Select Page

TBN (Total Base Number) pada mesin berbahan bakar gas, sering kali menggunakan paket aditif dengan abu yang rendah (low ash additive). Magnesium sering dipakai sbagai aditif dalam aplikasi otomotif dengan kecendrungan menggunakan garam kalsium (calcium salt). Pemilihan aditif jenis low ash juga di dasari resiko penyalaan dini (pre-ignition) dari bahan bakar gas di dalam ruang bakar. TBN dalam aplikasi mesin BBG, dapat turun dengan cepat akibat kondisi kerja yang tinggi, terutama pada aplikasi landfill gas – dimana bahan bakar menjadi polutan pada pelumas.

Tanya – ebahagia

Gas engine pre-ignition? bisa jadi Anda salah pilih pelumas

Total Base Number

TBN pada mesin berbahan bakar gas, sering kali menggunakan paket aditif dengan abu yang rendah (low ash additive). Magnesium sering dipakai sbagai aditif dalam aplikasi otomotif dengan kecendrungan menggunakan garam kalsium (calcium salt). Pemilihan aditif jenis low ash juga di dasari resiko penyalaan dini (pre-ignition) dari bahan bakar gas di dalam ruang bakar. TBN dalam aplikasi mesin BBG, dapat turun dengan cepat akibat kondisi kerja yang tinggi, terutama pada aplikasi landfill gas – dimana bahan bakar menjadi polutan pada pelumas.

80% Mesin rusak, akibat kontaminasi pelumas Berbagai polutan pada pelumas dan sistim pelumasan sangat mempengaruhi kehandalan dan masa pakai mesin dan peralatan yang di lumasi. Dapat di katakan, hampir 100% kendala dan kerusakan mesin berkaitan erat dengan kontaminasi. Dengan pemahaman realita tersebut, pencegahan dan penanganan polutan pelumas amat penting dilaksanakan dan tidak terlalu untuk sulit dilakukan.

Polutan paada pelumas & sistim pelumasan

– padat (particles)

– air dalam bentuk bebas (free water)

– air dalam bentuk terlarut (dissolved water)

– hasil oksidasi (oxidation by-products)

– dalam bentuk gas (oxygen / air / gasses)

– asam (acid)

TBN pelumas dan aplikasi-nya

TBN – 5 : Pelumasan system oils, pada mesin 2 tak – crosshead. Diesel putaran tinggi dengan bahan bakar gas dan destilasi. Pengguna bahan bakar dengan < 0.2% sulfur, aplikasi otomotif. TBN - 10 ~ 100

Source: bulletin edisi Mei 2008 www.ebahagia.com/berita_en.html

Tanggapan 1 – Ilham B Santoso

Membaca artikel ini, kok saya tidak begitu bisa menangkap maksud nya.

Dari judulnya adalah terjadinya pre-ignition bisa jadi karena kesalahan pemilihan pelumas, tetapi pada uraiannya lebih pada menjelaskan mekanisme penurunan TBN (total base number) dan kontaminan pada pelumas. Apakah article ini belum selesai dan lengkapnya ada di HYPERLINK ‘http://www.e-ba…/…html’www.e-ba…/…html?

Tanggapan 2 – Herwin1@fmi.com

Sedikit saya tambahkan masalah TBN (Total Base Number)

Semakin lama oil digunakan maka semakin rendah juga TBN-nya, karena zat asam yg dihasilkan dari pembakaran akan menetralkan TBN tersebut. TBN ini mempunyai peranan yang penting dalam mencegah korosi karena pembentukan zat asam tersebut. Penambahan oil sering bisa mempertahankan level TBN secara cukup memuaskan. Level TBN harus dimonitor secara lebih dekat jika digunakan bahan bakar dengan kandungan sulphur yg tinggi. Juga perlu monitor lebih dekat jika level TBN sudah mencapai 2/3 dari angka awal (normal TBN).

Catatan :

Umumnya jika TBN lebih rendah dari 1/2 nilai awal, Oil harus diganti.

