Select Page

Akhirnya untuk pertama kalinya dalam sejarah (setahu saya), tim Lapindo (yang berpendapat bahwa semburan Lumpur adalah ‘bencana alam’) dipertemukan – head to head – dengan tim oposisi yang berpendapat bahwa semburan lumpur adalah dampak dari operasi pengeboran di sumur Banjar Panji #1. Pertemuan tsb difasilitasi oleh Forum Komunikasi Masyarakat Jawa Timur, bertempat di Sheraton – Surabaya, pada hari Kamis, tanggal 28 March 2008.

Pembahasan – Harry Eddyarso

Dear all,

Akhirnya untuk pertama kalinya dalam sejarah (setau saya), tim Lapindo (yang berpendapat bahwa semburan Lumpur adalah ‘bencana alam’) dipertemukan – head to head – dengan tim oposisi yang berpendapat bahwa semburan lumpur adalah dampak dari operasi pengeboran di sumur Banjar Panji #1. Pertemuan tsb difasilitasi oleh Forum Komunikasi Masyarakat Jawa Timur, bertempat di Sheraton – Surabaya, pada hari Kamis, tanggal 28 March 2008.

Tim Lapindo terdiri dari:

1. Mas Edi Sutriono – VP Drilling EMP

. Dr. Ir. Agus Guntoro – Geologist (Univ. Trisakti)

3. Prof. Sukendar Asikin – Pakar geology tektonik dan dosen senior ITB

4. Dr. Ir. Dody Nawangsidi – Pakar dan dosen Teknik Perminyakan ITB

5. Dr. Adriano Manzini – Geologist dan pakar mud volcano dari Norwegia (?)

Tim oposisi terdiri dari:

1. Dr. Ir. Rudi Rubiandini – Pakar pengeboran dan dosen Teknik Perminyakan ITB

2. Ir. Kersam Sumanta – Pakar pengeboran yang berpengalaman dalam mematikan semburan liar (Pertamina)

3. Prof. Koesoemadinata – Pakar geology dan dosen senior ITB

4. Dr. Ir. Andang Bachtiar – Pakar geology dan mantan ketua IAGI

5. Harry Eddyarso – Tukang Ngebor

Secara substansi, isi presentasi dari kedua tim tidak banyak berbeda dari pertemuan2 sebelumnya, namun kali ini dengan tambahan data yang semakin melengkapi data2 sebelumnya. Justru yang terbaru (pertama kali saya liat) adalah presentasi tentang drilling dari Mas Edi Sutriono yang menyampaikan presentasi dengan berapi-api, mungkin udah lama menahan diri (bahasa Jermannya: ‘ngampet’) untuk muncul ke permukaan karena mungkin belum dapat ‘green light’ dari manajemen Lapindo. Inti dari presentasi Mas Edi itu pada dasarnya adalah untuk menangkis pendapat tim oposisi yang mengatakan semburan itu akibat dari kelalaian pengeboran. Beliau sekaligus menegaskan bahwa secara konsep dan procedural tidak ada yang salah dalam operasi pengeboran sumur Banjar Panji #1. Jadi, semburan itu keluar dari ‘lubang lain’ yang direkahkan oleh gempa Yogya (gak ada hubungannya dengan lubang sumur Banjar Panji #1) – jadi murni bencana alam. Adapun argumentasi yang digunakan Mas Edi Sutriono di antaranya adalah:

* Di annulus yang keluar adalah air dengan berat 8.9ppg (ada di daily drilling report), sehingga dengan casing pressure 1054psi masih di bawah tekanan rekah formasi di 13-3/8′ casing shoe @ 3580ft, jadi tidak mungkin merekah.

* Casing design dibuat dengan menggunakan Landmark software dengan kick tolerance = 0.5ppg –> jadi tetap aman dengan 6000ft open hole section tanpa memasang casing 9-5/8′. Padahal program asli mengatakan bahwa casing 9-5/8′ harus di pasang di kedalaman 8500ft.

* Ditambahkan lagi: data2 drilling yang dipakai oleh Pak Rudi Rubiandini tidak factual (statement ini ditulis lagi di harian Kompas besoknya – Jumat, 29 Maret 2008)

Sedangkan dari tim oposisi, semakin banyak data yang kami sempat ‘intip’ dan semuanya semakin mengarahkan (memperkuat dugaan) pada kemungkinan merekahnya formasi akibat dampak dari aktifitas pengeboran. Bahkan kami bisa memperkirakan tanggal dan jam serta pada tindakan apa, formasi tsb mulai rekah berdasarkan data2 drilling tsb. sebelum semburan itu terlihat ke atas secara kasat mata oleh drilling crew di lokasi dan oleh masyarakat di hari berikutnya. Adapun untuk ketiga argumentasi Mas Edi di atas, saya menanggapinya sbb.:

* Selain pressure di casing annulus, orang2 drilling selalu memakai patokan pressure di drill pipe sesuai dengan kaidah2 ilmu ‘well control’. Kenapa? Karena kita tau pasti bahwa yang di drill pipe adalah semuanya lumpur bor (homogen) dengan berat 14.7ppg (ini juga ada di daily drilling report) sehingga bisa dihitung dengan tepat tekanan hidrostatik di setiap kedalaman. Sedangkan di casing annulus, fluidanya (influx) pasti campuran air formasi, gas, lumpur formasi dan lumpur pengeboran dengan proporsi perbandingan yang hanya Tuhan yang tau. Influx selalu berasal dari bawah ke atas, gak bisa langsung ujug2 ada di atas / permukaan. Dalam ilmu ‘well control’, pressure di casing casing dipakai sebagai data penunjang, tapi bukan sebagai patokan utama untuk menghitung tekanan hidrostatik dan ‘kill mud weight’.

