Strain Gauge sesuai namanya adalah untuk mengukur terjadinya penambahan regangan yang terjadi sejak pemasangan strain gauge tersebut. Jadi strain gauge hanya mengukur penambahan regangan. Dari pengukuran regangan maka kita dapat memperkirakan tegangan dan beban yang terjadi pada equipment yang diamati. Pada applikasinya untuk condition monitoring, seringkali strain gauge ini untuk memonitor besar tegangan dan regangan pada equipment statik (vessel, piping, dsb nya) untuk mengamati bilamana beban pada equipment sudah melebihi batas amannya.

Tanya – buddy cahyono

Dear Milisters,

Mohon pencerahannya mengenai Strain Gauge measurement dan monitoring (condition monitoring),
Kalau ada yang sudah familiar dan experince mohon di-sharing ilmunya.

Tanggapan 1 – ajat sudrajat

Mas Buddy,

Strain gauge biasa digunakan untuk pengukuran regangan untuk mengetahui tegangan suatu material, pengukuran temperatur dengan menggunakan signal conditioner.

Jika memerlukan pengukuran seperti diatas, dapat menghubungi LUK (laboratorium Uji Konstruksi) dengan Bapak raymon Amir telp. 021 7560562 psw 1047 atau 7560565.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 2 – Fikri Kibar

Informasi strain gauge berbahasa Indonesia bisa dilihat di
http://blog.taharica.co.id/

Semoga bisa membantu.

Tanggapan 3 – Ilham santoso

Salam Mas Buddy C,

Strain Gauge sesuai namanya adalah untuk mengukur terjadinya penambahan regangan yang terjadi sejak pemasangan strain gauge tersebut. Jadi strain gauge hanya mengukur penambahan regangan. Dari pengukuran regangan maka kita dapat memperkirakan tegangan dan beban yang terjadi pada equipment yang diamati.

Pada applikasinya untuk condition monitoring, seringkali strain gauge ini untuk memonitor besar tegangan dan regangan pada equipment statik (vessel, piping, dsb nya) untuk mengamati bilamana beban pada equipment sudah melebihi batas amannya. Yang perlu dicatat bahwa seperti di awal disampaikan bahwa strain gauge hanya mengukur penambahan regangan sejak dia dipasang (CMIIW..mungkin saja sudah ada teknik terbaru lainnya), jadi untuk mengetahui beban keseluruhan (bila strain gauge tidak dipasang sejak awal pembebanan) pada equipment maka biasanya perlu pemodelan numerik untuk mengetahui/memperkirakan existing strain/stress yang ada pada equipment sebelum strain gauge terpasang. Kemudian hasil pemodelan tersebut ditambah dengan hasil pengukuran maka kita dapat memperkirakan kondisi beban saat ini.

Semoga yang sedikit ini membantu..mas Buddy…he he he….lama ndak ketemu mas.

Tanggapan 4 – buddy cahyono

Salam Pak Ilham B.S., Pak Asep dan Pak Ajat;

Terimakasih sekali atas sharing ilmu-nya,

Terus terang saya masih awam untuk Monitoring strain gauge ini,
ditempat sy kerja skrg terpasang monitoring online strain gage di salah satu stage dr air compressor (ada 6 stage).
Alasan mengapa hanya/baru dipasang di satu stage, dari history last failure compressor berasal dari stage tsb.
Saya memperoleh data2 output strain gage tsb secara online (real time) dan dari operator jg rutin merecord data-nya.

Pertanyaannya adalah:

1. Apa yg bisa sy action dari data2 tsb (outputannya Volts dan PSI) dimana grafiknya naik-turun tidak relatif stabil (bahkan terjadi value +/-)

2. Dari uraiannya Pak Ilham, bgm sy bisa mengetahui/memperkirakan batas maksimum toleransi strain/stress pada equipment yg tlh terpasang strain gage? karena yg ditampilkan hanya value nya saja, blm ada baras alarm-warning nya.

