Indonesia dinilai menjadi salah satu penghasil emisi terbesar untuk sector land area dan forestry. namun, bila kita telaah lebih dalam, pengembangan biofuel di Indonesia adalah atas saran IEA (Internatioal Energy Association) www.iea.org sebagai pengembangan energy alternative sebagai proyek solusi global warming. Atas research tersebut, maka banyaklah investor berbondong-bondong dari EU (European Union) dan USA yang ingin sekali memanfaatkan Borneo Island, Papua dan Sumatera untuk Bio Fuel Nabati. Hanya mereka menggunakan kendaraan NGO (Non Government Organization/LSM) baik lokal maupun international yang selalu mengirimkan data-data mengenai energy resources di Indonesia kepada negara-negara barat. Pemerintah tertinggal beberapa langkah mengenai riset data-data energy resources karena NGO selalu mengirimkan data tersebut ke EU dan USA dikarenakan mereka dibayar lebih tinggi dan merasa lebih dihargai hasil risetnya.

Pembahasan – Rovicky Dwi Putrohari

Biofuel, tidak sehijau
namanya.
9 Februari 2008 at 5:14 pm | In Energi , Environment http://id.wordpress.com/tag/environment/
http://rovicky.wordpress.com/wp-admin/post.php?action=edit&post=1190

[image:http://www.cartoonstock.com/newscartoons/cartoonists/rha/lowres/rhan834l.jpg]Mungkin masih ingat tulisan dua tahun lalu tentang keraguanku adanya efek lingkungan terhadap proyek biodiesel. Tulisan dua tahun lalu itu bisa dibaca ulang diIndonesia Produksi Biodiesel Mulai 2007http://rovicky.wordpress.com/2006/04/17/indonesia-produksi-biodiesel-mulai-2007 environmental-impact-2/

* [image: :(] ‘Whallah, dua tahun ya sudah lupa Pakdhe, wong banjir tahun lalu saja sudah hampir ngga ingat lagi ‘ [image: :P] [image: :D] ‘Howgh dasar pelupa ! Makanya dicatet, Thole !!’
*

Indonesia menjadi sorotan dalam pemanfaatan biofuel

Yang cukup mengagetkan adalah adanya penelitian dari The Nature Conservancy and the University of Minnesota yang akan dipublikasikan dalam majalah Science akhir bulan ini. Isi penelitiannya juga cukup memprihatinkan, karena menyinggung dan menyebutkan soal kiprah Indonesia dalam rencana memproduksi biofuel. AFP mengutip negara Indonesia
sebagai kunci dalam *global warming* antara lain dalam beberapa kalimat berikut:

*’The conversion of peatlands in Indonesia for palm oil plantations and deforestation in the Amazon for soy production have resulted in carbon losses, according to the new report. *’

*’The conversion of peatlands for palm oil plantations in Indonesia ran up the greatest carbon debt which would require 423 years to pay off. The production of soybeans in the Amazon, which would not ‘pay for itself’ in renewable soy biodiesel for 319 years. ‘*

Hmm . Indonesia lagi nantinya akan dituduh penyebab kerusakan lingkungan kalau salah urus begini.

*:D ‘Ya wis lah, pokoke itu palm oil buat minyak goreng saja, jangan dikonversi menjadi minyak bakar. Lagian kalau aku nggoreng tempe pakai apa nanti ? ‘

๐Ÿ™ ‘Hallah tempe juga mahal dhe, ganti krupuk aja ya ?’*

Dibawah ini beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan serta produksi dari biofuel diambil dari Majalah Science.

Chart modified from

*Science*
Kerusakan ekosistem tidak hanya emisi.

[image: biofuel-bad_enviro.jpg]http://rovicky.files.wordpress.com/2008/02/biofuel-bad_enviro.jpg

Sebenernya kerusakan lingkungan akibat penggunaan biofuel bukan pada emisi ‘pembakaran’ pada mesin, bukan sekedar emisi gas buang pada waktu mesin dinyalakan. Kerusakan lingkungan yang dilihat tentunya tidak hanya itu saja, tetapi selama waktu proses produksi biofuel inilah banyak hal-hal yang sakjannya juga menghasilkan emsisi atau bahkan zat-zat beracun yang membahayakan lingkungan.

