Select Page

Bekerja mirip dengan berbisnis, yang produknya tidak lain adalah skill kita. Sebagaimana berbisnis, bekerja juga punya produk yang berbeda2 dan pangsa pasar yg berbeda2. Ada pangsa pasar karyawan tetap dan ada pangsa pasar karyawan kontrakan. Masing2 kita bebas memilih pangsa pasar mana kita akan bermain tentunya dengan segala kelebihan dan resiko masing2.

Tanya – Agus Setiawan Wahyu Wibowo

Dear Pak Rifai,

Mau sedikit bertanya sekaligus minta saran mengenai Loncat Profesi.

Apakah ada possibility untuk profesi diluar migas loncat masuk ke Migas?

Saya sendiri akui termasuk loncat profesi. Saya yang notabene Lulusan Teknik Mesin (Konversi Energi) dan Manajemen.
Waktu pertama kali kerja ketrima di salah satu perush Astra – bikin komponen mobil (nota bene buat lulusan teknik mesin-Teknik produksi/manufaktur).
Itupun pindah2 departemen. Produksi-Production Planning dan akhirnya Quality Assurance (System Development) ngurusin ISO dan Standarisasi lain.
Selama 2,5 tahun di perusahaan manufaktur Astra, saya merasa penat dengan kondisi perush yg lagi tidak Kondusif…

Pada akhirnya saya pindah ke salah satu Coal Mining Company di bagian Marketing & Sales. Honestly saya sangat enjoy disbanding kerjaan sebelumnya.
Diluar kompensasi dan Benefit yang lebih baik tentunya…Plus loncatan golongan jabatan yang saya peroleh dalam waktu 6 bulan….

Tapi apa karena emang dasar manusia yang tidak pernah puas….tetapi saya merasa bersyukur di kerjaan sekarang..

Tapi……masih pengen nantinya masuk ke migas….tentu tetep di Marketing.

MUNGKINKAH?

Tanggapan 1 – Pungki Purnadi

Dear Maz Agus Setiawan,

Jawabannya adalah mungkin saja, selama anda belajar banyak mengenai dunia migas, dan anda mau start from square one di dunia migas.

Sedangkan untuk bidang marketing, sayangnya tidak terlalu banyak posisi di upstream side, paling hanya untuk crude lifting (dengan lebih banyak masalah financialnya dan juga gas marketing yang lebih banyak bersifat international, berhubung client di dalam negeri masih belum terlalu prospek dan banyak) tapi kalau berminat di downstream side dan mengarah kepada distribusi dan penjualan, maka akan banyak kesempatan bergabung di dunia migas.

Jadi silahkan anda banyak mempelajari ilmu marketing didunia migas dan mudah2an ada kesempatan untuk bergabung disalah satu perusahaan migas.

Tanggapan 2 – Gunawan

Pak Agus. Kalau keseringan pindah bukannya tidak bagus?
Nanti dikira kurang loyal gitu. Bosenan dsb.

Tanggapan 3 – bowwo opi

Pak Agus yangpenting dapur bisa berasap dan senang di hati ……….go head aja ………., kepuasan adanya di dompet dan di hati .

Tanggapan 4 – Administrator Migas

Dalam rekruitmen karyawan, saya pribadi tidak menilai jelek orang yang sering pindah kerja.
Selama kompetensinya sesuai dengan yang kita persyaratkan, kenapa tidak ?.
Saya lihat para expat – baik bule, India, Philipina, dsb. – di CV-nya juga banyak pindah kerja kok.
Apalagi kondisi sekarang yang sering mencari tenaga kontrak dibandingkan permanent employee.

Pernah juga sih sebagai permanent employee selama 6-1/2 tahun.
Tapi apa daya, tawaran PHK sangat mengiurkan sehingga batal deh niat untuk nggak pindah-pindah kerja lagi.

Tanggapan 5 – Thomas Yanuar

Wah, ternyata saya tidak sendirian. Karena dari awal saya bekerja memang niatnya adalah kontrak. Setuju Pak Budhi, masalah loyalitas bukan membuta pada Perusahaan tapi loyalitas terhadap profesionalisme.

Tanggapan 6 – Gunawan

Biasanya perusahaan jepang yang seringkali alergi menerima calon karyawan yang suka pindah-pindah.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Februari 2008 ini dapat dilihat dalam file berikut:

Share This