Tanggapan 3 – ebahagia

Terima kasih atas masukan Bp Herwin & Bp Ilham,

Untuk lengkapnya sbb;

1.1.5. Total Nilai Basa – (total base number, TBN)

Pengujian ini berhubungan erat dengan aplikasi pelumas mesin diesel dan tidak relevan pada aplikasi pelumas roda gigi, hidrolik dan turbin. Aditif basa pada pelumas berfungsi menetralkan kondisi asam yang terjadi hasil proses pembakaran (utamanya asam surfuric dan nitrit), asam organic dari hasil oksidasi pelumas dalam proses penuaan (aging). Total nilai basa (TBN) pelumas menunjukkan kemampuan pelumas dalam menetralkan kondisi keasaman pada mesin. Pemilihan nilai basa pelumas untuk suatu mesin di sesuaikan dengan pertimbangan jenis bahan bakar yang di pakai, kandungan sulfur, dan design mesin itu sendiri. Penurunan nilai basa pelumas bekas-pakai (used oil) dari hasil analisa pelumas, menunjukkan degradasi aditif basa terhadap polutan asam serta indikasi kelayakan penggunaan kembali pelumas tersebut.

Nilai basa (TBN) pada mesin diesel jenis trunk (trunk piston engines – bukan crosshead), akan bertendensi turun akibat polutan dari proses pembakaran.
Tetapi nilai kesetabilan akan tercapai pada suatu titik dan terjaga dengan penambahan pelumas baru secara berkala (top-up). TBN pada bagian sistim pelumasan bearing (system oil) mesin 2 langkah crosshead (2 con-rod tiap piston), dapat meningkat sebagai akibat kebocoran pelumas dengan TBN tinggi.

– umumnya dari kebocoran pelumas ruang bakar pada stuffing box, atau kesalahan dalam penambahan jenis pelumas (daily top-up).

Penurunan TBN pelumas sekitar 50% dari nilai awal mengindikasikan masa pakai pelumas mendekati periode penggantian. Indikasi lain yang juga dapat di jadikan acuan; minimum nilai basa pelumas adalah tujuh kali dari nilai sulfur bbm yang di pakai (TBN = 7 x Sulfur). Pada kondisi pelumas seperti di atas, para produsen pelumas sering kali menyarankan penggantian pelumas secara keseluruhan, atau sebagian – lalu di tambahkan pelumas baru agar nilai basa pelumas dalam batas yang aman. Rekomendasi ini juga sangat tergantung pada buku petunjuk masing-masing produsen mesin/peralatan yang dilumasi.
Untuk mudahnya, pedoman pemilihan TBN pelumas adalah jenis bahan bakar yang di pakai dengan parameter utama adalah kadar sulfur, parameter lain adalah laju konsumsi pelumas dan kapasitas tampung bak pelumas (sump tank).

Turunnya TBN di sebabkan;

. Konsumsi pelumas yang rendah, berkaitan dengan jumlah top-up harian yang rendah pula

. Kapasitas tampung bak pelumas mesin yang kecil

. Penggunaan bbm dengan kadar sulfur yang tinggi

TBN yang rendah pada pelumas bekas-pakai (used oil) menunjukkan minimnya proteksi dari sisi pelumas terhadap resiko korosi pada bagian mesin; seputar mahkota piston bagian atas, ring piston, dan bantalan (bearing). Hal yang sama juga akan terjadi pada bagian mesin lainnya serta sistim pendinginan piston dengan media pelumas.

TBN pada mesin berbahan bakar gas, sering kali menggunakan paket aditif dengan abu yang rendah (low ash additive). Magnesium sering dipakai sbagai aditif dalam aplikasi otomotif dengan kecendrungan menggunakan garam kalsium (calcium salt). Pemilihan aditif jenis low ash juga di dasari resiko penyalaan dini (pre-ignition) dari bahan bakar gas di dalam ruang bakar. TBN dalam aplikasi mesin BBG, dapat turun dengan cepat akibat kondisi kerja yang tinggi, terutama pada aplikasi landfill gas – dimana bahan bakar menjadi polutan pada pelumas. Untuk mudahnya, pedoman pemilihan TBN pelumas adalah jenis bahan bakar yang di pakai dengan parameter utama adalah kadar sulfur, parameter lain adalah laju konsumsi pelumas dan kapasitas tampung bak pelumas (sump tank).

