Select Page

Dengan harga crude-oil merangkak ke angka 120 USD/bbl saat ini, harga BBM suangat terancam untuk naik. Penghematan merupakan salah satu cara yang paling baik. Di Jepang katanya sudah banyak yang mematikan mesin sewaktu di lampu merah. Namun hal ini tentunya juga akan berpengaruh pada waktu start-up. Saya yakin dengan mematikan mesin akan menghemat bahan bakar, tetapi bagaimana dengan proses start-upnya, apakah proses mati-hidup berulang ulang akan mempengaruhi kenerja mesin ? *Usia dynamo* keseringan start-up, *energy *sewaktu start-up, serta pengaruh oil *cooler *perlu dievaluasi.
Dan khusus di Jakarta adalah perlu dilihat aspek *keselamatan *(security).

Pembahasan – Rovicky Dwi Putrohari

Dengan harga crude-oil merangkak ke angka 120 USD/bbl saat ini, harga BBM suangat terancam untuk naik. Penghematan merupakan salah satu cara yang paling baik. Di Jepang katanya sudah banyak yang mematikan mesin sewaktu di lampu merah. Namun hal ini tentunya juga akan berpengaruh pada waktu start-up. Saya yakin dengan mematikan mesin akan menghemat bahan bakar, tetapi bagaimana dengan proses start-upnya, apakah proses mati-hidup berulang ulang akan mempengaruhi kenerja mesin ? *Usia dynamo* keseringan start-up, *energy *sewaktu start-up, serta pengaruh oil *cooler *perlu dievaluasi.
Dan khusus di Jakarta adalah perlu dilihat aspek *keselamatan *(security).

Buat kawan-kawan mechanic engineer … Any idea ?

Juga dari sisi *transportasi*, bagaimana seandainya dibuat waktu paling *efisien
*untuk memerahkan lampu, tanpa memerahkan raut muka karena sebel dan kepanasan tanpa AC. Juga perlu waktu paling efisien (misal 3 menit merah, 1 menit hijau) sehingga *tidak macet *sewaktu mulai lampu hijau berjalan.
Lets think about total saving cost, not just fuel cost.*

Tanggapan 1 – HighGround Misty

Done this, pake motor bebek, lebih ke pertimbangan polusi rather than bensin/mesin/dsb.

Sangat membantu kalau tahu lamanya lampu merah tersebut (sudah familiar).
Selama beberapa bulan sih tidak ada masalah dengan motor (gak terlalu ngerti mesin sih) yg jelas selalu pakai electric starter dan gak ada masalah.

Tanggapan 2 – Farizan Riadhi

Kalau menurut saya sih, segala penghematan untuk fuel jangan hanya dilihat dari aspek costnya saja. Tapi coba untuk mempertimbangkan aspek ketersediaan energi, aspek lingkungan, dsb. Misal benar total cost bila sering mati hidup mesin saat lampu merah adalah sekian rupiah, tapi bila dibandingkan niat kita untuk memperpanjang ketersediaan energi fuel di dunia atau sekedar mengurangi emisi karbon di udara, itu sudah sangat mulia. Anggaplah sebuah charity. Memang tidak besar efeknya, namun bila semua pengguna kendaraan melakukannya, mungkin dapat sangat besar efeknya untuk kelangsungan energi untuk masa depan. Syukur2 ada pengembangan teknologi yang mendukung lifetime mesin meski sering start up… bukan begitu??? Sekedar pendapat sih, no offense!!

Tanggapan 3 – Bimo Pratomo

Menarik sekali idenya Pak Rovicky.

Tapi menurut saya pribadi, Jakarta lebih baik menggunakan transportasi massal. Perbaiki dulu kenyamanan dan reliability dari busway, KRL, busway feeder, dsb. Naikkan pajak kendaraan pribadi, tarif parkir, dan terapkan ‘electronic road pricing’ seperti di Singapur. Nanti orang akan pindah sendiri dari kendaraan pribadi ke transportasi massal tersebut.

Tanggapan 4 – Aroon Pardede

BTW, dengan mematikan mesin mobil/motor di lampu merah, apakah sudah terbukti akan menghemat konsumsi kendaraan bermotor?? Saya kok menyangsikannya. Bukankah pada saat start, butuh energi (bahan bakar) lebih besar (pembakaran kaya….). Jadi, menurut pendapat saya, alih-alih menghemat, malah justru kendaraan akan semakin boros karena harus sering2 membuang bahan bakar pada saat proses start engine??

Tanggapan 5 – HighGround Misty

Makanya, akan sangat membantu kalau lampu merahnya ada indikator waktu, atau sudah tau berapa lama anda akan nongkrong di lampu merah tersebut (udah hapal bagian mana yg akan lewat setelah jalur yg mana dsb.) Saya sih tidak melakukan pengukuran mengenai penghematan BBM karena lebih ke pertimbangan asap pembakaran, tapi kalau tau akan ‘nongkrong’ 2 menit atau lebih di lampu merah menurut saya sih mayan menghemat asap, IMHO. Kalau mobil sih saya juga menyangsikan, but then gak tau hitung2annya.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia Pembahasan Bulan April 2008 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This