Condition Monitoring sudah cukup lama diterapkan di Indonesia. Ini bisa dilihat dari banyaknya vendor di bidang condition monitoring baik yang berbasiskan Vibration, Oil Lube/Grease Analisis ataupun thermography. Jadi secara umum penerapan Condition Monitoring sudah bukan hal yang asing di Indonesia, tetapi bila pertanyaannya diarahkan kepada seberapa besar hasil condition monitoring itu berdampak pada COST REDUCTION/SAVING di Indonesia..maka jawabannya masih sangat sulit di cari.

Tanya – Maurina Andriana

Rekan2,

Saya lagi tertarik dengan dunia operation and maintenance, terutama mengenai condition monitoring sebagai bagian dari predictive maintenance.

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaiman perkembangan condition monitoringg di Indonesia? sudah sejauh manalah aplikasi online monitoring digunakan? dan tren ke depannya akan seperti apa?

Lantas, apakah oil company sudah banyak yang mengaplikasikan condition monitoring dalam maintenance program mereka.
Ini menarik, karena kemaren waktu saya berkunjung ke kantor StatoilHydro, mereka memperlihatkan sistem online monitoring mereka. StatoilHydro menggunakan sistem online dan offline untuk vibration analysis mereka. Dan juga mereka juga meng-outsource-kan kepada SKF utk oil analysis. Terlihat bahwa StatoilHydro sangat serius dalam memberikan porsi terhadap pekerjaan condition monitoring.

Apakah di Indonesia juga demikian? Terima kasih buat info2nya.

Tanggapan 1 – Anas Rosyadi

Implementasi condition monitoring di Indonesia sudah cukup lama kok Pak.
Saat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan condition monitoring. Pertanyaan yang menarik : apakah implementasinya sudah sesuai dengan harapan perusahaan?

Beberapa teknologi condition monitoring yang banyak digunakan di Indonesia :

1. Vibration (online dan offline)

2. Tribology (oil analysis)

3. Infrared Thermography

4. Motor Diagnostic (MCSA, flux dll)

5. Ultrasonic

6. Partial Discharge

7. DGA

Perkembangannya dalam waktu yang akan datang tentu sangat menarik karena tuntutan dari perusahaan untuk mendapatkan availability yang tinggi dengan cost yang optimum. Seiring dengan perkembangan teknologi, banyak perusahaan yang mengoptimalkan kegiatan PM dengan diimbangi dengan implementasi PdM. Best practice-nya, PdM idealnya menempati porsi 45 – 55 %. Kl Bapak lihat, kebutuhan condition monitoring specialist di beberapa lowongan juga banyak, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan beberapa teman saya yg sudah certified sebagai international vibration analyst sdh banyak yg ‘terbang’ ke tim teng.

Oil Company sdh banyak yg melakukan, baik untuk rotating equipment maupun reciprocating, spt vico, chevron, conocophillips dll. Bahkan beberapa waktu yg lalu, salah satu pembangkit di Indonesia (400 MW) melakukan perpanjangan waktu overhaul dengan melakukan condition monitoring yang sangat intensive dengan menggunakan beberapa teknologi di atas. Kebetulan kami terlibat di dalamnya.

Utk online monitoring, pada umumnya digunakan untuk PROTECTION system, bukan untuk PREDICTION system. Namun saat ini sudah ada online monitoring yg digunakan untuk PREDICTION system.

Saat ini juga banyak perusahaan yang meng-outsourcing kan kegiatan PdM nya ke perusahaan yang fokus di bidang PdM Services.

Tanggapan 2 – Maurina Andriana

Ehmm,…menarik sekali. saya baru tahu ternyata perkembangan CM di Indonesia juga sudah lama ada.
Maklum, krn sebelumnya ini bukan bidang saya. Jadi skr bgt mengenal bidang ini, jd pengen tahu mendalam.

Saya tertarik dengan pernyataan pak Anas mengenai ‘apakah implementasinya sudah sesuai dengan harapan perusahaan?’

Pastinya lah target mendasar dari maintenance adalah mencapai maintenance effectiveness, dan peningkatan plant availability, dan reduced maintenance cost.
Tp, itu kan tidak harus dilakukan dengan CM. Bisa saja untuk suatu perusahaan, saat dia melakukan optimal maintenance calculation, mungkin melalui RCM, maka didapatkan kesimpulan bahwa PM saja sudah cukup tanpa perlu campur tangan PdM, apalagi mungkin pake fasilitas online monitoring.

Pertanyaan saya nih, sebagai orang awam, apakah pertimbangan dan analisa seperti ini juga benar2 diaplikasikan dalam pemilihan metoda mana yang tepat untuk maintenance?

Dan saya tertarik dengan pernyataan bahwa ‘ based on best practice, PdM idealnya menempati porsi 45 – 55 %’. Kl boleh tahu pengukuran angka itu ditentukan dari mana ya, pak?

Tanggapan 3 – farabirazy albiruni

Ibu Maurina,

Aplikasi system condition monitoring terkait erat dengan isu safety. Semakin tinggi resiko suatu operasi pabrik, maka semakin banyak system online condition monitoring yang digunakan. Untuk pabrik2 pupuk di Indonesia sepengetahuan saya susah menerapkan sistem online monitoring vibrasi pada item2 rotating kritis. Di oil and gas juga ada beberapa yang memasang online monitoring korosi pada pipa.

Mengenai statement saya di atas, saya ambil kasus instalasi nuklir. Di instalasi nuklir selain online vibration yang sudah umum dipakai, juga digunakan system ALMS (Acoustic Leak Monitoring System) menggunakan metode acoustic emission untuk pipa. Pipa2 temperatur tingggi juga mulai diterapkan sistem online monitoring dengan teknik laser based UT menggunakan Air-Coupled Transducer. Malah di Jepang dan Korea, saat ini sedang dilakukan penelitian intensif mengenai teknik online monitoring untuk superheater tube dengan teknik ET untuk mengetahui tebal deposit pada tube di instalasi nuklir generasi IV mereka.

Trend ke depan memang menuntut semakin efisiennya operasi pabrik yaitu dengan meminimalkan terjadinya shutdown total dan menerapkan online monitoring. Namun menurut saya gak semua system dapat diterapkan online monitoring karena kompleksitas system itu sendiri dan tentu saja kompromi dengan cost yang harus dibayar. Offline dan online monitoring akan tetap dikombinasikan sesui dengan kebutuhan masing2 perusahaan.

Tanggapan 4 – Gunawan Siregar

Maurina,

Di Indo, cond-mon sudah lama & banyak dilakukan. Critical machines, seperti Turbine atau Compressors yang harganya jutaan dollar sudah lama di monitor secara online sejak tahun 1990-an, misalnya mulai dari Bently Nevada seri-7200, sampai sekarang model seri-3000, GE Speedtronic, Entek IRD, dst…dst.Yang saya tahu pasti di kilang LNG Arun dan juga Bontang. Biar nggak penasaran gitu lho.

Tanggapan 5 – Maurina Andriana

Hahahaha,….pak Gun, ini tau aja kl saya sangat penasaran.
makasih buat info-nya pak. nanti saya akan ngerecokin pak Gun lagi kl saya ada banyak pertanyaan 😀

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan Bulan April 2008 dapat dilihat selengkapnya dalam file berikut: