Pada prinsipnya penangkal petir teknik radioaktif adalah mencegah terjadinya penumpukan muatan di udara, jadi selalu didistribusikan dan disalurkan melalui grid ke tanah. Masalah umur alat itu suatu hal yang benar. Tetapi khusus untuk penangkal petir jenis radioaktif ini adalah pemeliharaan pada detektor preventor tempat/wadah sumber Am-241 atau Ra-226 tersebut, perlu dibersihkan dari penutupan permukaan oleh debu dan kotoran. Karena sebagai sumber alpha, bila tertutup debu tipis saja akan menghalangi kemampuannya menimbulkan ionisasi dengan udara di sekitar.

Tanya – Nuklindana Darma

Rekan2…mohon pencerahan

1.Mengenai standard penempatan heat/smoke detector.

Selama ini saya mengacu pada NFPA 72 National Fire Alarm Code yg tertera sebagaimana di bawah, namun pada beberapa warehouse/ plant (konstruksi baja) lain saya sering melihat bahwa smoke/heat detector ditempatkan TIDAK pada roof/ceiling melainkan ditambahkan pipa (sejenisnya) sehingga menjulur ke bawah.

Secara logika, saya berfikir bahwa heat/smoke akan terakumulasi pada bagian gedung yg paling tinggi sehingga jika detektor diletakkan tidak pada bagian teratas bangunan maka sensor akan lambat merespon panas/asap.

Sedangkan pihak yg menempatkan smoke/heat detektor dgn ditambahkan pipa (sejenisnya) sehingga menjulur ke bawah, beralasan bahwa sensitivity dari sensor dapat di adjust sehingga tidak ada masalah dgn penempatan.

Mana yg benar????

2. Mengenai pengumpul petir yg menggunakan radio-active, apakah benar maintenance free???
apakah pemeriksaan resistansi grounding tdk relevan pada alat ini?

Location of detectors

1. Spot-type heat-sensing fire detectors

Spot-type heat-sensing fire detectors shall be located on the ceiling not less than 4in. (100mm) from the sidewall or on the sidewalls between 4in. and 12in. (100mm and 300mm) from the ceiling.

Exception No. 1: In the case of solid joist construction, detectors shall be mounted at the bottom of the joists. Exception No. 2: In the case of beam construction where beams are less than 12in. (300mm) in depth and less than 8ft (2.4m) on center, detectors shall be permitted to be installed on the bottom of beams.

2. Line-type heat detectors

Line-type heat detectors shall be located on the ceiling or on the sidewalls not more than 20in. (500mm) from the ceiling. Exception No. 1: In the case of solid joist construction, detectors shall be mounted at the bottom of the joists. Exception No. 2: In the case of beam construction where beams are less than 12in. (300mm) in depth and less than 8ft (2.4m) on center, detectors shall be permitted to be installed on the bottom of beams. Exception No. 3: If a line-type detector is used in an application other than open area protection, the manufacturer’s installation instructions shall be followed.

3. Spot-type smoke detectors

Spot-type smoke detectors shall be located on the ceiling not less than 4in. (100mm) from a sidewall to the near edge or, if on a sidewall, between 4in. and 12in. (100mm and 300mm) down from the ceiling to the top of the detector.

Tanggapan 1 – Akh. Munawir

Pak,

Peruntukan Fire Detector-nya untuk Building atau Equipement ???
Kalau utk building, umumnya memang ditempatkan di Ceilling, tetapi klo ceillingnya terlalu tinggi apalagi Adequate Ventilation menurut saya malah kurang effektif detectionya (khususnya smoke).
Dan jika peruntukannya utk Equipment lebih baik mendekati Equipment (near potential fire point).

Tanggapan 2 – Crootth Crootth

Mas Nuklindana

Saya kira kesimpulannya tidak harus secepat itu, harus terlebih dahulu dilakukan QRA untuk menentukan kontur Plume yang ditimbulkan oleh adanya gas (dan kontur Heat Flux yang ditimbulkan oleh api). Dengan mengetahui kontur Plume yang paling most probable ini, maka penempatan Gas Detector ini bisa lebih EFEKTIF, atau bahkan tidak memerlukan gas detector sama sekali?
Intinya berpatokan pada standar NFPA 72 saja belumlah cukup.

Tanggapan 3 – Panic Day

Dear all,

Menurut pengertian saya mengenai kata2 pak DAM di bawah, masalah perlu tidaknya gas detector di suatu area, kita harus menganalisa mengenai beberapa hal, diantaranya skenario kebocoran gas (sumber kebocoran dan rate nya), densitas gas, susunan peralatan dan kondisi lingkungan, seperti ventilasi, dan kemungkinan adanya low alarm.

