Penentuan SIL pada dasarnya di endorse oleh beberapa standar internasional seperti IEC-61508/61511 serta ISA/ANSI S84.00.01-2004. Kedua standard ini dimaksudkan untuk memastikan SIS (Safety Instrumented System) yang dipasang telah mencapai tingkat performa minimum tertentu, yang dibutuhkan demi memastikan proteksi yang ada dapat melindungi sistem pemroses yang dijalankan, lingkungan, dan juga efisien secara ekonomis.

Tanya – Deddy Nazara

Dear All,

Kepada rekan – rekan milis migas indonesia, saya ingin tanya tentang Metode Penentuan SIL (Safety Integrity Level) ataupun Reliability di industri migas. Mohon tanggapannya.Terima Kasih.

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Dear Deddy

Pertanyaannya terlalu LUAS dan TIDAK FOKUS
Saya kira saya menyerah untuk menjelaskannya semua di sini, bisa berhari hari menjelaskan ini.
Lain kali kalau nanya fokus in dulu pertanyaan spesifiknya apa.

Tanggapan 2 – Deddy Nazara

Terima Kasih atas sarannya dari Pak Crootth,

Maksud saya begini, saya ingin nyusun tugas akhir dimana topiknya tentang Reliability / SIL di industri migas yaitu berupa penentuan Reliability / SIL dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis…

Yang saya tanyakan, selama ini di beberapa industri migas di indonesia menggunakan metode apa dalam menentukan Reliability / SIL dari sistem atau plant yang ada.

Saya mengharapakan jawabannya.

Tanggapan 3 – Crootth Crootth

Mas Dedi,

Inilah yang saya harapkan … pertanyaanya sudah lebih terarah dan fokus, sehingga menjawabnya juga akan lebih jelas.

Penentuan SIL (anda juga menyebutnya sebagai reliability – padahal ini adalah dua hal yang sungguh berbeda) pada dasarnya di endorse oleh beberapa standar internasional seperti IEC-61508/61511 serta ISA/ANSI S84.00.01-2004. Kedua standard ini dimaksudkan untuk memastikan SIS (Safety Instrumented System) yang dipasang telah mencapai tingkat performa minimum tertentu, yang dibutuhkan demi memastikan proteksi yang ada dapat melindungi sistem pemroses yang dijalankan, lingkungan, dan juga efisien secara ekonomis.

SIL sendiri adalah angka target untuk PFD (probability failure on demand) dari suatu SIF (safety instrumented function). Semakin tinggi nilai SIL semakin tinggi ketersediaan fungsi safety nya (mudahnya : semakin bagus). Ada empat derajat SIL yang disebutkan di standard standards tersebut (SIL1, SIL 2, SIL 3, dan SIL 4). Standard standard yang te;ah saya sebutkan di atas menyediakan bingkai kerja untuk melakukan penentuan SIL secara umum. Ada beragam metode penentuan SIL, namun yang paling terkenal ada dua yakni:

Risk Graphs

Risk Graphs ini awalnya disebut pada standard Jerman (DIN V 19250) pada tahun 1994, belakangan IEC mengadopsinya dalam standardnya. Pendekatan Risk Graphs ini memaparkan penentuan SIL berdasarkan Process Risk Factor atau Parameter untuk kejadian yang berbahaya. Secara umum mereka mengkategorikan parameter tersebut menjadi empat: Consequence (C), Frequency (F), Probabiity untuk menghindari kejadian (P) dan Probability untuk kejadian yang tidak diinginkan (W). Keempat parameter ini dikombinasikan untuk memperoleh angka Risk tertentu (R) dari kejadian yang tidak diinginkan. Angka C, F dan P sendiri mewakili apa yang disebut sebagai Effective Consequence, dan angka W sendiri mewakili apa yang disebut Effective Frequency. Risk Graph dengan lajur lajur dan baris di dalamnya memudahkan proses penentuan SIL (Eropa menyukai berpikir secara sistematis dan sangat teratur).

