Select Page

Kita tahu saat-saat ini banyak sekali orang ingin migrasi dari jalur Electronik ke Jalur migas, banyak yang mengambil kursus-kursus yang berbau migas seperti NDT, WI dll.

Demi bisa mendapatkan pekerjaan di jalur Migas, karena kalau di lihat memang masa depannya lebih menjanjikan daripada kerja di perusahaan Electronik yang kadang hanya mengandalkan gaji tambahan dari Overtime.

Tanya – tatik-aya

Yth, anggota milis

Perkenalkan saya member baru di Milis ini, nama saya Tatik seorang Management Representative di salah satu perusahaan Swasta di Batam.

Saya ingin sekali minta advice dari member di sini yang menurut saya sudah banyak pengalaman asam, manis, asin di dunia migas.

Kita tahu saat2x ini banyak sekali orang mo migrasi dari jalus Electronik ke Jalur migas, banyak yg ambil kursus2x yang berbau2x migas seperti NDT, WI dll.

Demi bisa mendapatkan pekerjaan di jalur Migas, karena kalau di lihat memang masa depannya lebih menjanjikan daripada kerja di perusahaan Electronik yg kadang hanya mengandalkan gaji tambahan dari Overtime.ha ha ha ha..

Nah di sini saya minta advicenya: Karena saya Cewek, usia 35tahun, pengalaman kerja di bidang QA Manager, Management Representative, ISO Engineer (Stamping Company, Electronic Company, Casting Company).

Saya berniat nih..ikut2x tan migrasi ke Migas Company, tapi saya bingung, sebaiknya bidang manakah yg perlu saya incer/ focus? Dan kursus2x apa yg seharusnya saya ambil untuk bisa improve skill saya?

Secara lulusan formal saya bener2x gak nyambung sama bidang saya yaitu Diploma Accounting.

Terima kasih atas advicenya.

Tanggapan 1 – dimas yudhanto

Mbak Tatik,

Advise saya simple, fokus, concern dan tekunilah pekerjaan Anda skg, kemudian bisa mengambil sertikasi keahlian yg ‘laku’ tidak hanya di industri migas tapi bisa dikatakan d semua industri. Sebagai contoh, Anda seorang akuntan, Anda bisa mengambil sertifikasi akuntan, tax auditor, certified financial analyst, certified management dsb.

Saya ingin diskusi menarik yg related topik nya dengan HR.

Sharing pengalaman selama saya bekerja, sah2 saja pindah bidang asal related experience, semisal akuntan di bidang elektronik kemudian menjadi akuntan di bidang migas.

Begitu pula utk kualifikasi engineer. Namun yg cukup memprihatinkan, malah yg berjenis engineer ini cenderung pragmatis dan oprtunis. cukup sering, saya dan rekan2 mengalami, ketika rekruitment utk posisi fresh entry/junior engineer, yang melamar adalah rekan2 dengan experience kerja lebih dari 5 tahun, di bidang yg berbeda, semisal electrical engineer di manufacture elektronik/otomotif. mereka2 ini mau digaji dengan standar junior/fresh yg tentu nya bisa lebih rendah dari salary mereka saat itu. dari sisi kualifikasi, kita tentu senang, karena jelas mrk lebih adaptif dan responsif dibanding rekan2 yg bener2 fresh graduate, namun..jangan keliru, 99% dari type ini adalah oportunis sejati, yang hanya menjadikan perusahaan Anda batu loncatan, belajar di bidang engineering migas utk kemudian pindah ke perusahaan lain. secara etika sih sah-sah saja, namun silakan dipertimbangkan apabila Anda di bidang project dan meng-estimasi durasi project tsb sekitar 2-3 tahun, namun baru 10-12 bulan, pegawai Anda sudah loncat.

Saya sendiri cenderung utk memberikan kesempatan dan prioritas pertama kepada rekan2 fresh graduate apabila memang posisi yg diperlukan adalah junior engineer. orientasi adik2 kita ini adalah belajar dan mengaplikasikan ilmu mereka d bangku kuliah, sedangkan MONEY nomor sekian.

Tanggapan 2 – yellow submarine

To Mas Dimas,

Saya kira kurang sependapat dengan pandangan sampeyan tentang rekan2x dari luar migas yang cenderung pragmatis dan opurtunis.

Kurang fair rasanya kalau kita hanya menjatuhkan vonis tsb kepada rekan2x yg punya experience di luar migas.

Namanya manusia pastilah tidak pernah merasa puas dengan apa yg telah di dapatnya, dan ini berlaku bagi setiap orang, tidak perduli apakah dia fresh graduated maupun yg punya experience.

