Select Page

Teori peak oil hanya berlaku pada saat tertentu. Contoh: Pada suatu kasus, OPEC sempat menyatakan oil yg beredar aman dan dapat mengimbangi konsumsi dunia. Tapi kenapa harga minyak kok terus naik? Faktor nonteknis/nonfundamental cenderung/kadang kala sangat berpengaruh (apalagi seperti kata Putin: Dunia udah punya banyak kutub/multipolar).

Tanya – Nurwanto, Tomy (Jakarta)@WorleyParsons

Pak Budhi S.,

Berhubung pak Budhi admin milis migas Indonesia dan juga alumni dari worleyparsons (hehe), saya punya pertanyaan titipan dari temen saya mengenai teori peak oil (teman saya ini masih kuliah di jurusan Hubungan International, sedang menyusun tugas akhir). Mungkin kalau pak budhi berkenan atau sekiranya memiliki artikel tentang hal ini, bisa di share ke saya? Berikut ini sedikit pertanyaan teman saya mengenai peak oil tersebut:

1. Apakah orang2 di industri minyak sendiri sebenernya percaya dengan teori peak oil ?

2. Kira2 bagaimana pandangan pemerintah AS sendiri ttg peak oil?

Attachment : Emergence of the new oil price paradigm.pdf

Tanggapan 1 – Bagya Nugraha

Saya lg utak-atik hp dan nemuin topik ini. Menarik juga buat saya. Dua pertanyaan sederhana, tapi kayaknya jawabannya luas dgn beragam sisi pandang. Untk jawaban atas pertanyaan pertama: Jangan terlalu memakai/mematok 1 teori. Teori peak oil hanya berlaku pada saat tertentu. Contoh: Pada suatu kasus, OPEC sempat menyatakan oil yg beredar aman dan dapat mengimbangi konsumsi dunia. Tapi kenapa harga minyak kok terus naik? Faktor nonteknis/nonfundamental cenderung/kadang kala sangat berpengaruh (apalagi seperti kata Putin: Dunia udah punya banyak kutub/multipolar). Intinya, saya percaya 50:50 terhadap teori peak oil. Untk jawaban atas pertanyaan yg kedua, us goverment (mungkin) terlihat seperti sikap saya; 50:50. Mereka masih menggenjot ekspansi untk peroleh minyak dan bersaing dgn china. They do anything to get oil resources. Lewat perang hingga support IOC mereka. Di sisi lain, mereka antisipasi peak oil dgn kembangkan semua energi alternatif; mulai dari angin,nuklir,hingga biofuel/ethanol.itu hebatnya mereka.

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

Dear Pak Admin,

Saya pendukung pendapat /teori Peak Oil, sudah jadi hukum alam/nature yang sekarang hot dg berkembang nya peradaban kita, pengetahuan baru terbuka dl basic science, selanjutnya melahirkan technology subsitute atau yang belum pernah ada di society diadakan. society tentu saja harus mbayar technology tetapi relatively dibuat sedemikian rupa sehingga afordable. antara riset,technologist,economist ,psiko-advertisment di mold sedemikian rupa, target dididik gratisan, di bom dg contoh2 tuh selebrity pake tiap hari tiap sore tanpa sadar target jadi percaya hrs pakai technology supaya seperti selebrities ,,,,, di fihak lain semua investment balik plus return tentunya.,,, moral dr sini jadi nya vague . entah rampok atau apa ya ??? atawa memang itu nama jaman bahela sekarang ya namanya sudah ganti dan itu legal end point tidak beda, dulu dan sekarang ujung nya sama uang pindah tangan.

Dulu kalo ke dokter, dia cuman bilang aaa, lihat lidah ketok sana sini sambil denger denger ambil pensil oret oret sudah. sekarang not anymore, apalagi di amrik tanpa tets ini itu,ngak bakalan ada tindakan. yang tadinya ngak ada diadakan.

Nah balik ke Peak Oil, saya yakin sharp jump dr sekitar 60 ke close 100 bbl kemarin2 ada hubungan dg berbagai analis yg, berpendapat ‘the peak’ is sooner than expected, tidak ada pemicu spt bush mau menyerbu iran dll. berbeda dg saat Gulf war pertama dr 20 langsung 40, GW ke dua 40 jadi 60, setelah selesai there was Katrina, lowest stock in US, after Katrina all refi in us perlu maintenance, texas refinery case, memicu refinery disana retard production buat check chek look look siapa tahu miss, shell trans alaska pipeline event event itu seperti in concert berurutan dan tentunya menahan harga minyak sekitar 60. Tapi di 60 ke 100 tak ada event yang real . opini saya hr mulai turun krn project2 yg sudah sprint dan accelerasi sejak tahun lalu mulai onstream. kalau kita tambah dg Paranoia, mungkinkah unsur conspiracy disini berperan. wah kata bang jampang wallohu alam katanya. Bisa saja pemain di Nimex dll mbayar writer untuk stimulate pasar atau bisa juga oil/gas operator yang nyuruh semua spekulatif. Jadi kapan dong ‘peak oil’ wah kalo mau jawab ala menko yang muter muter ah tergantung teknology, kejasama,pasar dll jelimet. tapi bagi saya . kalau saya tahu jawaban nya I be very rich man.

Contoh2 yang sudah peak, dulu kita dg bangga nya menulis di buku sekolah yang kita baca produser karet terbesar di dunia. sehingga ketoprak techno nya bikin SRI standard rubber Indonesia yang ngak bisa dipenuhi nya. sekarang SBR lebih disukai, ngak usah tanem,nunggu,miara, nbeli saja residue —> sbr.
Dulu hal yang sama dg timah, the bigest tin producer hanya kalah oleh kartel tin london sudah ngak ada perang, ngak ada yang beli timah, ada perang lagi, tapi perlunya bukan timah, sudah ganti, sekarang perlu nya misile ; pershing, tomahawk, agm4, durandal, sidewinder,,, misile. timah ngak laku. Valorism ?? kalau kita perhatikan, orang amrik itu sudah jadi pengecut semua, orang nya duduk2 di batleship jauh dr bau mesiu pijit tombol sambil minum kopi, tiba tiba hujan api diatas resimen irak, nilai valor nya sudah beda ya pak admin.
Dulu tembaga top, dr halo halo sd power transmisi, dandang perlu tembaga. sekarang ganti pasir dari mulai TV,chips,capacitor,resistor semua pasir
tembaga sama sperti karet timah juga sudah kurang laku ,,,,, tentunya minyak juga begitu bukan lagi hot comodity someday.

Share This