Untuk lebih jelasnya silahkan baca:

Angela Summers, Techniques for Assigning Safety Integrity Level, ISA Transaction 37 (1998) p98 – 104

LOPA

Layer of Protection Analysis, adalah karya amerika, disebut sebut pertama kali dalam buku CCPS-AIChE (dalam bukunya Guidelines for Safe Automation of Chemical Processes) pada tahun 1993. LOPA adalah modifikasi (bentuk spesial) dari event tree analysis yang ditujukan untuk menentukan frequency dari kejadian yang tidak diinginkan, yang secara pasti bisa dicegah oleh lapisan lapisan pelindung yang dipasang. Lapisan pelindung yang terdalam adalah lapisan pelindung yang pertama kali mencegah kejadian yang tidak diinginkan untuk menjadi nyata. Jika lapisan pertama ini gagal, maka tugas lapisan berikutnyalah yang mencegah nya, demikian seterusnya. Masing masing lapisan ini memiliki PFD (Probability of Failure on Demand) yang berbeda beda. Dengan mengetahui nilai frekuensi kejadian yang tidak diinginkan pada pemilik unit proses yang sedang ditinjau, serta mengetahui masing masing PFD untuk setiap lapisan pelindungnya (berdasarkan data kegagalan peralatan yang sudah dipasang) maka SIL untuk SIF yang dipasang dapat ditentukan.

Untuk jelasnya silahkan baca:

Arthur M Dowell, Layer of Protection for Determining Safety Integrity Level, ISA Transaction 37 (1998) p155-165

Jika mas Deddy berminat saya bisa mengirimkan kedua artikel tersebut secara japri.

Mengenai penentuan SIL dengan FTA, mungkin yang dimaksudkan adalah VERIFIKASI SIL yang sudah ditentukan dengan FTA. Ingat ada SIL determination dan ada pula SIL verification.

SIL Verification ini adalah untuk mengkaji ulang benarkan sistem pengaman yang dipasang (dalam hal ini SIF) telah memenuhi permintaan SIL yang diharuskan?

Secara umum SIL Verification ini menggunakan tiga metode utama, yakni : Simplified Method, Markov Formula, dan FTA (Fault Tree Analysis). Mungkin terlalu rumit jika dijelaskan di sini, alangkah baiknya jika anda bermukim di balikpapan silahkan mampir ke kantor saya untuk mendiskusikan ini.

Bacaan yang bagus mengenai ini :

Angela Summers, Viewpoint on ISA TR 84.0.02 Simplified Methods and Fault Tree Analysis, ISA Transaction 39 (2000) p125 – 131.

Sekali lagi saya bisa memberi anda artikel artikel di atas jika berminat, pun jika memang sempat anda bisa menemui saya untuk berdiskusi soal ini. Saya sangat menyambut baik kalau memang tujuannya buat akademis. Sayangnya saat ini saya bermukim di Balikpapan.

Sebenarnya di Jakarta ada yang lebih expert di banding saya dalam bidang per SIL an ini, antara lain teman seangkatan saya di ITB (namun beda jurusan) yakni Tn. Mefredi (e-mail mefredi@se1.bp.com ) dari BP Indonesia (artikelnya ‘Experience with Risk Graphs and LOPA’ dapat anda donlot di www.migas-indonesia.net ) dan guru saya di bidang Instrumentasi dan Kontrol Proses yang juga dedengkotnya Teknik Fisika ITS, Tn. Arief Rahman Thanura (e-mail arief.thanura@vico.co.id ) dari VICO Indonesia, keduanya saya tahu sudah mahir melakukan studi SIL Determination and SIL Verification.

Metode yang umum digunakan dalam penentuan SIL (SIL Determination) adalah LOPA (BP Indonesia (mas Mefredi bisa menjelaskannya), Chevron Indonesia Co, Hess Indonesia) sementara untuk SIL Verificationnya kebanyakan menggunakan software (baik dari Exida (SILver) maupun Casspac nya L&M Engineering)) yang berbasis pada Simplified Method akan tetapi Hess Indonesia Pangkah pernah menggunakan FTA. Saya pribadi di Chevron Indonesia Co menggunakan FTA.

Silahkan juga baca buku-buku:

1. Marszal, Ed, Eric Scharpf, Safety Integrity Level Selection, ISA, 2002

2. Gobble, William and Harry Cheddie, Safety Instrumented System Verification, ISA, 2005

Semoga membantu

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan Bulan Januari 2008 dapat dilihat dalam file berikut: