Mau tanya tentang repair vessel di site karena vendor error. 1. Tahapannya apa saja, misalnya kalau terjadi missing pipe support clip, atau nozzlenya bocor ; 2. Document2nya yang perlu disediakan apa saja; 3. Inspeksinya nanti apa saja. Di bawah ini juga banyak istilah yang masih saya bingung dan ada hubungannya dengan di atas : 1. WPS/PQR apa ?? bedanya ?? hubungannya dengan IA ??; 2. Back gouging ??

Tanya – Rudi Herlambang

Mau tanya donk tentang repair vessel di site karena vendor error

1. Tahapannya apa saja ya , misalnya kalau terjadi missing pipe support clip, atau nozzlenya bocor

2. Document2nya yang perlu disediakan apa saja

3. Inspeksinya nanti apa saja

Di bawah ini juga banyak istilah yang masih saya bingung dan ada hubungannya dengan di atas

1. WPS/PQR apa ?? bedanya ?? hubungannya dengan IA ??

2. Back gouging ??

3. dll yang mau menambakan silahkan

Saya juga tertarik dengan ilmu fabrikasi vessel nih sepertinya orang2 fabricator lebih jago kalau boleh orang fabricator cerita donk dari proposal client sampai jadi barang. Maaf saya banyak tanya , karena tidak tahu apa yg harus dikerjakan.

Tanggapan 1 – Adha Ismail

Saya ingin memberi masukan

1. WPS = Welding Procedure Specification merupakan dokumen yang menjadi dasar welder melakukan pengelasan. sedangkan PQR = Procedure Qualification Record merupakan proses pengujian specimen material tertentu yang nantinya melengkapi data2 di WPS.

Kurangnya saaya mohon maaf, mohon ada masukan lagi rekan.

Tanggapan 2 – Kautsar

Assalamualaikum WRWB

FROM MIGAS INSPECTION POINT OF VIEW

PQR=Procedure qualification record…

merupakan suatu eksperiment dari bermacam-macam proces pengelasan..suatu uji coba trial and error, sehingga menghasilkan suatu formula pengelasan yang kekuatannya teruji…Nah ini merupakan rahasia dari setiap manufacture sehingga seringkali mereka membuat database dari bermacam-macam PQR. Ini biasa juga disebut sebagai ‘BUMBU’ bagi orang engineer,

WPS=Welding procedure specification..

merupakan hasil dari kumpulan PQR yang diramu sedemikian rupa untuk menciptakan formula pengelasan tertentu buat suatu produk.

Jadi tidak bisa dikatakan seperti duluan mana ayam sama telur…Mereka yang backgroundnya engineering pasti tahu jawabannya mana yang duluan dibikin, karena punya filosofi engineering.

BACKGOUGING= adalah gouging (menghilangkan las-an dengan media tertentu) yang dilakukan dibagian las-lasan tertentu , untuk dilakukan Capping (dilas lagi) jadi posisi pengelasan seperti double V (Bolak-balik).

Document yang perlu disediakan untuk migas seperti document fabrikasi new vessel, cuma diganti/ditambahi istilah ‘repair’.

Inspeksinya adalah :

– Verifikasi material (disesuaikan dengan material yang cocok dengan ASMEVIII kalo pakai ASME CODE)

Jika blank material, maka harus dilakukan Positive Material Identification (PMI)

– Penyiapan dokumen selengkapnya untuk keperluan migas tolong dilihat di ITP (Inspection Test Plan) attachment.

Nah ITP ini yang harus Sampeyan bikin dulu kalo Sampeyan sebagai Manufactur, Kalo sebagai client ya mintain manufactur bikin seperti ini, lalu di kasihkan ke perusahaan Inspeksi (PJIT) yang ditunjuk MIGAS, lalu ditandatangani oleh client (untuk amannya setelah direview/approve dari PJIT)….Setelah itu baru minta sign MIGAS…Dokument yang perlu dilampirkan adalah yang ada di kolom ‘Q/A Document Dossier Include’.