Pembakaran hutan pada saat pembukaan lahan, penggunaan bahan penyubur (pupuk) untuk meningkatkan daya subur tanah, juga penggunaan pestisida pada perkebunan jagung (corn), sampai nanti pada waktu proses pembuatan hasil tanaman menjadi minyak. Semua proses itu juga mengeluarkan emisi gas buang.

Yang harus diluruskan adalah pengertian bebas dampak lingkungan dari sebuah energi alternatif. Memang benar ethanol akan memproduksi emisi gas buang lebih sedikit dibanding BBM lainnya. Tetapi memproduksi ethanol juga memproduksi emisi juga menimbulkan dampak ekologi yang lain.

Bagaimana dengan pemanfaatan energi lainnya ?

Tahukah anda bahwa anginpun juga diperlukan dalam sebuah proses penyebaran flora. Banyak tumbuh-tumbuhan yang yang menggunakan angin sebagai media transportasi dari spora-nya untuk berkembang biak.

* [image: :D] ‘Ngerti Spora ngga kamu, Thole ?’

[image: :(] ‘Spora itu kan untuk pengembang biakan tumbuh-tumbuhan jenis paku-pakuan, kan ? Ah Pakdhe ngejek, aku begini juga masih ingat pelajaran wektu SD klas 4 dulu looh’*

Mesti diketahui juga bahwa ada banyak ragam jenis energi yang dapat masuk kategori biofuel misalnya , Biomassa, Bioenergy dari sampah,minyak goreng bekas, Biodiesel, Bioalcohols, BioGas (yang menafaatkan kotoran hewan maupun manusia) , Solid Biofuels, Syngas (synthetic gas-gas buatan) dan masih banyak lagi jenisnya.

Yang perlu dimengerti adanya fakta-fakta lain dalam pemanfaatan biofuel antara lain, adanya sebuah studi yang mengatakan bahwa dari 26 jenis biofuel, terdapat 21 jenis biofuel yang memiliki emisi gas buang lebih kecil dari BBM konvensional (fossil fuel). Namun ini akan mengurangi 30% dibanding penggunaan BBM fosil. Harus juga diketahui separoh dari jenis biofuel tadi memiliki dampak lebih buruk dibanding BBM fosil.

Jadi jangan buru-buru mengatakan bahwa segala sesuatu yang berasal dari mahluk hidup pasti aman untuk lingkungan. Lah lantas jenis energi apakah yang bebas terhadap dampak lingkungan ?

* [image: :(] ‘Pakdhe, segala sesuatu yang dilakukan manusia pasti mempengaruhi lingkungan kan ? Tapi sejauhmana dampaknya itu harus dimengerti lebih dulu sebelum melakukannya. Dan nanti kalau sudah melakukan harus bisa mengambil tindakan sesuai dengan yang semestinya. Itulah perlunya AMDAL yang menyeluruh, rak gitu ta Pakdhe ?

[image: :D] ‘Ya wis, pinter kowe, thole ‘ [image: :P] *

Tanggapan 1 – fahmi.adam@sinarmasforestry

Betul yang dikatakan Pak Rovicky, Indonesia dinilai menjadi salah satu penghasil emisi terbesar untuk sector land area dan forestry. namun, bila kita telaah lebih dalam, pengembangan biofuel di Indonesia adalah atas saran IEA (Internatioal Energy Association) www.iea.org sebagai pengembangan energy alternative sebagai proyek solusi global warming. Atas research tersebut, maka banyaklah investor berbondong-bondong dari EU (European Union) dan USA yang ingin sekali memanfaatkan Borneo Island, Papua dan Sumatera untuk Bio Fuel Nabati. Hanya mereka menggunakan kendaraan NGO (Non Government Organization/LSM) baik lokal maupun international yang selalu mengirimkan data-data mengenai energy resources di Indonesia kepada negara-negara barat. Pemerintah tertinggal beberapa langkah mengenai riset data-data energy resources karena NGO selalu mengirimkan data tersebut ke EU dan USA dikarenakan mereka dibayar lebih tinggi dan merasa lebih dihargai hasil risetnya.

