Select Page

Menyimpulkan bahwa kualitas tabung jelek sebagai sebab musabab kejadian ledakan tanpa penelitian mechanical integrity yang menyeluruh adalah hal yang konyol. Dalam process safety kekuatan integrity tabung adalah yang lapisan proteksi paling inti, jika tabung bocor (bukan hose atau regulatornya lho), matilah sudah! Sebab lain adalah Hose, Regulator, dan tentu saja Human Factor. Dengan kondisi kemiskinan dan pengetahuan yang kurang, bisa jadi Human Factor lah yang paling besar –> ini baru dugaan, belum tentu benar (perlu investigasi menyeluruh).

Tanya – Amal Ashardian

Bisakah di share ………design dari tabung gas 3 kg mulai dari tabungnya sampai ke flare (kompor) nya,
kenapa banyak makan korban…apalagi korbannya dari kalangan kelas bawah, yang sudah susah hidupnya, malah sakit atau mateee, koit ngenes kebakar kompor gratisan.

http://www.myrmnews.com/indexframe.php?url=nusantara/index.php?q=news&id
=7867

Tabung Gas Meledak, Walikota Palembang Introgasi Pertamina

Selasa, 01 April 2008, 06:39:52 WIB

Laporan: Tuahta Arief

Jakarta, myRMnews. Meledaknya beberapa tabung gas konversi tiga kilogram di Kota Palembang, membuat Pemerintah Kota (Pemkot) setempat prihatin.
Walikota, Eddy Santana Putra, mengatakan, ia bakal mengundang pihak Pertamina untuk membahas masalah meledaknya kompor gratisan ini.

Wajah Eddy sendiri, tampak memerah ketika mendapat laporan Kepala Dinas Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) A Sattar HY bahwa sudah empat tabung konversi yang meledak.

‘Kalau menyangkut masalah warga, seharusnya keamanan diutamakan. Jangan mentang-mentang untuk warga kurang mampu, kualitasnya rendah, mudah meledak dan merugikan warga,’ cetus Eddy dengan nada kecewa, ketika mengadakan rapat koordinasi evaluasi dan monitoring pelaksanaan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di jajaran pemkot tahun 2007-2208, di Aula Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), Senin (31/3).

Eddy menyatakan siap membawa persoalan meledaknya kompor gratisan ini ke Pertamina pusat (Jakarta).

‘Yang pasti, kita undang dulu pihak Pertamina (Palembang). Kita minta dulu keterangan mereka kenapa kok bisa meledak. Kita juga ajak pihak YLKI (Yayasan Perlindungan Konsumen Indonesia) untuk membahas masalah ini. Karena YLKI, merupakan lembaga yang mendukung warga,’ tukas Eddy.

Diketahui, tabung gas konversi milik Anwar (40, warga Rusun Blok VII, Palembang meledak, Kamis (13/3) lalu. Kasus yang sama juga menimpa Nu)rhayati (37), ibu rumah tangga beranak 10 dan dua anaknya, Widya (1,6) dan Fitri (2,5), serta Syamsudin (41), warga jalan PSI Lautan, Lr Suro, Kelurahan 30 Ilir. Mereka menjadi korban keganasan api dari meledaknya tabung gas tiga kilogram.

Bahkan, dua hari lalu, Minggu (30/3) sekitar pukul 13.00 WIB, warga jalan Rimba Kemuning, Lr Buyut, RT 15A, Kelurahan Ario Kemuning, Kecamatan Kemuning mengalami peristiwa serupa. Satu keluarga, Rusmala Dewi (30), suaminya Zul (40) pegawai DKP, anak bungsu mereka Misuna (4) serta tetangganya Ayu Wandira (12) menjadi korban dengan kulit melepuh, akibat ledakan tabung.

Terpisah, Wakil Kepala Humas Pertamina UPms II, Roberth, menyatakan siap memberikan keterangan kepada pihak pemkot.

‘Kita nilai, ini merupakan koordinasi. Intinya untuk kepentingan masyarakat banyak,’ kata Roberth tadi malam.

Dikatakan, pihaknya tidak menyangkal dari puluhan ribu tabung konversi banyak produk yang dinilai cacat.

‘Yang produksi pabrik dari Jakarta. Saat ini, kita mencoba menyortir tabung yang kita anggap cacat. Jumlahnya, ada 500 tabung gas yang siap kita kembalikan ke PT Supra di Jakarta,’ imbuhnya.

Mengenai meledaknya tabung gas di jalan Rimba Kemuning, Kecamatan Kemuning, dua hari lalu, Roberth menyatakan telah menurunkan tim untuk melakukan pengecekan.