* Dalam drilling practice, idealnya Kick Tolerance yang dipakai adalah at least 1 ppg. Bila kick tolerance antara 0.5ppg dan 1 ppg, kita harus sangat hati2 (ini menurut drilling manual Mobil Oil yang menjadi referensi teman2 Lapindo). Padahal menurut hitungan kami, kick tolerance yang dipakai Lapindo adalah 0.49ppg. Amankah? Ya aman2 aja bila operasi drilling berjalan dengan normal tanpa gangguan, tapi bila ada kick, semuanya bisa menjadi berantakan.

* Tentang data2 drilling: Setelah melihat sendiri data2 tsb, data2 yang dipakai Pak Rudi SESUAI dengan fakta yang ada. Justru data2 yang dipakai / dilaporlkan oleh Lapindo lah yang perlu dipertanyakan. Misalnya: data casing pressure maximum yang 1054psi, cuma dilaporkan 450psi. Juga tekanan rekah yang dilaporkan = 16.4ppg EMW, sementara di drilling report nya PT. Medici (kontraktor pengeborannya) tekanan rekah dilaporkan Cuma 15.7ppg EMW (atau MASP = 277psi). Lalu yang mana yang benar?

Secara umum, pertemuan di Sheraton Surabaya antara kedua tim itu cukup bagus, setidaknya sebagai langkah awal untuk pertemuan2 berikutnya. Kekurangannya tentu ada, di antaranya jangka waktu presentasi yang sangat terbatas serta audience yang mixed. Banyak juga warga korban lumpur Lapindo yang hadir dan mereka terpaksa nonton perdebatan antara kedua tim tanpa memahami masalah2 teknis. Sehingga saya mengusulkan untuk diadakan pertemuan lanjutan antara kedua tim dengan host Departemen ESDM dalam sebuah meeting tertutup yang focused (dikurung 3 hari 3 malam sampai ada konsensus bersama terutama untuk tindak lanjut solusi semburan lumpur tsb, di antaranya program relief well yang sempat terhenti waktu itu karena masalah2 non-teknis). Kalau program relief well ini disetujui untuk dilakukan kembali, tim Lapindo harus rela untuk tidak terlibat langsung. Kenapa? Ya bagaimana relief well bisa sukses BILA DIHANDLE OLEH LAPINDO, SEMENTARA BILA RELIEF WELLS TSB ‘MENEMBUS’ SUMUR BP #1 DAN TERJADI KOMUNIKASI, BERARTI ARGUMENTASI ‘GEMPA BUMI’ DAN SEMBURAN KELUAR MELALUI ‘LUBANG LAIN’ SECARA OTOMATIS AKAN GUGUR.

Sisi Lain Di Balik Adu Argumentasi:

Secara ilmiah, debat kayak ginian sih wajar2 aja, tapi karena ada implikasi hukum, cost, reputasi perusahaan, bahkan politis, insiden Lumpur Lapindo ini menjadi sangat sensitif laksana bola panas yang tak seorangpun mau menerimanya, sehingga paling aman ya diserahkan aja ke alam sebagai kambing hitamnya menjadi . Di sisi saya pribadi, mungkin ini case yang paling sulit buat saya karena teman2 Lapindo itu teman2 baik saya. CEOnya adalah ‘paman’ saya sendiri walaupun cuman dalam lakon ketoprak ‘Peristiwa Bubat’ dan sama2 pendiri APPI :-).

Lalu kenapa saya memutuskan untuk ikut terlibat? Karena setidaknya ada 4 hal:

* Sebagai professional, kita semua bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui terhadap apapun yang kita lakukan di dunia ini

* Sebagai sesama manusia, saya gak tega melihat penderitaan masyarakat Sidoardjo korban2 lumpur tsb, apalagi sudah hampir 2 tahun masih gak jelas nasib, hak2 dan masa depan mereka.

* Secara moral, saya harus mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data, fakta dan kompetensi saya sebagai tukang ngebor sumur dalam koridor dunia keilmuan dan kaidah2 ilmiah. Tidak ada masalah menang-kalah disini, but we have to do something for solving the long outstanding problem, terutama menolong saudara2 kita para korban itu. Apalagi sampai saat ini institusi dan asosiasi para ahli yang berwenang masih diam saja, gak ngerti aku, kenapa??. Di sisi lain, ada proses
penyelidikan yang tidak transparan, tidak berimbang dan menjurus pada konklusi ‘bencana alam’ yang controversial itu, bahkan akhir2 ini oleh tim bentukan DPR (??)

* Sebagai drilling professional, saya ingin berkontribusi dalam mencari solusi agar bencana lumpur ini serta penderitaan saudara2 kita di Sidoardjo itu segera berakhir.

Silakan Mas Edi Sutriono dan rekan2 lainnya untuk menanggapinya sebagai forum pembelajaran buat anggota2 milis semua. Bila ada yang tidak berkenan, saya mohon maaf yang sebesar2nya.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia :

Share This