Select Page

Cepat lambatnya bekerja, besar kecilnya gaji, bukanlah suatu ukuran keberhasilan, namun membina kepribadian mandiri dan pantang menyerah dalam kompetisi hidup adalah utama.

Tanya – budi rahardjo

Fyi,

Informasi ini diperlukan sebagai bagian dari sisi pandang lain?

Attachment : [alumniuki] Orang Pintar Sulit Dapat Kerja

Tanggapan 1 – Dirman Artib

Saya pernah ngumpulin data temen-temen seangkatan, 2 tahun di atas dan 2
tahun di bawah, hasilnya :

1. Yg pinter-pinter, kriteria cepet tamat-sekali ambil passed-6 besar, nilai A&B berhamburan, digunain dosen buat ngajar kita-kita yg rada bego kebanyakan jadi staff pengajar/dosen, seterusnya sekarang banyak yg udah S3 (DR, PHD).

2. Yang ditengah-tengah jadi profesional dan pekerja (Insinyur, Inspektur, Manajer, Advisor) + pengusaha jasa. Ada juga yg jadi pegawai BUMN/BUMD e.g. PLN, PDAM, Bank.

3. Yang agak telat tamat, jadi pengusaha produk spt, suppliers, fabrication contracting + jadi pegawai negeri non BUMN (pemda, PU)

Fenomena paling menarik adalah, ada bbrp. kelompok no. 1 keluar dari dosen dan coba cari kerja, tapi sulit dan akhirnya ngajar lagi di Univ. lain atau Akademi lain.

Tanggapan 2 – dimas yudhanto

Uda Dirman, ngga kangen taplaou, airmanis, BIM?

Memang ngenes kalo kita ngumpulin database temen-temen seangkatan, ketika kita mendapati kenyataan bahwa kesuksesan tidak linear dengan prestasi akademik.

Pastinya, concern kita skg adalah peningkatan kualitas output perguruan tinggi, baik secara akademik maupun soft skill.

Tanggapan 3 – Syafrial Anas

Simple aja,

Pola pikir kita dan sesepuh kita yg harus diluruskan, bahwa pendidikan tinggi bukanlah tujuan mutlak untuk mendapatkan pekerjaan hebat, jabatan tinggi, gaji enak.
Masalah rezeki adalah urusan Allah (setiap manusia ditetapkan berbeda), manusia dituntut sebatas usaha. Cepat lambatnya bekerja, besar kecilnya gaji, bukanlah suatu ukuran keberhasilan, namun membina kepribadian mandiri dan pantang menyerah dalam kompetisi hidup adalah utama.

Tanggapan 4 – Ilham B Santoso

Mungkin.pemikiran ini adalah ‘warisan’ dari jaman doeloe.dimana orang sekolahan akan menjadi guru, dokter..atau pamong praja pemerintahan hindia belanda..he..he..he.

Tapi, yang ‘jaman doeloe’ pun sudah banyak yang maju pemikirannya khususnya kalau kita ‘bermain’ di ‘area’ pondok pesantren, karena biasanya cita-cita terbesar dari para santri di pondok itu adalah mendirikan pondok pesantren seperti milik guru/kyai nya.jadi tidak bercita-cita untuk ‘bekerja’ pada pondok yang lebih besar..tapi menjadi pemilik pondok pesentren. Dan biasanya ponpes baru (yang didirikan santri yang telah lulus dari ponpes lama) juga didukung oleh ponpes lama (milik sang kyai), dengan cara mengirimkan/merekomendasikan murid atau calon murid yang masuk ke ponpes lama untuk sebaiknya belajar ke ponpes baru dan jika nanti lulus dari ponpes baru bisa di’akriditasi’ sebagai lulusan ponpes lama. Jadi ponpes baru dijadikan mitra dan asuhan ponpes lama agar dapat berkembang..menghasilkan ponpes-ponpes baru lagi.dstnya. Mungkin pandangan/pola pikir jadoel ini perlu kita tularkan ke pendidikan ‘modern’.???

Tanggapan 5 – Toalu Famela

I like this statement… .bagus loh..

Cepat lambatnya bekerja, besar kecilnya gaji, bukanlah suatu ukuran keberhasilan, namun membina kepribadian mandiri dan pantang menyerah dalam kompetisi hidup adalah utama.

Siapakah penemu statement diatas?

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan Bulan Februari 2008, dapat dilihat dalam file berikut :

Share This