‘Sebenarnya, tidak ada santunan resmi dari Pertamina, tapi ini merupakan tanggung jawab moral. Ke depan, kepada para korban kita berikan tanggungan untuk berobat. Karena, pengobatan luka bakar, tidak hanya sekali, tapi barulang-ulang,’ tukas Roberth. hta

Tanggapan 1 – Crootth Crootth

Menyimpulkan bahwa kualitas tabung jelek sebagai sebab musabab kejadian ledakan tanpa penelitian mechanical integrity yang menyeluruh adalah hal yang konyol.

Dalam process safety kekuatan integrity tabung adalah yang lapisan proteksi paling inti, jika tabung bocor (bukan hose atau regulatornya lho), matilah sudah!

Sebab lain adalah Hose, Regulator, dan tentu saja Human Factor…

Dengan kondisi kemiskinan dan pengetahuan yang kurang, bisa jadi Human Factor lah yang paling besar –> ini baru dugaan, belum tentu benar (perlu investigasi menyeluruh).

Diantara Human Factor ini adalah lupa memantik gas meski gas sudah mengalir –> delayed ignition yang menimbulkan kebakaran besar, atau bisa juga lupa mematikan kompor karena asik nonton Super Mama – acara paling basi yang durasinya 6 jam, what a program?? – dan menimbulkan kebakaran, dll.

Sekali lagi blaming on equipment without proper balistic analysis is a garbage!

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

Dear Millis,

Mendengar insiden,,,, accident ,,, dari pressurized container yang dibagikan pertamina??? dalam hal ini saya kira kepanjangan dr pemerintah. opini saya kecelakaan tidak memilih milih dimana ada kelalaian kemungkinan terjadinya kecelakan akan semakin besar…. kalau saya tidak salah ingat pemerintah membagikan tabung bertekanan di jakarta saja dekat dengan angka 370 ribu unit dari rencana 900 ribu an. dari sisi matematik memang kecil tapi ini menyangkut banayak element masarakat kita, umur container ini belum lah genap 5 bulan barangkali,,, insident terdengar disana sini,, banyak hal masih gelap tapi mungkin sarana tempat, perawatan dll menyulut tabung rusak dg cepat..

Barangkali yang belum di sosialisasikan adalah bagai mana mengoperasikan dengan aman, membuat analisa yng cepat , pemeriksaan dr tabung gas sebelum dipakai, tempat penyimpanan dan perawatan dan masih bisa di expand …..bagaimana imaginasi kita .

Kalau melihat pengguna ,dr rekan milis, pengguna nya teman kita yg the have not , tentunya pemberian skill supaya mereka bisa menilai, bertindak dan memutuskan merupakan sesuatu yang sangat urgent. saya kira kemampuan memahami bahaya serta kemampuan abstraksi nya tentang bagaimana akibat dr bhaya tersebut buat dirinya keluarga dan lingkungan mungkin menempati porsi yng kecil sekali,,,, konsentrasinya hanya bagaimana perut ini di isi,,, buat survival.

Barangkali pak Admin bisa rolling program, mungkin kurang bergengsi dan populer tapi saya yakin berguna bagi teman yg melihat persoalan dari sisi survival saja.

Tanggapan 3 – Akh. Munawir

Sering kali dijalan jika kebetulan berpapasan dgn Mobil yg sedang ada aktifitas menaikan/menurunkan tabung LPG. Terlihat caranya kurang berhati-hati. Saya merasa Tabung tsb diperlakukan dgn dilempar/dibanting/dibenturkan cukup keras dgn sesama tabung atau jalan aspal yg memungkinkan Damage pada fisik tabung.

Jd selain sosialisasi pada End-user utk operating-nya, yg jg terpenting adalah prosedure bongkar-muat-nya perlu diatur dan dilaksanakan secara proper.
Sy yakin Pertamina tdk akan ceroboh/salah dlm menentukan MAWP dr Tabung LPG tsb.

Tanggapan 4 – LINTANG LINTANG

Dari semua milis-milis yang masuk semuanya hanya keluh kesah, sedih, prihatin, serta ikut berbela duka atau sungkawa. Kita kayaknya gak pernah action-action…
bukannya orang-orang dimilis ini adalah orang-orang yang paham dan minimal mengerti tentang produktion, QC, maupun Operational.

Kenapa tidak kita gawangi semua hal-hal yang menyangkut keselamatan saudara-saudara kita itu. Kita bisa action dengan bindang ilmu kita masing-masing.

Dan milis ini mustinya melakukan pertemuan offline dan bisa menjadi sukarelawan untuk melakukan tindakan nyata.

Kalau kita serahkan ama badan-badan kepanjangan pemerintah nampaknya itu mah mustahil, karena mereka itu untuk mencertifikasi juga butuh duit.

Busway bahan bakar gas…. menunggu waktu meledak…berapa korban akan berjatuhan kalo tabung itu benar-benar meletus, sementara certifikasinya acak adul.

Mari teman-teman kita bentuk pertemuan dan kita action bersama tehnisnya bisa di bicarakan .
Mohon para founder milis migas ini tolong d foloow up.

Share This