Negeri kita ini luar biasa hebatnya untuk energy resources, hanya saja kita belum mencerminkan peduli energy, terlebih lagi riset untuk clean energy. Mari kita lihat, berapa banyak pegawai BPPT ataupun KONEBA yang mencari proyek sambilan diluar jam kerja ataupun pada jam kerja mereka sehari-hari. Mari kita lihat pula berapa banyak dosen yang memanfaatkan bendera kampus untuk meng-goal-kan proyek mereka masing-masing, sedangkan mahasiswanya ditinggal begitu saja tanpa kabar. Ironisnya lagi, mahasiswa sangat senang bila dosennya tak masuk dan hanya memberi tugas. Maka dari itu kepada rekan-rekan forum, issue yang digambarkan oleh Pak Rovicky ini sungguh membuka pewacanaan lama yang terpendam menjadi issue baru yang sangat mengkhawatirkan untuk kemajuan negara tercinta ini. Karena ada suatu gap berlebihan antara pemerintah, private sector, LSM dan masyarakat itu sendiri.

Tanggapan 2 – Sketska Naratama

Btw,

Lebih dasyat mana emisi nya dengan nuklir serta peralatan2 yg berkaitan dengan nya yg pd saat ini di operasikan 24 jam? Siapa pula yg melakukan uji coba di lautan Atlantik?

Tanggapan 3 – soedardjo batan

Daftar Uji senjata nuklir dapat dilihat di :

http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_testing

Nuklir banyak dampak negatifnya, antara lain:

Nuklir sangat mahal untuk mendidihkan air

Nuklir seperti biofuel CPO (kelapa sawit) yang menghisap air tanah sepuluh kali lipat dari tanaman hutan lainnya. Nuklir memerlukan air banyak, selain untuk pendingin (dari sungai besar) juga dari laut, serta untuk keperluan penambangan uranium, memerlukan air yang banyak. dan air yang banyak tersebut akhirnya menjadi air yang mengandung radioaktif dan beracun.
Yang jelas dampak sampah nuklir sangat besar, umur panjang, kadang sulit dikelola (diolah).
Kesimpulannya, jika Nuklir adalah lebih hijau, itu salah.

Pembangunan/pengoperasian PLTN serta kajian penambangan uranium, tapak dll, adalah lama, atau menghabiskan uang negara. sedang untuk energi lain dapat direalisasi pada waktu singkat. waktu yang lama tersebut membuktikan PLTN terlalu lama untuk diharapkan untuk mengatasi masalah perubahan iklim.
Karena investasi untuk perencanaan, pembangunan, pengoperasian PLTN lama, maka di Australia memilih investasi di energi bukan nuklir.
Jika faktor biaya pengelolaan lingkungan dan penggunaan air diabaikan, untuk PLTN dan Energi lainnya akan berimbang, atau realtif murah.
Kesimpulannya, jika nuklir untuk mengatasi perubahan iklim adalah salah.

Belum ada jaminan dari IAEA (BATAN internasional), bahwa jual beli uranium tidak digunakan untuk kepentingan perang.
Kesimpulannya, jika perngelolaan nuklir adalah aman( tidak untuk kepentingan perang, banyak pengujian senjata nuklir ) adalah salah.

Dari kasus reaktor nuklir (riset) di Lucas Heights Sydney Australia , membawa dampak ke publik, sehingga reaktor tersebut tidak untuk produksi keperluan medis, tapi malahan memerlukan bahan medis untuk publik di sekelilingnya.
Kesimpulannya, jika nuklir reaktor diperlukan untuk kepentingan pengobatan (medis) adalah salah.

Lebih lanjut silahkan lihat di http://www.wilpf.org.au/PDFs/Nuclear_Awareness_WILPF_2007.pdf

Tanggapan 4 – Dirman Artib

Ah ini kan sangat kasat mata dan bukan hitung-hitungan matematika yang rumit.

Pasti mengupas kulit bumi horizontal yg dibutuhkan untuk bikin minyak diesel dari CPO lebih besar daripada kita minta misalnya minta Ms. Inul untuk ngebor vertikal dari atas ke dasar perut Mr. Bhumi.

Teknologi efektif untuk pengendalian dampak biologi seperti perobahan ekosistem yg relatif lebih kecil (kecuali kasus khusus Lapindo) sudah teruji dari zaman dulu, hingga kini. Perusahaan specialis, penanganan buangan B3 dari hasil ngebor, tinggal cari dengan tender pasti lah akan banyak yg mampu angkut, angkat, transport dan kendalikan sebelum dibuang. Kalau dihitung-hitung kasar aja akan lebih besar manfaat dari ngebor bumi daripada mengupas kulit bumi dibanding dampak lingkungan.

