Select Page

Di luar negeri ada draft model revolusi bebas nuklir, yang antara lain mengemukakan dampak negatif adanya fasilitas nuklir. Dampak negatif radiasi dari perang nuklir, uji senjata nuklir, PLTN dan reaktor fasilitas nuklir (Reaktor penelitian?), penggunaan uranium untuk perang, tambang uranium, antara lain: kanker, bayi cacad lahir, penyakit syaraf kronis (layu, capek, parkinson, alzheimer, kelainan jantung dan otak), kerusakan DNA secara menyeluruh pada sperma laki-laki dan wanita mandul, tidak dapat belajar dengan baik (bodoh), penyakit mental (edan), laju kelahiran dan laju kematian, diabetes, kematian bayi dan berat bayi lahir ringan sekali (kurus), polusi udara (radiasi ionisasi). Dari resolusi tersebut, mengehndaki diakhirinya semua teknologi yang berbau nuklir.

Pembahasan – soedardjo@batan

Di luar negeri ada draft model revolusi bebas nuklir, yang antara lain mengemukakan dampak negatif adanya fasilitas nuklir.

Dampak negatif radiasi dari perang nuklir, uji senjata nuklir, PLTN dan reaktor fasilitas nuklir (Reaktor penelitian?), penggunaan uranium untuk perang, tambang uranium, antara lain: kanker, bayi cacad lahir, penyakit syaraf kronis (layu, capek, parkinson, alzheimer, kelainan jantung dan otak), kerusakan DNA secara menyeluruh pada sperma laki-laki dan wanita mandul, tidak dapat belajar dengan baik (bodoh), penyakit mental (edan), laju kelahiran dan laju kematian, diabetes, kematian bayi dan berat bayi lahir ringan sekali (kurus), polusi udara (radiasi ionisasi).

Dari resolusi tersebut, mengehndaki diakhirinya semua teknologi yang berbau nuklir.

http://peaceinspace.blogs.com/nuclear_free_zone/2007/05/nuclear_free_zo.html

Tanggapan 1 – Harri Wijaya

Dalam pemikiran saya, semua teknologi jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan dampak buruk, e.g. pertambangan, perminyakan, IT, atau nuklir.

Sungguh mengherankan, mengapa tidak ada kampanye cara menangani instalasi nuklir yang baik [?] padahal hampir setiap perguruan tinggi kelas dunia memiliki riset bidang nuklir, (IMHO belum pernah dengar ada NGO yang menginginkan studi/riset nuklir dihentikan, padahal dari situlah scientist/engineer/invention baru dihasilkan).

Tanggapan 2 – Soedardjo@batan

Dengan ini, saya sebagai pegawai BATAN, mohon maaf, jika mengapa tidak ada kampanye cara menangani instalasi nuklir yang baik [?].

Seperti Bapak/ Ibu ketahui bahwa: program-program yang dapat membantu diseminasi PLTN ke PUBLIK malahan di tutup. Contohnya, di suatu milis yang juga diikuti MENRISTEK, pada tanggal 17 Januari 2008 di http://tech.groups.yahoo.com/group/Migas_Indonesia/message/57106
http://www.batan.go.id/pusdiklat/elearning/pengenalan_radiasi/default.htm
Dulu dapat dibuka, sekarang tidak dapat dibuka.

Tanggapan 3 – Chairul Hudaya

Pak Harri Wijaya,

Itu karena, NGO masih menyadari bahwa nuklir (tidak hanya untuk energi, PLTN) masih diperlukan misalnya dalam hal medical, argicultural, dan bidang lainnya. NGO yang green vision itu kebanyakan menyerukan untuk menghentikan teknologi PLTN dan senjata nuklir saja, walaupun perlu ditanyakan ‘ke-green-an’ nya. Mengapa mereka tidak menolak PLTU batubara yang kita tahu menghasilkan GHG (Greenhouse Gas) luar biasa jumlahnya dibandingkan dengan PLTN ?.

Ilmu mengenai ketenaganukliran berkembang sangat cepat dan saya kira tidak ada yang bisa mencegahnya, termasuk NGO tersebut.

Mungkin begitu pak,

Tanggapan 4 – Soedardjo@batan

Yth. Pak Chairul Hudaya,

Apa Coal Energy dari Mitsubishi (Tiga Batu/Berlian) ini juga masih menghasilkan GHG yang luar biasa dibandingkan PLTN?

https://www.mhi.co.jp/technology/review/pdf/e423/e423094.pdf

With the attention to environmental problems growing in recent years, demand has grown to reduce the emission of CO2 gas, which contributes largely to global warming. For thermal power plants, CO2 emission is reduced by making power generation more efficient. Mitsubishi Heavy Industries, Ltd., (MHI) has improved power generation efficiency in conventional coal-fired thermal power plants by improving steam conditions and adopting advanced technologies. MHI is also improving the efficiency by using gas turbines and gas engines. This paper summarizes on sophisticated use of coal energy with green technologies for thermal power plants, i.e. advanced coal-fired ultra supercritical (USC) thermal power generation, integrated gasification combined cycle (IGCC), the blast furnace gasfired gas turbine combined cycle, and gas engine power generation using coalmine methane.

Tanggapan 5 – Chairul Hudaya

Yth. Pak Soedardjo,

Ya, sepengetahuan saya pada PLTN, energi dibangkitkan melalui reaksi fisi yang tidak akan pernah menghasilkan karbon yang akan membentuk GHG itu tadi. Sebaliknya pada PLTU, seperti kita paham, bahwa batu bara adalah bahan bakar yang mengandung untaian karbon di dalamnya. Orang sering mengkait-kaitkan gas karbon yang dihasilkan PLTN dimulai dari hulu hingga hilir dimana, yaitu pada proses penambangan uranium, enrichment, dan proses konstruksi plant yang masih belum bisa lepas dari ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar berbasis fosil. Misal, penggunaan truk truk yang berbahan bakar oil dan gas dala proses penambangan, konstruksi atau enrichment. Jika analogi demikian yang dipakai, maka tidak ada satu pun jenis pembangkit yang benar benar ‘green’. Sama halnya seperti PLTS dan PLTA yang memerlukan sejumlah energi yang dihasilkan dari bahan bakar oil and gas yang pada akhirnya menghasilkan GHG lagi.

Jadi kalau kita bandingkan antara PLTN dan PLTU baik ditinjau secara keseluruhan dari hulu hingga hilir, maupun hanya melihat dari segi pembangkitan energinya saja, maka saya dapat mengatakan bahwa PLTN jauh lebih green daripada PLTU.

Mohon dikoreksi pak kalau salah,

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan April 2008 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This