Konfigurasi wellhead biasanya berdasarkan spec dari perusahaan, perusahaan tertentu memasang SCSSV (Surface Controlled Sub-surface Safety Valve), SSV (Surface Safety Valve) dan Wing Valve (WV) untuk sumur gas dan SCSSV + SSV untuk sumur minyak. SSV adang disebut sebagai Master Valve dan Wing Valve suka diistilahkan sebagai SDV.

Tanya – Pandhu Lakshana

Rekan2 senior,

Meskipun saat ini saya belum bekerja pada hal yg berhubungan dg migas, saya mau tahu hal-hal yg dasar tentang wellhead control panels (WHCP), terutama untuk offshore operation. Ma’af kalo pertanya’annya pernah dibahas.

1. Apakah konfigurasi valve yg diatur oleh control panel yg dipasang pada well head pada x-mas tree itu selalu hanya Master Valve (MV), Wing Valve (WV) dan SCSSV (Surface Control Sub Surface Valve – ma’af kalo singkatannya salah) ? Apa ada konfigurasi lain ? Boleh / mungkin ngga’ kalo salah satu dihilangkan Kemudian apa ini diatur pada code tertentu ?

2. Ada ngga’ ketentuan kalo valve2 di atas harus menggunakan jenis valve tertentu (misalnya, yg saya tahu biasa ball valve ya ). Apa ada kaitannya dg high pressure pada well head ?

3. Apakah opening dan closing sequence untuk valve2 tsb harus berurutan ? (misalnya untuk opening harus SCSSV-MV-WV dan untuk closing harus WV-MV-SCSSV). Yg saya tahu biasanya kalo sequence sudah ditetapkan, di WHCP-nya sudah ada interlock yg kalo sequence yg satu belum dilakukan, sequence lain ngga’ akan energize, tapi apa sih kemungkinan yg muncul kalo seandainya sequence-nya salah ?

4. Kenapa ya kok kalo ada sinyal dari high pilot (yg mengindikasikan kalo ada over pressure) itu cuman mematikan WV-nya saja dan pada low pilot mematikan semua valve (WV, MV dan SCSSV). Terus kalo pressure-nya sudah normal, apakah valve2 tsb akan otomatis terbuka lagi ?

5. Saya juga belum begitu paham apakah WHCP itu termasuk yg harus di SIS/ SIL -kan ? Kalo iya, pastinya level-nya otomatis tinggi dong ya ? Atau mesti di asses juga ya ?

6. Terakhir, nih (maksudnya terakhir pada imel ini..hehe) apa aja sih lingkup dan tanggung jawab instrument engineer/ inspector pada WHCP ? Maksudnya kalo WHCP ngga’ bekerja optimal dan menimbulkan masalah yg signifikan , apa lantas instrument engineer/ inspector -nya yg bakalan dipecat duluan ?

Karena saya ngga’ yakin kalo ini berhubungan dg bidang instrument (saja), jadi saya ngga’ mencantumkan INST pada subyek.

Mohon pencerahan dan koreksi-nya kalo ada pertanyaan yg salah. Terima kasih sebelumnya atas jawaban dari bapak/ ibu sekalian.

Tanggapan 1 – Triez

Mungkin Ibu Naila ato Engineer, nya dari WILMAX Technical Services mau menjelaskan?
Setahu saya Wilmax bergerak dibidang WHCP juga…

Tanggapan 2 – Djohan

Kang Pandhu,

Mudah-mudahan berikut menjawab pertanyaannya.

1. Konfigurasi wellhead biasanya berdasarkan spec dari perusahaan, perusahaan tertentu memasang SCSSV (Surface Controlled Sub-surface Safety Valve), SSV (Surface Safety Valve) dan Wing Valve (WV) untuk sumur gas dan SCSSV + SSV untuk sumur minyak. SSV adang disebut sebagai Master Valve dan Wing Valve suka diistilahkan sebagai SDV. API 14C saingetku tidak mewajibkan konfigurasi musti ada ketiganya.

2. Kebanyakan untuk master dan wing valves menggunakan type gate valves, bisa diperhatikan actuatornya yang linier bergerak keatas-bawah. Kecuali SCSSV yang flapper type.

3. Betul, opening dan closing wellhead valve pakai sequence; open: 1.SCSSV,

2 SSV & WV. close: 1. SSV & WV 2. SCSSV. Karena SCSSV perlu dioperasikan pada kondisi statis flow dalam sumur sedang berhenti untuk mencegah kerusakan; ditutup sewaktu SSV sudah nutup dan dibuka ketika SSV belum mbuka. Betul, seperti yang sampiyan bilang, semua dilakukan dengan sistim interlock.

4. Low pilot (PSL) menutup semua valves, karena dinilai lebih berbahaya sebab mendeteksi pipa (flowline) bocor / pecah, jika hanya menutup SSV berarti hanya ada satu isolasi antara sumber hydrocarbon (wellhead) dan lingkungan sekitar. Tetapi tidak semua perusahaan mempunyai spesifikasi seperti itu, lebih bagus kalau menggunakan hasil IPF assessment (SIL Class). Sebaliknya high pressure sensor (PSH) hanya menutup WV / SSV, karena masih ada proteksi PSV, jika ada kegagalan. Perlu dicatat SCSSV jika terlanjur nutup (apalagi kalau sempat lama) boleh jadi memerlukan equalization pressure di wellhead yang makan waktu. Perusahaan tertentu hanya menutup SCSSV jika ada kebakaran saja.

5. SIL assessment melihat seberapa besar konskwensi kegagalan instrument proteksi, semakin tinggi nilai konskwesi akibat kegagalan, semakin handal instrument proteksi yang diperlukan, berarti semakin tinggi angka SIL nya.
Pada perusahaan tertentu dalam mendesign platform baru mengaplikasikan SIL assessment dan meletakkan logic solver WHCP dalam shutdown system (SIS), WHCP hanya berisi control medium dan final elements (solenoid valve, pneumatic relay etc.).

6. Instrument Engineer biasanya merupakan technical support / maintenance pada WHCP. Yang mengoperasikan WHCP adalah Production Operator yang tugasnya membuka menutup sumur produksi. Dengan asumsi kang Pandhu sebagai seorang Instrument Engineer, jangan terlalu takut dengan PHK dulu. Ambil saja tanggung merawat WHCP, lalu cari tahu gimana cara kerjanya (dengan membaca specification, Operating Manual, gambar skematik, tanya kiri kanan, termasuk kepada si pembuat WHCP etc.) minta Perusahaan agar kang Pandhu dikursuskan, lalu lakukan maintenance work yang direkomendasi oleh pembuat WHCP. Kalau usaha2 perawatan telah dilakukan dengan baik, jika terjadi WHCP rewelpun biasanya selalu ada jalan keluar dan tidak selalu berakhir dengan pecat memecat.

Semoga bermanfaat

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia bulan Januari 2008 dapat dilihat dalam file berikut :