Dampak mengupas kulit bhumi untuk menghasilkan 1 liter minyak diesel…..wah dahsyat men……….belalang, kupu-kupu, jangkrik, burung, macan, babi, cacing, rusa, gajah, ikan di sungai/danau, beruang, monyet, orang-utan, pasti lah tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang hanya berlindung pada keseragaman 1 pohon sawit. Lalu pohon-pohon hutan lain khan harus menyingkir karena Mr. Sawit harus hidup sehat tanpa gulma.

Wah…apalagi dampaknya kepada kaum geoteknik dan geologi…..sangat-sangat dahsyat, karena Mas Rovicky harus berobah dari mengkaji batu menjadi megkaji tanah ๐Ÿ™‚

Tanggapan 5 – Aroon Pardede

Mungkin memang ada salah kaprah yang terjadi di masyarakat luas, berkaitan dengan asosiasi biofuel sebagai green energy.

Menurut saya BIOFUEL, sesuai namanya, adalah energi yang dihasilkan dari mahluk biologis. Ini mengandung arti implisit bahwa bahan bakar ini renewable (terbarukan).

On the other hand, green energy, adalah energi yang tidak menimbulkan gas2 berbahaya bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Dan umumnya green energy bersifat renewable.

So, dari sini sudah jelas bahwa biofuel tidak sama dengan green fuel/energy, walaupun keduanya memiliki karakteristik yang sama,yakni renewable. Jadi, memang biofuel bukanlah green energy.

Pendapat saya, biofuel adalah solusi temporary (kalau memang boleh disebut solusi) atas ‘kemalasan’ dunia mencari dan mengembangkan energi alternatif.

Dengan biofuel,artinya industri otomotif tidak perlu lagi bersusah payah mengubah desain kendaraan (mesin,chasis,auxilary equipments,etc). Dengan biofuel,artinya kendaraan masih terus membuang gas2 rumah kaca, yang pada saat bersamaan, biofuel juga mengubah hutan sebagai paru2 dunia, menjadi ladang2 kelapa sawit, tebu sebagai sumber biofuel.

Tanggapan 6 – Nochfrie Emir

Pagi Pak Aroon Pardede…

Maaf pak.. sedikit menanggapi sekaligus bertanya.. Saya setuju dengan pak Aroon tentang pengertian Biofuel, tapi saya kurang paham dengan yang bapak maksud Renewable…
apakah maksudnya hasil pembakaran bahan bakar jenis ini bisa didaur ulang kembali untuk bisa dibakar lagi..??
Saya secara langsung belum pernah mengetahui contoh bahan bakar yang renewable yang saya tau cuma sumber energy yang Renewable tapi tidak berbentuk bahan bakar dan tidak melibatkan reaksi pembakaran. satu lagi pak, tentang green fuel, sejauh yang saya pahami dalam suatu reaksi pembakaran ada dua unsur hasil pembakaran yang tidak dapat dihindari, yakni H2O dan CO2. apakan untuk Greenfuel, reaksi pembakaranya tidak menghasilkan CO2..??.
Maaf pak… saya gak begitu paham dengan Greenfuel ini, kecuali Cuma pernah dengar namanya doang..

Tanggapan 7 รขโ‚ฌโ€œ Fakhri

Dear All,

Menurut saya biofuel itu adalah green energy juga kalau dilihat secara global. Biofuel itu pada intinya memamfaatkan energi matahari yg digunakan oleh tumbuhan dalam proses foto sintesis untuk mengubah CO2 menjadi CPO.

Ini kan sama saja dg sel surya (proses foto sintesis buatan) yg merubah energi suyra menjadi energi listrik.

Kalau kita merambah hutan dirubah menjadi kebun kelapa sawit, sawit itu kan juga akan mengambil CO2 dari udara. Menurut saya artikel itu sangat provokatif.

Bagaimana pendapat yg lain?

Tanggapan 8 – SOEDARDJO@batan

Silahkan buka di

http://en.wikipedia.org/wiki/Renewable_energy

dan

http://en.wikipedia.org/wiki/Green_energy

serta

http://www.greenfuelonline.com/

Maaf jika belum menjawab pertanyaan.