Select Page

Terdapat dua instrumen evaluasi investasi yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu investasi akan dilakukan atau tidak. Instrumen tersebut adalah Net Present Value (NPV) dan yang kedua adalah Internal Rate of Return (IRR). Dalam melakukan investasi tentunya harus dilakukan perbandingan antara investasi yang satu dengan yang lainnya misalnya uangnya diinvestasikan di bank saja, karena bunganya lebih menarik. Investasi terbaik akan didapat apabila NPV dan IRR sama-sama bernilai tinggi. Pada kasus tertentu sering dinyatakan bahwa IRR dengan nilai yang tinggi akan lebih menguntungkan daripada investasi dengan nilai IRR yang lebih rendah, walaupun tidak demikian, karena pada kondisi tertentu IRR bisa menyesatkan.

Tanya – hadi muttaqien

Dear rekan MIGAS,

Dalam rangka budgetary suatu proyek mohon kiranya rekan2 ada yang bisa share mengenai NPV & IRR, suatu proyek dianggap menguntungkan bila NPV gede IRR kecil atau NPV kecil IRR gede?
Kalau secara Financial Management ada pepatah TO MAXIMIZE SHAREHOLDER VALUE , bisa artinya NPV yang gede dan IRR kecil yang dipilih.

Tanggapan 1 – M Zaki Zulqornain

Mestinya dua2nya gede dong.

Tapi sbg rujukan, kriteria pertama adalah NPV positif dan terbesar, baru kemudian kriteria berikutnya (IRR, ROI, PP, etc).

Kenapa yg didahulukan NPV dibandingkan yg lain? Secara sederhana, karena NPV merepresentasikan nilai keuntungan yg akan terjadi di masa depan, pada masa skrg.

Parameter2 lain kebanyakan hanyalah berupa rasio, tidak menggambarkan nilai uang/keuntungan dari investasi yg akan dilakukan.

Tanggapan 2 – hadi muttaqien

Pak M. Zaky,

Saya sependapat dengan anda mengenai NPV terbesar yang terpenting, tapi saya masih hati2 dengan IRR karena menyangkut waktu dan besarnya bunga yang harus dibayar, karena kemungkinan IRR bisa membuat NPV sebuah peluang investasi sama dengan nol.
Terimakasih untuk tanggapannya.

Tanggapan 3 – M Zaki Zulqornain

Pak Hadi,

Secara matematika, IRR didapat dg mencari nilai discount rate yg membuat nilai NPV menjadi nol, jadi pernyataan Bapak bahwa ‘kemungkinan IRR bisa membuat NPV sebuah peluang investasi sama dengan nol’ itu rancu, karena memang secara matematika definisi IRR adalah seperti yg saya sebutkan di atas.

Coba lihat di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Internal_rate_of_return dan http://en.wikipedia.org/wiki/Net_present_value

Kenapa IRR didapat dari mencari discount rate yg membuat NPV = 0? Karena itu menggambarkan ekspektasi investor akan tingkat pengembalian investasinya.
Jika IRR tinggi, artinya ruang utk ekspektasi thd tingkat pengembalian investasinya cukup lebar (dari rentang nilai free risk interest, misal obligasi negara, yg relatif rendah karena tdk butuh premium akibat free risk, sampai ke nilai IRR investasi, yg cukup tinggi). Jika IRR rendah, maka rentang tsb sempit.

Misal jika IRR suatu proyek 30%, maka investasi tsb dipandang lebih baik dari proyek dg IRR 20%, karena jika dikenakan tingkat ekspektasi pengembalian investasi 30%-lah maka investasi itu cuma bisa impas (NPV = 0), sementara jika dikenakan tingkat ekspektasi lebih rendah dari 30%, let say 25%, maka NPV proyek tsb positif.

Sementara utk investasi dg IRR 20%, maka ketika dikenakan tingkat ekspektasi pengembalian investasi sebesar 25%, maka NPV-nya menjadi negatif. Artinya si investor hanya boleh memasang tingkat ekspektasi maksimal 20% (yg cuma untuk menjadi impas saja).

Kalau mau mempelajari finance secara online, bisa ke situs ini: http://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/

Mudah2an membantu.

Berikut adalah tanggapan dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Maret 2008:

Share This