Kalo AI saya tahu, Authorized Inspector…Kalo IA saya gak tahu.

Kalo ada yang membingungkan, silahkan nanya-nanya lagi.

Tanggapan 3 – Yudha_Dwinanda@fmi

Assalamualaikum WR.WB

Pak saya mau bertanya, apakah ada batasan untuk suatu hasil lasan harus di repair ato tidak, misal nya berapa persen cacat yang diizinkan dari volume logam las sehingga hasil las2 an tersebut dinyatakan aman. Apakah seorang WI berhak melakukan repair terhadap hasiil penglasan? Atau step2 untuk repair nya harus di review dulu oleh WE? Apa saja batasan kerja untuk seorang Welding Inspector?M

Terima kasih atas petunjuk nya.

Tanggapan 4 – roeddy setiawan

Pak Yuda,

Mudah mudahan bener nih, tapi kalu engak yang lain pasti membantu melengkapi. pendapat saya bukan dari persen atau fraksi yang cacat lalu bisa di waive pak. tapi lebih kepada penilaian dr misal nih ‘jula juli’ nama benda yang digatuk gatuk dg las lasan. .criteria reject nya adalah integritas dr jula juli di pinggang di punggu ng atau di kakinya sama, misal jula juli pake material yang 36 k ksi, nah kalau inspectur atau siapa saja merasa proses penggatukan itu hasil integrity nya dipertanyakan yah harus repair dong pak, orang ngak susah juga kan repair nya.

Pertanyaan lanjutan, batasan akseptable banyak sekali, visual, slag, porosity not enough penetration , capping nya bloon dan lain tapi . semuanya ada di manual itu pak.

WI kalau masih mahir ngelas dan pnya qualifikasi yang masih berlaku boleh saja melakukan tindakan, .

Tentunya semua prequalifikasi sudah, repair procedure ada , kadang untuk suatu keperluan yang husus, repair itu tidak bisa dilakuakn, jadi yang reject itu ke junk dibuang. . misalnya repair itu mmembuat haz nya melebar sehingga sekarang, , nah kalau bapak bikin header buat wellhead di offshore yng repet repet, kalu setelah dijitunghjarak antar flange ke flange sebelahnya jadishort, kalu di reapair maka dr jarak minimumtidak cukup, yah di junk sisi bikin yng kecil stelah d nyardaya lupa2 ingat, detailnya, asal mula nyas. tapi sdh dikerjakan. kurang sip harus repair .

Tanggapan 5 – Holland, Simanjuntak H.

Pak Budi – Pertanyaan bagus dari Sdr. Yudha. Kita juga mengalami hal yang sama disini. Dari annual integrity inspection ditemukan 35% circumferentical crack di welding joint of 2′ blowdownline connected to 10′ HP flare header (see sketch below).

Inspectornya mengatakan shutdown the topside dengan segala konskewensinya tanpa memberikan dasar perhitungan dan assessment yang jelas kenapa harus shutdown sekarang.

Mohon Pak Budi meneruskannya ke KBK Las atau pihak2 yang kompeten.

Tanggapan 6 – roeddy setiawan

Dear Milis,

Pendapat saya pertanyaan pak Holland dan pak Yudha sama tentang repair, tetapi penanganannya berbeda..

yang saya baca dr posting pak Yudha, situational di tempat fabrication, semua option untuk melakukan repair tersedia, tanpa ada conditional tinggal third party, comp rep dan fabricator.