Untuk optimisasi jumlah dan lokasi maka terkadang, perlulah simulasi dispersion.
Mohon pak DAM menerangkan dan membenarkan yang salah.

Tanggapan 4 – Nuklindana Darma

Dear Mas DAM,

Maaf nih mas sy awam bgt ttg hal ini…QRA itu apa?bagaimana melakukannya? biasanya apakah yg melaksanakan QRA itu kontraktor penginstall detector atau user-nya.???

btw rekan2…masih ada pertanyaan lain yg belum ditanggapi nih

2. Mengenai pengumpul petir yg menggunakan radio-active, apakah benar maintenance free???
apakah pemeriksaan resistansi grounding tdk relevan pada alat ini?

Tanggapan 5 – Akh. Munawir

Pak Nuklindana,

Memastikan Grounding resistance itu nilainya kecil (less than 10 k Ohm???..CMIIW) adalah penting, agar ketika petir menyambar Lightening maka Arus Listriknya secara optimal (effective continuity) bisa dibuang ke Bumi/tanah. Jika tidak kabel grounding anda bisa terbakar, dan lebih beresiko lagi kebakaran merambat ke sekitar.

Apakah radio-active lightening itu maintenance free ???
Yg jelas semua equipement/device itu ada Life Time-nya Pak, dan utk memperpanjang Life time sewajarnya ada perawatan entah itu simple atau zulit.

Tanggapan 6 – Sutomo – AD2

Pak Munawir & Pak Nuklindana,

Saya koreksi dikit mengenai Grounding resistance untuk Lightening harus kurang dari 7 Ohm….untuk jelasnya Coba di lihat di NFPA 78.

Tanggapan 7 – yudi putera

Mas Dar

Untuk fasilitas yang sederhana seperti warehouse apa tetap perlu QRA? Apa tidak cukup dengan mengacu standar yang ada saja? Risk Assessment memang harus tetap dilakukan tapi apa sampai QRA?

Tanggapan 8 – Crootth Crootth

Yah kalau warehousenya mampu beli rangkaian fire and heat detector yang bisa bisa mencapai 100 ribu US dollar masa membayar konsultan QRA yang palingan 10 ribu US dollar tidak mampu?
Heheheheh tapi ini tetap your good point Yud to be discuss,

Tanggapan 9 – soedardjo batan

Sistem Radio Aktif

Sistem ini cocok untuk bangunan tinggi.

Satu bangunan cukup menggunakan sebuah penangkal petir.
Alatnya disebut Preventor, yang bekerja berdasarkan reaksi netralisasi ion dengan menggunakan bahan radio aktif. Keseluruhan kebocoran pada alat ini dapat mengakibatkan radiasi. Oleh karena itu, alat ini dilararang.
http://utilitas.wordpress.com/

6.1. Penangkal Petir

Limbah sumber bekas yang berasal dari penangkal petir (Am-241, Ra-226) setelah pra olah dimasukkan ke dalam kapsul SS. Beberapa buah kapsul SS ini dimasukkan ke dalam wadah khusus yang disebut Long Term Shielded Storage (LTSS). Selanjutnya LTSS dimasukkan ke dalam Shell drum 200L dan disimpan di Interim Storage.

http://www.infonuklir.com/modules/news/article.php?storyid=39

tidak boleh menggunakan penangkal petir. Radioaktif

http://www.batan-bdg.go.id//upload/files/BDI_sk-11-99.pdf

Larangan impor dan pemasangan baru penangkal petir radio-aktif.

http://209.85.175.104/search?q=cache:a1gHEpcvCcIJ:www.bappenas.go.id/index.php%3Fmodule%3DFilemanager%26func%3Ddownload%26pathext%3DContentExpress/%26view%3D435/Bab-17-1988%2520cek.doc+perawatan+penangkal+petir+radioaktif&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id

Tanggapan 10 – soedardjo batan

Dari teman BATAN

Rill Isaris’

Pada prinsipnya penangkal petir teknik radioaktif adalah mencegah terjadinya penumpukan muatan di udara, jadi selalu didistribusikan dan disalurkan melalui grid ke tanah.

Masalah umur alat itu suatu hal yang benar. Tetapi khusus untuk penangkal petir jenis radioaktif ini adalah pemeliharaan pada detektor preventor tempat/wadah sumber Am-241 atau Ra-226 tersebut, perlu dibersihkan dari penutupan permukaan oleh debu dan kotoran. Karena sebagai sumber alpha, bila tertutup debu tipis saja akan menghalangi kemampuannya menimbulkan ionisasi dengan udara di sekitar.