Select Page

Untuk melihat harga BBM jangan hanya melihat harga produk per liter saja, tetapi lihat juga berapa produksi crude negara tersebut , kalo ada negara yang memproduksi crude dengan jumlah lebih rendah dibanding Indonesia dan menjual produknya lebih murah drpd Indonesia itu baru bisa buat perbandingan. Sebenarnya para negara penghasil crude bisa menjual murah karena subsidi silang dari penjualan crude mereka yang berlimpah. Negara kita (Indonesia) sampai sekarang produksi BBnya (dari kilang yang ada) masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, masih mengimpor diesel, HOMC (untuk downgrade ke premium) , kadang DPI (avtur) yang nota bene dibeli dari pasar internasional dg dolar kemudian dijual sebagai BBM dengan harga rupiah dan masih disubsidi lagi.

Tanya – Agung Setiarso

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia. Di Venezuela harganya hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, di Cina Rp 5.888, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Data selengkapnya bisa dilihat di:

http://infoindonesi a.wordpress. com

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sekitar Rp 8.700/liter.

Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan negara Neoliberalis/ Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga minyak Internasional.

Tanggapan 1 – budi t jatmiko

Untuk melihat harga BBM jangan hanya melihat harga produk per liter saja, tetapi lihat juga berapa produksi crude negara tersebut , kalo ada negara yang memproduksi crude dengan jumlah lebih rendah dibanding Indonesia dan menjual produknya lebih murah drpd Indonesia itu baru bisa buat perbandingan. Sebenarnya para negara penghasil crude bisa menjual murah karena subsidi silang dari penjualan crude mereka yang berlimpah. Negara kita (Indonesia) sampai sekarang produksi BBnya (dari kilang yang ada) masih belum mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, masih mengimpor diesel, HOMC (untuk downgrade ke premium) , kadang DPI (avtur) yang nota bene dibeli dari pasar internasional dg dolar kemudian dijual sebagai BBM dengan harga rupiah dan masih disubsidi lagi.

Disamping itu juga dilihat dari segi geografis Indonesia, untuk transportasi ke seluruh pulau juga lebih tinggi (freight cost). Bandingkan dg malaysia, tidak banyak pulau juga jangkauan lebih kecil.
Sebenarnya harga BBM di Indonesia mengacu ke harga MOPS (Mid Oil Platt Singapore), kalo memang bisa lebih rendah, kenapa harga jual Petronas, Shell tidak bisa lebih rendah dibandingkan Pertamina?

Seharusnya, para pemilik mobil pribadi dengan teknologi baru TIDAK BOLEH lagi membeli premium (ON 88) tapi harus diwajibkan memakai sekelas Pertamax/Pertamax Plus…masak mampu beli mobil sekian ratus juta tapi masih rebutan ama masyarakat kecil beli premium?

Tanggapan 2 – siasadi sastrodihardjo

Saya sekarang ada di Nigeria sedikit heran kenapa harga premium di Nigeria ditulis Rp.920/l. Saya tahu harga Premium disini adalah N75/l dan Solar N100/l, Dengan USD 1 = N 120 , maka harga Premium = (75/120 ) x 9200 = Rp.5750/l dan Solar = (100/120) x 9200 = Rp.7667/l

Tanggapan 3 – putranto aluisius

Kebetulan lagi NY,

Harga bensin unleaded disini sekitar $4,10 / gallon..

kalau 1 galon = 3.78 liter dan 1$ = 9250

ya sekitar = Rp 10,033/ liter…

lumayan juga ya

Tanggapan 4 – Erwin (Jakarta)

Dari Sudut Pandang Investor :

Mereka perlu CAPEX + OPEX Murah dan Nilai Jual Product Bernilai Tinggi

Dari Sudut Padang Konsumen :

CAPEX + OPEX Lebih murah Both ato Salah satu nya Minimal, tapi lebih baik lagi kalo kedua dua nya.

Qualitas Tinggi – Harga Murah

Atau – Harga Murah dengan Qualitas Ignore, dengan perhitungan Kalo masih bisa pakai yg lebih murah mengapa pakai yg lebih mahal.

Jadi gak ada hubungan nya antara beli mobil dengan kemampuan beli Premium, apapun class nya, karena yg bermain prinsip ekonomi bukan prinsip Etika…kok…

Sorry Mate ini Cuma visi ‘ Wong Deso’…ojo di koment pedes pedes ya…he…he…

Tanggapan 5 – EG Giwangkara S

Selain masalah ‘etika’ juga ada masalah teknisnya juga pak.
Mobil2 keluaran baru rata2 sudah menggunakan kompresi tinggi, itulah kenapa kemudian diminta menggunakan ON tinggi agar tidak mudah knocking. Jadi menggunakan premium 88 untuk benz atau ‘be my wife’ atau sekelasnya selain menyiksa yang berkepentingan pengguna premium 88 juga menyiksa mobil baru itu sendiri. lagipula kalau mobil minta pertamax dipaksa minum premium 88 top speednya tidak akan bisa tercapai, karena memang bukan peruntukannya.

Tanggapan 6 – M H

Tiga-empat tahun yang lalu ketika harga minyak dunia masih dikisaran 30-35 dollar perbarel koran Herald Tribune memaparkan kemungkinan harga minyak dunia yang melambung tinggi (Di koran tersebut di berikan contoh kalau minyak mencapai 200dollar /barrel yang tentunya pada saat itu semua orang tak akan percaya dan mungkin menganggap sebagai predikisi yang tak masuk akal). Edisi Money Week tiga minggu yang lalu memprediksikan harga minyak akan mencapai 187 USD/barrel, sementara belakangan terakhir melakukan revisi bahwa harga minyak akan mencapai kisaran 220 USD/barrel. Dalam edisi Herald Tribune 4 tahun yang lalu tersebut menguraikan beberapa langkah yang perlu di lakukan negara yang berpenduduk banyak seperti India dan Cina (tentunya Indonesia) salahsatunya adalah untuk mulai melakukan eksplorasi di beberapa negara lain. Setahun berikutnya kita simak bahwa negara seperti Cina dan India melakukan ekspansi besar-besaran ke negara negara Afrika,Siria dan timur tengah lainnya sementara harga minyak masih belum bergeming dari kisaran 30-35 dollar perbarrel. Negara tetangga kita Malaysia pada tahun yang sama mulai gencar melakukan eksplorasi ke beberapa negara-negara timur tengah. Setahun terakhir ini Petrobras (perusahaan minyak Brasil) mencoba memutari half globe untuk melakukan eksplorasi di daerah Dubai dan Iran.

Kenyataan lain bahwa Negara seperti Iran adalah salah satu negara yang mempunyai ladang minyak yang besar yang belum tereksplorasi secara benar, ini bisa kita lihat di daerah perbatasan antara negara-negara arab dan Iran jumlah platform bisa mencapai rasio 7:1. Sementara banyak negara dari G-8 sedikit menjaga jarak dengan negara tersebut.Kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh negara-negara lainnya seperti Malaysia dan Brasil. Sumbang Saran:mungkin saatnya sekarang kita lebih mulai pro aktif mencari sumur-sumur yang baru di luar ladang sendiri untuk mengurangi penderitaan akibat kondisi harga BBM dalam negeri…..

Share This