada saat ini sudah dikembangkan teknologi konversi kendaraan bermesin bensin dengan mengadopsi sistem sequential injection untuk mobil2 keluaran terbaru.Sedangkan untuk ‘kit’ standar dengan menggunakan regulator dan mixer sudah sangat umum digunakan.

Untuk mesin diesel, dikenal dua sistem konversi yaitu Bifuel atau dikenal juga dengan DDF (Diesel Dual Fuel), yaitu gas dan solar digunakan secara bersamaan dengan rasio gas dengan solar antara 50-50 s/d 70-30 dan konversi 100% dedicated gas hal ini dilakukan dengan mengubah siklus diesel menjadi otto (untuk jenis ini jeroan mesin harus di-‘oprek’ diantaranya dengan penambahan sistem pengapian menggunakan busi dan penyesuaian compression ratio) , for further info feel free to contact me..

Kami sebagai salah satu stakeholder yang berkepentingan di industry gas khususnya CNG sangat mendukung jika rekan2 KMI bersedia untuk membahas aspek teknis dari peralatan2 CNG, salah satu yang menyebabkan CNG tidak berkembang adalah ketidaktahuan masyarakat umum tentang aspek teknis dan sayangnya itu juga dirasakan di level pembuat kebijakan. Sebagai gambaran Landi Renzo (kit) dan Faber (tabung) sebagai produsen yang paling dipercaya oleh dunia internasional ‘dilarang’ untuk digunakan di Indonesia. Mereka dianggap bertanggung jawab atas beberapa insiden ledakan yang terjadi di Jakarta, tanpa penjelasan secara detail tentang root- cause dari insiden tersebut yang menurut analisa beberapa ahli dan merujuk pada standar ISO 11439 adalah disebabkan oleh tingginya kandungan air pada gas kita. (tentunya para ahli korosi di KMI dapat menjelaskan lebih detail dan akurat tentang mekanisme terjadinya SSC dan korosi sumuran pada kondisi tekanan tinggi sampai dengan 200 bar dengan adanya unsur H2S, CO2 dan Air pada tabung).

Selain itu yang ingin sedikit saya luruskan dari pak Arthur,adalah baik LPG maupun CNG mempunyai karakteristik safety yang berbeda, meskipun demikian bukan berarti salah satu atau kedua2nya tidak aman sehingga tidak layak untuk digunakan hanya prosedur handlingnya harus diperhatikan . Tekanan kerja pada CNG memang cukup tinggi (200 Bar untuk kendaraan bermotor –> ISO 11439 dan 250 Bar untuk storage –> ISO 9809), akan tetapi instalasi CNG juga dilengkapi dengan berbagai pengaman seperti adanya bursting disc di setiap cylinder valve, test pressure pada 300 Bar dan Burst test cylinder yang harus dilakukan min 450 Bar (according to ISO 11439-2000). karakteristik CH4 yang lebih ringan dari udara menyebabkan apabila terjadi kebocoran gas akan segera terlepas ke udara sehingga tidak terjadi konsentrasi yang dapat menimbulkan nyala api.

Pada LPG, tekanan yang digunakan memang lebih rendah 8 bar, akan tetapi jika terjadi kebocoran karena karakteristiknya yang lebih berat dari udara akan lebih mudah menyebar dan terbakar.

Jadi baik CNG ataupun LPG saya rasa patut untuk dikembangkan hanya aspek teknis dan safety dari kedua2nya perlu untuk disosialisasikan sesuai porsinya. Demikian yang bisa saya share…

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan Bulan Desember 2007 ini dapat dilihat dalam file berikut: