Select Page

Penggunaan Kamera dan HP di Plant Oil dan Gas tidak diperkenankan karena alat-alat (sensor) keamanan akan bereaksi terhadap lampu BLITZ dari kamera. Sehingga penggunaan kamera dengan lampu blitz sangat dilarang, karena akan membuat sensore bereaksi, dan seluruh plant mati (shut down) secara otomatis.

Tanya – ABDILLAH RAKHMAN

Dear Milister,

Pada saat kita melakukan site survey disebuah plant oil n gas, sering kali kita menjumpai peringatan tentang penggunaan camera n hp.
Kadang dibeberapa company utk penggunaan camera sangatlah ketat, contoh ditempat sy skg bkj, tidak diperkenankan memakai camera yg bkn milik company.
Sebagai pemain baru di oil n gas saya kurang memahami apa sebenarnya yg diantisipasi (secara proses) dari penggunaan barang tsb.

Tanggapan 1 – dharma trioko

Salam Pak Rakhman,

Saya juga pernah berkunjung ke salah satu plant oil & gas. Dan dengan kondisi yang sama, kamera saya juga tidak diperbolehkan untuk saya gunakan, namun mereka menyediakan kamera mereka untuk saya gunakan.

Berdasarkan pernyataan salah seorang petugas disana, alat-alat (sensor) keamanan disana akan bereaksi terhadap lampu BLITZ dari kamera. Sehingga penggunaan kamera dengan lampu blitz sangat dilarang, karena akan membuat sensore bereaksi, dan seluruh plant mati (shut down) secara otomatis.

Mungkin juga ada alasan lain.

Tanggapan 2 – ABDILLAH RAKHMAN

Betul sekali pa dharmo, saya jg pernah di jelaskan seperti itu oleh petugas plantnya.
That way saya tanyakan ke milister (secara proses) kenapa sih (detail) bisa sampai seperti itu.

Tanggapan 3 – Rudy Winarto

Pak,

Ada concern lain menurut saya. Yaitu, sebagian besar camera digital (saku) yang beredar bukan Instrically Safe (IS). Yang ditakutkan adalah adanya gas release yang tidak terdeteksi oleh Gas detector di plant, dan non-IS type pasti memiliki spark di switchnya lebih dari 10/100mA (tolong dikoreksi jika salah). Yang dihindarkan adalah, terjadi spark bersamaan dengan terjadinya gas release. Jadi seakan-akan disambar dan terjadi api. Makanya bbrp plant menyediakan camera yg casingnya explossion proof atau ada salah satu produssen laptop, yg mengeluarkan laptop explossion proof classification.

Tanggapan 4 – anto ryan

Pak Rudy,

Mengenai laptop explossion proof classification, apakah jikalau site visit ke plant oil & gas apakah dilarang membawa dan menggunakan laptop yang tidak comply dgn explssion proof tadi atau bagaimana specifikasi laptop tersebut.

Mohon pencerahan dari rekan-rekan semua.

Tanggapan 5 – Administrator Migas

Yah nggak selalu laptop biasa ditolak penggunaannya di platform, jangan khawatir. Dari puluhan platform yang saya kunjungi, belum pernah melihat satupun pekerja platform menenteng-nenteng laptop explosionproof. Padahal di setiap platform tersebut, terdapat puluhan laptop komersial yang digunakan untuk internet, email, dsb. Saya juga kalau site visit ke platform bawaannya yah laptop biasa, agar senantiasa bisa selalu memonitor Milis Migas Indonesia.

Selama penggunaan laptop tersebut di living quarter, control room atau safe area yang lainnya, laptop biasa boleh kok digunakan. Kecuali bila anda
melakukan aktivitas secara online di process area yang sedang aktif (hazardous area). Untuk kondisi ini baru dibutuhkan laptop yang explosion proof. Alasannya sama seperti pada diskusi sebelumnya mengenai penggunaan kamera di hazardous area, yang ditakutkan akan adanya kebocoran gas yang memasuki casing sehingga dapat menimbulkan ledakan. Untuk mengetahui bagaimana bentuk laptop yang explosionproof, silahkan dibuka attachment terlampir.

Oh ya mengenai kamera, ada salah satu assessment menarik yang dilakukan oleh departemen HSE di sebuah KPS.
Ternyata penggunaan kamera komersial yang waterproof dapat lulus untuk penggunaan di hazardous area.
Alasannya, air juga tidak dapat masuk ke dalam casing kamera, Its OK ?
Soalnya kalau mau nyari kamera yang explosionproof, harus beli dimana ?

Attachment : Laptop Explosion Proof.pdf

Tanggapan 6 – Yusuf Nugroho@rekayasa

Apakah cahaya blitz termasuk source of ignition bila ada gas leak? CMIIW

Tanggapan 7 – rd_gautama@fmi.com

Sepertinya sensor yang dipasang menangkap panjang gelombang tertentu sehingga memicu switch menjadi active.

Sehingga sinar lampu kilat kamera (yang berada di rentang panjang gelombang sensor tersebut) dapat mengaktivekan sensornya (saya orang awam tentang ini loh, hanya ber-logis ria saja, maaf kalo salah tanggapannya).

Tanggapan 8 – Weby

Mas Tamtam,

Anda betul, memang ada sensor deteksi api yang menangkap panjang gelombang tertentu sehingga memicu alarm keberadaan api, orang instrument biasanya menyebut sebagai Flame Detector.

Untuk pak Abdillah Rakhman sebagai penanya, selain yang sudah dijelaskan oleh rekan-rekan lain dengan bagus, kilatan lampu dari kamera bisa memicu Flame Detector bekerja. Flame Detector ini ada yang jenisnya mendeteksi gelombang Ultra Violet saja, sehingga bisa menghasilkan false alarm karena kilatan petir atau arc welding, tetapi biasanya kebal terhadap sinar UV yang dihasilkan matahari. Diduga kilatan lampu kamera pun mempunyai kemampuan yang sama.

Ada juga flame detector yang mendeteksi spektrum cahaya Infra Red saja, spektrum ini biasanya dihasilkan oleh benda-benda yang bersuhu tinggi. Hanya saja detektor yang jenis IR saja kurang bisa membedakan api sungguhan dengan benda-benda non-api seperti turbine panas, reaktor, boiler, dll. Akhir-akhir ini yang populer adalah menggabungkan kedua detektor ini, orang biasanya menyebut sebagai UV/IR Flame Detector yang mencoba mengeliminasi kelemahan UV detector dan IR detector. Nah kalo yang detektor ini sudah lumayan kebal terhadap sumber-sumber ‘api palsu’. Cuma kok jadi repot bin ribet ngecek jenis flame detector-nya supaya bisa tahu apa kebal terhadap kilatan lampu kamera atau tidak, belum lagi bahaya lain yang sudah disebutkan teman-teman. Lebih mudah dilarang sekalian…

Begitu dulu yang bisa saya sampaikan, mohon koreksinya.
Thanks.

Tanggapan 9 – Rudy Winarto

Bukan cahayanya pak, tp spark di camera switch-nya yg bisa trigger menjadi api jika ada gas leak.
Kalau cahaya blitz, ditakutkan akan men-trigger FLAME detector utk active. Saya ga tau persis ada di panjang gelombang mana cahaya blitz, dan masing2 camera apakah sama panjang gelombang di blitznya. spt kita tau, bahwa common flame detector bekerja di bbrp panjang gelombang (dari UV smp IR) tergantung jenis flame detectornya.
Tapi kalau flame detector keluaran micropack, lebih bisa membedakan antara real flame dan hanya cahaya blitz atau sunshine (kata vendornya). hehehehe…

Tanggapan 10 – Nanang Jamil

Dear rekans,

Saya ingin share….

Blitz atau Lampu Flash adalah peralatan listrik karena dia menggunakan arus listrik untuk menggerakkan elektron sehingga timbul nyala. Area kilang/plant adalah area yang mengandung atau mungkin mengandung flammable vapour.

Penggunaan peralatan listrik pada area yang mengandung flammable vapour lebih mudah kita dekati dengan Hazardous Area Classification.

Beberapa waktu yang lalu di milis ini pernah dibahas dan didiskusikan secara panjang lebar apa itu Hazardous Area Classification, rekans bisa melihat file diskusinya di situs kita.

Share This