Untuk kasus pak Holland , saya baca facility on , dan harus shutdown untuk repair, very different. yang diperlukan pak holland saya kira selain repair prosedur , eksekusi pelaksanan, memerlukan beberapa hal lain yang mengarah bagaimana pak Holland gauging the risk, kalau kesimpulan dr facta yang dikumpul risk nya tidak bisa dimanage tentu saja immediate shutdown jawabannya.
Tapi dr fact yang agak kabur, tidak semua fact dr persoalan yg pak holland posting tersedia. misalnya berapa jauh tempat crak dg 10′ header, berapa jauh dr point intersection ke flare yang punya pressure definit, berapa besar thruput upset condition pd dan seterusnya , sehingga pak Holland tahu di tepat crak, yang masih punya 65% integrity nya lebih besar dr hitungan ,
opini saya kalau hitungan < dr 65% integrity , risk nya bisa di manage, tentunya bshutdown at your disposal, dicari waktu yang nmemang buat shutdown, say bareng dg 4000 hr compressor dst. kalau tidak bisa dimanage immediate s/d spt yng disarankan inspektor anda.

Tanggapan 7 – Dirman Artib

Pertanyaan Pak Holland sih sebenarnya adalah ‘Apakah memang harus dishutdown sekarang?’, dengan kata lain kalau tidak sekarang apakah beresiko ? Seberapa besar rrsiko tersebut ?

Sependek pengetahuan saya, crack tidak dibolehkan dalam performance welding, jika ada crack maka hasil welding tidak dapat diterima, maka hasil welding boleh direpair (kalau bisa, kalau memungkinkan dan/atau kalau menguntungkan) atau dibuang (reject).

Pada umumnya seorang welding inspector murni hanya mempunyai otoritas untuk melaporkan adanya crack dan jelas crack tidak dapat diterima dari aspek pengelasan. Pengoperasian produk hasil welding bukanlah wewenang sang Welding Inspector, tetapi harus dikendalikan oleh personnel yang menjadi process owner setelah welding misalnya Plant Manager. Seorang Plant Manager tentulah harus menerima masukan dari semua pihak yang mempunyai interest sebelum megambil keputusan dan rencana tindakan. Judgment apakah hasil welding dapat dipakai sementara maupun agak lama seyogyanya adalah outputs dari Management Process (bukanlah output dari inspection process). Sebaiknya Plant Management team melakukan diskusi dan studi dengan melibatkan beberapa disiplin yang relevant termasuk misalnya Reliability Engineer/Reliability Inspector untuk melakukan Cost and Benefit Analysis dan testing terhadap 2 keputusan yaitu jika shutdown sekarang atau sesuai rencana maintenance yg normal. Saking fokusnya dengan masalah teknis, terkadang kita lupa untuk melibatkan departemen keuangan, karena jika anda shutdown pasti merobah rencana cash flow anda, ya kan ? Ntar mereka dapet pusingnya doang 🙂

Tanggapan 8 – soegijarto den

Saya baru bergabung di milis ini, tertarik untuk ikut merespon tentang WI dan Crack,
WI adalah seseorang yang diberi tugas dan wewenang untuk menentukan hasil lasan/welding telah memenuhi syarat/kwalitas yang disepakati (Standard / Code), dalam hal ini WI bisa berfungsi sebagai wakil dari Pemerintah, badan asuransi, kontraktor atau manufacturer, WI tidak boleh mengeluarkan pernyataan kritik, Argumentasi, kebijaksanaan kepada kontraktor atau subcont
(misal dia sebagai wakil pemerintah atau main kontraktor).
Crack, kalau dilihat dari gambar dibawah bisa terjadi karena preheat temp. pada waktu akan melakukan pengelasan kurang / jarak pemberian preheat terlalu dekat sehingga pendinginannya cepat, atau bisa juga filler metal nggak sesuai, seharusnya filler metal disamakan/sesuai dengan jenis Weldoletnya, jika jenis material header dan weldolet tidak sama. serta crack terjadi oleh sebab lain, misal handling pada waktu material selesai di weld tetapi belum di PWHT.
Crack, dari hampir semua standard/code tidak mengijinkan dan harus diremove, sedangkan untuk prosedur repair tentunya WE / Manufacturing Eng. yang membuat.
Sekian dari saya jika ada yang salah mohon dikoreksi.