Baik g maupun g SE merupakan satuan dari acceleration. Bedanya adalah g merupakan acceleration overall sepanjang rentang frekuensi pengukuran yang kita lakukan, sedangan g SE (Spike Energy) merupakan level acceleration pada frekuensi sangat tinggi (20 kHZ sd 60 kHz).

Tanya – Budi Wahyu – EGD

Mohon pencerahaanya .

Pengertian dan penggunaan dari g’s dan g’SE pada deteksi bearing. Dan berapa batasan g’SE maximum yang di izinkan untuk bearing.

Tanggapan 1 – Wilis Wirawan@sarana-ahli

Dear Pak Budi,

Baik g maupun g SE merupakan satuan dari acceleration. Bedanya adalah g merupakan acceleration overall sepanjang rentang frekuensi pengukuran yang kita lakukan, sedangan g SE (Spike Energy) merupakan level acceleration pada frekuensi sangat tinggi (20 kHZ sd 60 kHz).

Untuk apa g SE? Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan bearing pada tahap awal memunculkan getaran impulsif dengan kandungan frekuensi sangat tinggi yang tidak bisa ditangkap oleh general purpose accelerometer. Selain itu, satuan g juga tidak bisa merepresentasikan getaran akibat kerusakan awal bearing tersebut; g adalah satuan overall acceleration sehingga nilainya justru didominasi oleh getaran mesin itu sendiri bukan getaran akibat kerusakan bearing. Oleh karena itu, dicetuskan satuan g SE. g SE diukur dengan menggunakan special accelerometer. g SE merepresentasikan getaran frekuensi tinggi (di atas 20 kHz) yang merupakan ciri kerusakan bearing tahap awal.

Kerusakan bearing terjadi dalam 4 tahap. Tahap 1: 0.25 g SE. Tahap 2: 0.25 s.d 0.50 g SE. Tahap 3: 0.5 s.d 1.0 g SE. Pada tahap 3 ini BPFO, BPFI, dan kawan-kawannya sudah bisa dideteksi. Jadi metode g SE bisa mendeteksi kerusakan bearing lebih awal daripada metode BPFO.

Selain g SE, setahu saya ada metode lain yang setara yaitu SPM (Shock Pulse Method). Prinsip SPM sangat mirip dengan g SE. Bedanya SPM menyatakan impak frekuensi tinggi dalam dua satuan yaitu HR (high rate) atau dBc (dB carpet) dan LR (low rate) atau dBm (dB maximum). SPM tidak hanya bisa mengenali kerusakan bearing, tapi juga bisa mengetahui pelumasan yang tidak baik. Misal level dBcarpet tinggi, tetapi level dBmaximum rendah, maka dapat disimpulkan pelumasannya tidak baik. Bila level dBcarpet rendah, tetapi dBmaximum tinggi dan single-periodic maka disimpulkan ada 1 cacat lokal.

Selain g SE dan SPM, rasanya sebelumnya telah ada metode PeakVue (milik CSi) dan Enveloping (milik SKF). Mungkin rekan-rekan bisa berbagi pengalaman tentang berbagai metode tsb. Saya sendiri merasa tidak ada metode yang paling unggul, tetapi tiap metode punya kelebihan dan kekurangan.

Semoga bermanfaat.

Tanggapan 2 – Budi Wahyu – EGD@capcx

Thank’ pak Wllis

Kami baru menggunakan g’SE di sofwar kira2 4 bulan ini, dan hasil pengukuran g’SE utk equipment hasilnya sangat tinggi.

Kira2 untuk overall/magnitude : 3 g’SE keatas, dan spectrum/filter : 1 g’SE dan ada juga yg sampai overall 10 g’SE. padahal bearing belum rusak parah, baru gejala.

Jadi kami agak susah memberikan batasan maximumnya.

Mohon pencerahannya.

Tanggapan 3 – Wilis Wirawan@sarana-ahli

Pak Budi,

Memang tujuan g SE adalah untuk mengetahui rusak tahap I. Kerusakan tahap I berbentuk microcrack yang bisa dilihat dengan bantuan mikroskop. Jadi, kerusakannya tidak terlihat oleh mata manusia. Umur bearing masih tersisa 20% dari design lifenya. Menurut saya, kesulitan mendeteksi tahap I ini adalah alat harus sangat sensitif terhadap kerusakan bearing, tetapi harus TIDAK sensitif terhadap sumber getaran lain. Jadi perlu metode khusus.

Saya punya pengalaman dengan metode Shock Pulse. Metode ini cukup baik diterapkan untuk rotating equipment yang tidak memiliki komponen gear, misal motor listrik dan pompa. Tetapi kalau diterapkan untuk gearbox, kalau kita ikuti hasil pengukurannya, bisa-bisa selalu ganti bearing, karena indikatornya selalu warna merah (artinya bearing rusak). Dugaan saya gearmesh bearing menimbulkan sinyal spike yang masih tertangkap oleh sensor Shock Pulse, sehingga dikira ada kerusakan bearing.

Perlu trik untuk meyakinkan bahwa bearing memang rusak. Jika menjumpai g SE atau Shock Pulse tinggi, apakah nilai tertinggi tepat PADA bearing housing atau di DEKAT bearing housing? Jika ada di DEKAT bearing housing, maka kemungkinan besar ada sumber lain misal getaran mekanik dari mesin atau bisa jadi kerusakan bearing lain di dekatnya. Jika tepat PADA bearing housing, periksa apkah level g SE / Shock Pulse mirip dengan bearing di seberangnya (misal: inboard (DE) dan outboard (NDE)). Kalau ya, kemungkinan penyebabnya adalah axial shock, masalah di shaft, gear, atau cross talk dari bearing lain. Kalau tidak, maka berarti memang ada masalah di bearing tsb. Kita bisa pinpoint lagi berdarakan spectrumnya, apakah memang bearingnya rusak atau lubrikasinya bermasalah. Repotnya trik ini adalah kalau dimensi mesinnya kecil, sehingga sinyal shock pulse (g SE) campur aduk dari mana-mana, sehingga sulit untuk pinpoint.

Semoga bermanfaat.