Select Page

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid ‘Gus Dur’ mengatakan, rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Gunung Muria sebaiknya dibatalkan dan dipindahkan ke Pulau Karimunjawa sekitar 20 km dari Jepara.Berikut tanggapan rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia.

Pembahasan – soedardjo@batan

http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=157565

JAKARTA–MI: Mantan Presiden Abdurrahman Wahid ‘Gus Dur’ mengatakan, rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Gunung Muria sebaiknya dibatalkan dan dipindahkan ke Pulau Karimunjawa sekitar 20 km dari Jepara.

‘Saya katakan sebaiknya pembangunan PLT Nuklir itu ditempatkan di pulau-pulau terpencil. Misalnya di Pulau Karimunjawa,’ kata Gus Dur seusai membuka Seminar Internasional Program Nuklir Iran, Untuk Apa?.
Dapatkah Indonesia mengambil pelajaran? di Jakarta, Kamis (31/1).

Seminar yang diselenggarakan oleh Media Institute tersebut selain menghadirkan Gus Dur juga menampilkan pembicara, Dubes Iran Behrooz Kamalvandi, Ketua Badan Tenaga Nuklir Nasional Hudi Hastowo, penelisi CSIS Begi Hersutanto, Dekan FHUI Hikamahanto Juwono serta mantan Menristek M AS Hikam.

Gus Dur mengaku mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga Nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, namun soal keamanannya harus diperhitungkan secara cermat.

Secara pribadi, jika lokasi pembangunannya di Gunung Muria, Gus Dur tidak setuju. Hal itu terkait dengan keamanan masyarakat. Gus Dur mengingatkan kecelakaan reaktor Nuklir Cyrnebil di Ukraina (Uni Soviet). Karena itu, Gus Dur lebih menyarankan jika di Pulau Karimunjawa.

Namun ketika ditanyakan, bagaimana dengan warga masyarakat yang tinggal di Pulau Karimunjawa tersebut. ‘Pindahkan saja mereka,’ kata Gus Dur.

Gus Dur juga mengingatkan untuk penggunaan teknologi nuklir Indonesia harus lebih banyak belajar lagi. Saat ini, tambahnya di seluruh dunia setidaknya sekitar 70 reaktor nuklir telah ditutup, terkait dengan masalah keamanan.

Sementara Dubes Iran, Behrooz Kamalvandi mengaku selama ini negara-negara barat dan Amerika Serikat telah melancarkan propaganda tidak adil dan sepihak terhadap Iran atas isu nuklir.

‘Negara-negara barat tersebut, dengan kepura-puraan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, mencoba mencabut hak Iran atas penggunaan pengetahuan vital teknologi nuklir,’ kata Dubes Behrooz Kamalvandi. (Ant/OL-2)

Tanggapan 1 – iwan saputra

Kalau saya setuju Pendapat Pak Gus Dur tentang menempatkan Power Plant Baru di Pulau sekitar Jawa.

Yach kita harus mencontoh negara tetangga kita seperti Singapure , kalau saya lihat mereka menempatkan
Power Plant mereka di Pulau-Pulau sebelum masuk Pulau Singapure .
Kalau dari Batam ke Singapure , sebelum merapat ke Harbournya disitu kita bisa lihat semua Power Plant
berada di pulau-pulau.

Tapi apakah kita sudah perlu membangun PLTN..? kenapa nggak coba Bio Energi..seperti Membangun Power Plant dengan bahan bakar CPO..?
Tapi saya nggak tahu perbandingan cost recovery antara PLTN dan PLTTBS.

Maaf bila salah usulan..

Tanggapan 2 – soedardjo@batan

Recovery

time:

Wind 0.62-0.9 years

Gas and Oil 1 year

PV (photovoltaic) System 1.5-3 years

Nuclear Power Station 10-18 years

http://www.mindfully.org/Nucs/Nuclear-Energy-Recovery-TimeOct00.htm

Data lama (1983) dapat dilihat di

http://www.nuclearpowerprocon.org/pop/sourcecost.htm

Tanggapan 3 – Herry Putranto@cendrawasih

Mas Iwan,

Saya kurang sependapat dengan anda mengenai ide untuk membangun Power Plant dengan bahan Bakar menggunakan CPO atau nabati lainnya. Bukan apa2 krisis pangan saat ini yang sedang melanda Indonesia karena ketergantungannya dari komoditas import yang semakin mahal akhir2 ini seperti jagung, gandum, kedelai dll. Kenapa saat ini komoditas tsb semakin mahal dan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat miskin, karena komoditas tersebut banyak digunakan terutama di amerika dan eropa untuk energi. Di Amerika pada th 2006, 25 juta ton jagung digunakan untuk produksi bioenergi (green oil). CPO banyak digunakan untuk Bio diesel terutama di eropa krn itu permintaan CPO melambung tinggi otomatis harga juga naik Pengusaha kita memilih eksport saja ke luar negeri, akibatnya didalam negeri pasokan berkurang dan rakyat menjerit kesulitan minyak goreng dan komoditas nabati lainnya.

Jadi, mari kita kembalikan fungsi tanaman pangan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia saja.Bukankah energi alternatif lainnya masih banyak yang belum kita manfaatkan di bumi tercinta ini. Mengubah fungsi tanaman pangan untuk tujuan bioenergi sama artinya dengan mengelembungkan jumlah orang miskin yang sudah menembus 90 juta orang (Burhanudin Sundu, Kompas 31 Januari 2008).

Tanggapan 4 – Aman Mostavan

Dengan hormat,

Gembira saya dalam diskusi tetap mengingat masyarakat kita, Indonesia.

Saya setuju bahwa pangan untuk memenuhi keperluan masyarakat Indonesia kita. Tetapi bagaimana kalau harga di luar negeri naik terus dan ini akan menarik exportir mengirimnya. Ini teramat sukar untuk kita sebagai awam, sebagai rakyat kecil mengatasinya.
Bagaimana kalau dari sekarang difikirkan bahan makanan dari laut, seperti khlorela, ganggang, dll. Selain itu, pemerintah harus diyakinkan bahwa kedelai, padi, gandum, jagung dan bahan pangan lain jangan import, tetapi memenuhi sendiri, autarki.

Tanggapan selengkapnya dari pembahasan rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Februari 2008 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This