Saya bekerja di salah satu electronic manufacture terbesar di Batam, perusahaan kami pernah merekrut sekitar 15 orang fresah graduated dari beberapa univ. negeri yg terkemuka di pulau Jawa dengan harapan seperti yg sampeyan sebutkan di bawah (loyal dan tidak money oriented). Tapi apa lacur, dari 15 orang ini 5 orang keluar di bulan ke 6 mereka bekerja, 2 bulan berikutnya 3 orang menyusul (run away) dan akhirnya di tahun pertama tinggal satu orang saja yang tersisa.

Mahasiswa sekarang sudah sangat pintar2x dalam memilih dunia kerja, mereka punya jaringan informasi yang sangat kuat sesama alumni nya, mereka dengan sangat gampang mencari tau ttg std gaji di tiap2x perusahaan yang mungkin ada rekan mereka disana.

So, jangan tertipu dengan status fresh graduated lah, klise banget deh alasan yang mengatakan motivasi mereka bekerja adalah untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah.

Solusi satu2x nya adalah win2x solution, sah2x saja pihak perusahaan khawatir si karyawan akan lari setelah memperoleh sedikit pengalaman dari perusahaan migas tsb, tapi kan bisa dibuat kesepakatan ikatan kerja (kontrak) yang bersifat mengikat, misalnya dengan menahan ijazah asli si pelamar tsb.

Jadi si calon pelamar tidak akan bisa sesuka hati runaway dari ikatan kerja tsb.

Intinya yang perlu dibenahi adalah system nya

Tanggapan 3 – muhammad rifai

Membaca cukup banyak yang pengen hijrah dari bekerja yang non migas ke migas, mungkin ada beberapa hal yang malah jadi pertanyaan saya. Salah satunya, ada apa dengan bisnis yang non migas? Kenapa bisa nggak menarik, padahal bisa jadi sama saja kok. Bahkan, waktu masih kuliah dulu saya malah nggak tertarik tuh… meski sekarang, terpaksa nyebur juga… apply sana sini, termasuk ke astra… mentok di IPK… setelah 2 tahun di fabrikator pressure vessel… terpaksa deh nglanjutin jalur…

Memang agak beda, karena di migas, katanya lebih menjanjikan (memang demikian kalau dibanding ketika berita-berita penutupan pabrik elektronik, pabrik sepatu dll), saya juga nggak bisa mbandingin sama area lain, maklum hanya ngikutin satu milist profesional, ya milist migas ini, yang sering-sering share lowongan… luar negeri lagi.

Jangan jangan mbak Tatik juga Cuma ikut milist migas saja? ya pantes kalo gitu… lowongan pastilah urusan migas.

Kalau yang saya alami (sekarang baru terperosok di negeri jiran, maklum di negeri sendiri terpaksa bekerja dibawah naungan expat lokal), bedanya hanya kalo di migas (sama perusahaan sepatu kali), peluang kerja ke luar negeri lebih terbuka… apalagi untuk gas, karena kita kan salah satu negara yang kaya migas… artinya pengalaman kitanya sudah semestinya diakui. Asal kita bilang dari arun atau badak, satu passport ke middle east kita kantongi.

APA IYA, YANG NON MIGAS NGGAK MENARIK?

Kalau soal para ex-IPTN yang terpaksa ngganggur gara-gara phk besar-besaran… menurutku yang salah bukan per-kapal terbangan… tanya deh habibi

Kalau mbak Tatik melihat Stamping Company, Electronic Company, Casting Company, nggak lagi menarik, menurutku juga bukan usaha bidang tsb yang salah… ingat, rumput tetangga kelihatan selalu lebih hijau.

Coba deh, jika saja kita sudah bisa buat mobil merek nasioal, pastilah mbak Tatik akan bilang,… untung saya nggak jadi hijrah,.. karena sekarang sudah punya pabrik sendiri, Tatik Stamping Company.

Jika pompa buatan nasional sudah banyak dipakai dipasaran… casting perusahaan mbak Tatik bakal kuwalahan nanganin order dalam negeri

Jika dan hanya jika, …

Tanggapan 4 – monkey_cutes

Ikutan nimbrung ni ya…

Dari hasil aku crita2 sm tmn2 ku slm ini…mereka kalo ditanya apa alesan mereka milih jurusan buat kuliah..most of them pasti jawabannya ‘soalnya kalo gw ngambil jurusan ini ntar pas gw kerja duitnya gede’. aku blm nemuin tu ada yg jawab ‘krn pengen tau bidang itu’ meskipun somewhere out there pasti ada yg punya pemikiran kayak gitu. nah kalo alesan mereka pas milih jurusan buat kuliah aja udah money oriented gitu..gmn pas mereka udah kerja coba???

jadi fresh graduate ato bkn kayak’nya sama aja deh..sama2 kerja buat nyari duit,kalo ada yg duitnya lebih gede,namanya juga manusia,pasti pindah ke yg lebih gede duitnya dong… 🙂

Share This