3. Untuk Pak Asep terimakasih, next bila ada pemasangan strain gage yg baru sy bisa tanya2 lebih lanjut.

4. Pak Ajat, apakah di LUK bisa utk kalibrasi strage gage jg? Salam buat Pak Sutarjo-LUK, apakah beliau masih aktif?

Tanggapan 5 – Ilham B Santoso

Salam m Buddy,

Saya akan coba sharing apa yang sedikit saya tahu dari pertanyaan m buddy.

1. Pengukuran dari strain gauge memang kadang “mudah” terganggu oleh noise, baikyang berasal dari electrical noise maupun environment. Noise dari environment biasanya dicoba diminimalkan dengan memasang kompensator. Konsep kompensator ini adalah memasang strain gauge pada material yang sama dengan material equipment yang diamati dan diletakan pada environment yang sama (temperatur, humidity, dsb nya). Hasil pembacaan dari kompensator ini akan dikurangkan secara elektronik oleh strain amplifier/monitor sedemikian sehingga yang terbaca pada monitor hanyalah perubahan strain akibat perubahan beban saja. Demikian pula noise electronic juga dicoba diminimalisir baik dengan low pass filter ataupun teknik penghilangan noise lain. Namun demikian pada kenyataannya noise-noise ini memang sulit dihilangkan. Namun perlu hal ini didiskusikan dengan klien tentang ada atau tidaknya kompensator dan atau filtering untuk menghilangkan sinyal noise, untuk menyakinkan saja bahwa kita memang mendapatkan data yang “terbaik” untuk dianalisa.

Dari data yang terbaca, kita bisa melakukan trending dan curve fitting sehingga kita bisa mendapatkan trend kenaikan strain pada equipment. Bisa di analisa dari rata-rata kenaikan strain dstnya. Statistik dasar, sperti mean, curve fitting, analisa deviasi, bisa membantu analisis ini, dan saya rasa Microsoft Excel cukup powerfull untuk tools analisis ini.

Dugaan saya data yang diperoleh p Buddy adalah menghubungkan antara tekanan compressor 1st stage (psi) dengan pembacaan strain amplifier dalam volt. Untuk itu perlu dilakukan konversi dari volt ke strain sesuai dengan sensitivitas strain gauge dan setting gain di strain amplifier sehingga kita bisa memperoleh X volt mencerminkan Y strain.

2. Seperti yang saya sampaikan diawal, strain adalah stress dibagi dengan konstanta material atau dikenal sebagai modulus Young. Dengan mengetahui pembacaan strain dan jenis material equipment maka kita bisa memperoleh stress (tegangan), namun perlu diingat ini adalah stress yang terjadi sejak strain gauge dipasang tidak termasuk existing stress yang mungkin sudah ada saat strain gauge dipasang. Total stress (dasri strain gauge dan existing strain) ini dibandingkan dengan allowable stress material (pada ASME sekitar ¼ ultimate strength, dan sekitar 1/3.5 pada ASME yang baru..kalau saya tidak salah ingat, nanti saya check lagi di ASME). Dari perbandingan ini maka kita bisa tahu apakah equipment masih ada dalam kondisi yang diijinkan atau tidak.

Kritikal point untuk analisis ini adalah apakah strain yang kita baca ini sudah merupakan total strain atau masih perlu ditambah dengan existing strai.Dalam hal ini pemodelan baik dengan analisa numerik (finite element model misalnya) ataupun analitik diperlukan untuk validasi dan memastikan hasil pembacaan strain kita pada tingkat yang benar.

Semoga membantu m buddy.

Tanggapan 6 – ajat sudrajat

Mas Buddy,

1. Output dari strain gauge data/grafiknya naik turun, salah satu penyebabnya strain gauge peka terhadap temperatur. Oleh karena itu pada saat pemasangan/instalasi SG perlu diberikan konvensasi temperatur. (biasanya sdh di install).

2. Kalibrasi strain gauge bisa dilakukan oleh LUK bahkan termasuk pemasangan/instal SG pada tempat yang baru.

3. Pa Sutardjo masih kerja di LUK. hubungi saja HP 08158825021.

Demikian pak Buddy semoga bermanfaat.