Turunnya TBN di sebabkan;

. Konsumsi pelumas yang rendah, berkaitan dengan jumlah top-up harian yang rendah pula

. Kapasitas tampung bak pelumas mesin yang kecil

. Penggunaan bbm dengan kadar sulfur yang tinggi

TBN yang rendah pada pelumas bekas-pakai (used oil) menunjukkan minimnya proteksi dari sisi pelumas terhadap resiko korosi pada bagian mesin; seputar mahkota (crown) piston bagian atas, ring piston, dan bantalan (bearing). Hal yang sama juga akan terjadi pada bagian mesin lainnya serta sistim pendinginan piston dengan media pelumas.

TBN pada mesin berbahan bakar gas, sering kali menggunakan paket aditif dengan abu yang rendah (low ash additive). Magnesium sering dipakai sbagai aditif dalam aplikasi otomotif dengan kecendrungan menggunakan garam kalsium (calcium salt). Pemilihan aditif jenis low ash juga di dasari resiko penyalaan dini (pre-ignition) dari bahan bakar gas di dalam ruang bakar. TBN dalam aplikasi mesin BBG, dapat turun dengan cepat akibat kondisi kerja yang tinggi, terutama pada aplikasi landfill gas – dimana bahan bakar menjadi polutan pada pelumas.

Nilai Basa Pelumas & Aplikasi Penggunaan

TBN = 5, Pelumasan system oils, pada mesin 2 tak – crosshead, diesel putaran tinggi dengan bahan bakar gas dan destilasi, pengguna bahan bakar dengan <0.2% sulfur, aplikasi otomotif.

TBN = 10, Aplikasi otomotif.Diesel putaran tinggi dengan bahan bakar destilasi ber-sulfur < 0.5%, & diesel gas oil

TBN = 15, Diesel putaran tinggi dan menengah berbahan bakar minyak diesel destilasi.

TBN = 20, Diesel putaran tinggi dengan bahan bakar gas dan destilasi, pengguna bahan bakar dengan < 2% sulfur (DMC maksimum), mesin bantu dengan bahan bakar campur.

TBN = 30, Diesel putaran menengah dengan bahan bakar gas dan destilasi.

TBN = 40 ~ 55, Pelumasan mesin diesel putaran menengah dengan kapasitas bak dan konsumsi pelumas yang kecil (anti-polishing ring)

TBN = >60 ~ 100, Pelumasan cylinder oils, pada mesin 2 tak – crosshead.

Lebih lengkap lihat bulletin ebahagia edisi mei 2008.

Tanggapan 4 – husain Tohari

Menurut yang saya ketahui tentang TBN adalah bukan di kontrol oleh bahan bakar, tetapi TBN tersebut yang digunakan untuk mengimbangi besarnya sulfur yang ada dibahan bakar itu sendiri. TBN mempunyai fungsi menjaga ruang pembakaran agar tidak terjadi korosi yang berlebihan akibat dari zat asam dari hasil pembakaran pada bahan bakar yang mempunyai kandungan sulfur tinggi. Jadi semakin tinggi kandungan sulfur yang ada pada bahan bakar tersebut maka TBN oli tersebut juga harus tinggi.

Untuk masalah penggantian oli adalah jika TBN dari oli tersebut 50% maka harus diganti. Karena itu demi safing engine kita.
Itu semua hal yang saya ketahui dari kuliah saya semester ini.

Mohon koreksi jika ada kesalahan.

NB: Selain TBN, masih ada 9 poin lagi yang perlu diperhatikan dalam pemilihan oli. meskipun dengan TBN yang sama tetapi aditif lain tidak mendukung juga tidak mungkin. Salah satu dari 9 itu adalah detergent.

Share This