Akhir2 ini gencar di sosialisasikan *PROGRAM HEMAT ENERGI*. Yang jadi pertanyaan, sejauh mana kita melakukan penghematan tanpa mengurangi produktifitas & tingkat safety di lingkungan kerja. Apakah harus dengan mematikan sebagian lampu ruangan kerja tanpa dilakukan pengukuran lebih lanjut tentang tingkat pencahayaan yang ideal? Apakah kita harus mengundang konsultan untuk melakukan audit HEMAT ENERGI agar program tersebut bisa tepat sasaran?

Tanya – dhani amannatur

Akhir2 ini gencar di sosialisasikan *PROGRAM HEMAT ENERGI*

Yang jadi pertanyaan, sejauh mana kita melakukan penghematan tanpa mengurangi produktifitas & tingkat safety di lingkungan kerja.

Apakah harus dengan mematikan sebagian lampu ruangan kerja tanpa dilakukan pengukuran lebih lanjut tentang tingkat pencahayaan yang ideal?

Apakah kita harus mengundang konsultan untuk melakukan audit HEMAT ENERGI agar program tersebut bisa tepat sasaran?

Mohon tanggapannya

Tanggapan 1 – ebahagia

Cak Dhani,

Sepengetahuan saya soal efficiency energy; sudah jadi budaya kalo merasa sakit.langsung beli obat tanpa basa-basi.

Maksudnya, proses identification dari tiap suffering points langsung di ‘skip’ alasan hemat biaya proses dan quick actions.

Sangat di sarankan melakukan pre-energy audit dari pihak ke-3 atau team khusus (internal) dengan kemampuan + wawasan yang memadai, selanjutnya dapat di buat pengelompokan ‘energy suckers’ & production/plan process. Hasil pre-energy audit dengan walk thru plan, umumnya bisa menemukan potential penghematan energy yang di mulai dari hal terkecil tapi rada sulit juga terkadang – human behavior.

Contoh kecil yang sempat kami lakukan akhir tahun lalu; audit suatu fasilitas tambak udang.. Hanya dengan 2 hari kerja (pre-audit), potensi penghematan dari sisi ‘behavior’ saja sekitar 10%. Dari sisi energy usages di ponds, ter-identifikasi 50% penghematan dengan merubah teknologi aerator kuno dengan new design hasil R&D lokal.

Yang terpenting dalam pelaksanaan program penghematan energy, harus ada sinergi dan pemahaman yang sama antar departemen/kelompok kerja dalam suatu organisasi..termasuk top managements & owner. Bukan rahasia lagi kalo energy consumptions/expenses dalam suatu perusahaan, turut menentukan kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri. Sering kali kita mendengar top managemen + owner melakukan PHK karyawan sebagai program efficiency sebagai bentuk ketidak mampuan mereka dalam energy wise.

Dilema: bayar mahal para konsultan energy management dengan hasil yang belum jelas? Pola kemitraan dengan ‘share the results’ mungkin bisa jadi pilihan yang patut di coba.

Tanggapan 2 – Akh. Munawir

Dear rekan2,

1. Dari sisi Engineering yg bisa mungkin punya kontribusi lumayan :

a. Pencahayaan :

Di rumahan atau gedung, bisa mengoptimalkan pencahayaan dari sinar matahari dengan memberikan sinar matahari semaksimal mungkin masuk ke dalam rumah/gedung, hingga penggunaan lampu bisa dikurangi saat siang hari atau pada bulan purnama :))

b. Sirkulasi udara :

Sirkulasi udara di dlm rumah dioptimalkan dgn memaksimalkan fungsi ventilasi udara, hingga bisa mensubstitusi fungsi dari A/C, kipas angin atau exhaust.

c. Equipment di rumah tangga & Kendaraan bermotor :

Me-pensiunkan Equipment yg sdh tdk effisien dlm mengkonsumsi bahan bakar dan menggantikannya dgn yg baru dgn spec. Save Energy-nya.

2. Kebiakan kendaraan bermotor:

Giring public utk memprioritaskan penggunaan transportasi umum,

a. Buat system transportasi umum yg baik dari sisi keamanan, kenyamanan dan tepat waktu + harga yg semurah mungkin.

b. Menaikan pajak kendaraan pribadi, pajak service kendaraan bermotor (bengkel) dan juga parkir motor setingi-tingginya.

c. Naikan harga Fuel utk kendaraan pribadi.

3. – Beri hukuman mati utk para koruptor spt di korsel. (karena mereka menyengsarakan rakyat banyak dan lebih kejam dari pembunuhan berencana yg korbannya relatif tdk banyak)

– Beri hukuman seberat-beratnya utk Kriminal dibidang energi (penimbun BBM misalnya) …atau jika perlu di-hukum mati juga…(ini idem dgn point di atas)

Pemerintah perlu melakukan action yg ‘berbeda’ atau extreme malah, karena cara2 yg biasa (biasanya dilakukan) sudah tidak mempan lagi mengatasi KRISIS ini.
Karena KRISIS itu muncul karena ‘cara yg biasa’ dilakukan sdh tidak efektif lagi, maka perlu dobrakan2 dan perubahan2 yg radikal.

Tanggapan 3 – yose ma’ruf

Hukuman mati untuk koruptor ? Lha wong yg mo menghukum juga maling (korupsi, kolusi, calo, nyogok, dsb.)
Mana ada maling bunuh maling, kecuali ‘lahan’ nya terganggu ? Trus kita jangan-2 juga maling kecil-2an….
Ya percuma, dech…..
Kalo semua harga dinaikkan dengan maksud mengurangi, trus kira-2 uang-2 yang beredar lari kemana ? Kemudian hasrat untuk
membuat sesuatu jadi harus bagaimana, khan sudah sedikit yang sanggup beli ?
Saya pernah dapat kalimat dari seorang wirausahawan, kalo uang itu harus beredar, tidak boleh berhenti. Kalo berhenti, maka akan kacau semuanya.

Tanggapan 4 – Akh. Munawir

Bike to Work,

Jika pagi dan terutama sore hari, ngeri juga naik sepeda di Jalan karena harus bersaing dgn Motor, Mobil, Bajai, Metromin, Kopaja .. berebut jalan. dan ditambah lagi, Polusi asap-nya itu lho … bisa2 TBC…hiks.

Tanggapan 5 – purwoko budinugroho

Kalo solusi bersaing sama motor/mobil mudah mas asal kita tau jalan2 tikus di jakarta, dengan begitu kita malah bisa terhindar dari macet or brg sama kendaraan lain.
Or kita menyiapkan alat penutup hidung seperti layaknya pengendara sepdamotor lainnya, shga ttp aman berkendara dgn sepeda, hehehehe.. kurang lbh seperti itu kali ya..

Tanggapan 6 – y_nugraha@e-steamboilers

Memang kalo baca artikel kenaikan harga minyak harus ada cara alternative hingga kita bisa bernafas panjang, kiranya untuk pengurus KMI periode sekarang bisa mengagendakan issue Bike to Work dirakernas atau semacam itu dan direkomendasikan ke pejabat negeri ini hingga terwujudnya regulasi moda alternative selain pengguna motor bensin, gimana? berani? selamat bekerja KMI.

Thank’s and best regards