Select Page

Sekarang ini kita mengetahui bahwa harga minyak mentah dunia telah melewati rekor harga US$ 120/ barrel. Nah… itu kan artinya, harga minyak semakin tinggi, dan para perusahaan E&P akan bertambah bersemangat untuk mencari minyak, karena harganya yang semakin tinggi.

Seharusnya, berdasar hukum ekonomi, ketika harga semakin tinggi, maka akan semakin banyak perusahaan mencari supply untuk mencukupi demand yang ‘menggila’ ini. Ini teorinya. Nah.. yang saya perhatikan, mengapa hal ini tidak terjadi di Indonesia? Mengapa tingkat produksi minyak indonesia tidak juga meningkat dari sejak beberapa tahun lalu, ketika harga minyak mulai merangkak naik??

Pembahasan – Aroon Pardede

Dear bapak2 dan ibu,

Sekarang ini kita mengetahui bahwa harga minyak mentah dunia telah melewati rekor harga US$ 120/ barrel. Nah… itu kan artinya, harga minyak semakin tinggi, dan para perusahaan E&P akan bertambah bersemangat untuk mencari minyak, karena harganya yang semakin tinggi.

Seharusnya, berdasar hukum ekonomi, ketika harga semakin tinggi, maka akan semakin banyak perusahaan mencari supply untuk mencukupi demand yang ‘menggila’ ini. Ini teorinya. Nah.. yang saya perhatikan, mengapa hal ini tidak terjadi di Indonesia? Mengapa tingkat produksi minyak indonesia tidak juga meningkat dari sejak beberapa tahun lalu, ketika harga minyak mulai merangkak naik??

Apa yang menyebabkan produksi minyak indonesia tidak bisa meningkat cukup signifikan? Dari target-target yang di buat oleh BP Migas / Dep ESDM di dalam APBN, sependek pengetahuan saya, sejak beberapa tahun terakhir (sekitar 2004 dst) tidak pernah tercapai dalam angka produksi sesungguhnya. Nah.. pertanyaan saya, apa yang menyebabkan produksi minyak indonesia tidak juga meningkat? Apakah harga minyak yang terus menerus meningkat tidak menarik bagi kontraktor KKS migas Indonesia?
Atau, apakah ada sebab-sebab lainnya, sehingga para kontraktor ‘enggan’ untuk mencari minyak di indonesia, dan menambah tingkat produksinya?

Mengapa terjadi paradoks minyak di Indonesia? Ketika harga minyak meningkat, produksi minyak indonesia justru semakin menurun?? Apa sebabnya???

Tanggapan 1 – iwan saputra

Sebenarnya pun bukan hanya bapak saja yang bertanya mengenai hal ini, saya pun ikutan bingung.

Jadi intinya ada apa dengan KPPS yang ada di Indonesia..?

Saya pernah melihat wawancara di salah satu televisi swasta dimana Pak Kurtubi (maaf kalau salah ejaan) pernah bilang UU Migas tahun 2001 harus dirubah . Dan kalau boleh tahu UU yang mana mungkin teman-teman di BP Migas bisa sharing UU yang disebutkan oleh Pak Kurtubi.

Tanggapan 2 – M Zaki Zulqornain

Pak Aroon,

Industri migas yg merupakan industri ekstraktif, tidak memiliki karakteristik yg sama dg industri manufaktur. Betul bahwa kenaikan harga suatu produk/komoditas (biasanya karena suplai < kebutuhan/demand, entah karena lonjakan demand atau anjloknya suplai) akan menstimulasi produsen produk tsb utk meningkatkan kapasitas produksinya, yg akhirnya akan membuat suplai ~ demand, sehingga tercapai kesetimbangan baru @ fair price.

Tidak seperti industri manufaktur yg dg menambah kapasitas pabriknya akan ‘menjamin’ peningkatan tingkat produksi, usaha2 yg dilakukan oleh oil company tidak bisa otomatis menambah kapasitas fasilitasnya, tetapi (sbg contoh):

– Menggalakkan usaha2 eksplorasi utk mendapatkan penemuan cadangan baru, akan tetapi tidak ada ‘jaminan’ bahwa setiap usaha eksplorasi otomatis menemukan cadangan hidrokarbon yg ekonomis. Cukup sering bahwa setelah menghabiskan uang sekian juta dolar ternyata tidak dapat cadangan (atau malah keluar lumpur kayak di Sidoarjo?). ‘Jaminan’ kepastian peningkatan tingkat produksi seperti di industri manufaktur tidak ditemukan di sini.

– Jika ditemukan cadangan hidrokarbon, tidak selalu cukup ekonomis utk dikembangkan (bahkan pada harga setinggi skrg, atau mungkin perhitungan oil company sendiri ke depannya harga minyak akan turun karena harga sekarang bukan fair price?)

– Jika cadangan yg ditemukan cukup ekonomis pun, tidak berarti langsung bisa diproduksi. Perlu diingat, peraturan yg berlaku menyatakan migas adalah kekayaan bangsa ini, bukan milik oil company sehingga dibutuhkan persetujuan dari negara (BPMIGAS & ESDM) thd rencana pengembangan lapangan (POD). Pembuatan POD sendiri bukanlah kerja satu malam, begitu pula pemberian persetujuan thd POD. Dibutuhkan sikap prudent dalam perencanaan pengembangan lapangan, dan kita sendiri pasti mengharapkan bahwa eksploitasi migas yg ada di negeri ini haruslah memberikan pemanfaatan yg optimal. Kita tidak hidup di zaman Sangkuriang yg bisa buat perahu dalam 1 malam, atau Bandung Bondowoso yg bisa membuat kompleks candi dalam 1 malam.

– Bahkan setelah POD disetujui, tidak berarti eksekusi merupakan hal yg mudah. Pembebasan lahan sbg contoh, apakah oil company boleh memaksakan harga yg diinginkan kpd pemilik lahan agar proyek bisa berjalan dg cepat? Atau bolehkah pemilik lahan meminta harga yg lebih tinggi ‘mumpung’ sdg dibutuhkan? Saya rasa kita semua setuju bahwa kedua pihak membutuhkan waktu yg cukup utk mendapatkan, kembali lagi, fair price utk lahan yg dapat diterima semua pihak.

– Selain itu pengadaan barang & jasa utk kebutuhan oil company bukanlah hal yg mudah. Pada saat seperti sekarang ketika semua oil company menggiatkan usaha2nya, rig menjadi barang langka, harga baja ikut2an naik, fabrikator tiba2 bekerja at full capacity utk membuat berbagai peralatan dari platform sampai pressure vessel, jumlah kapal (dalam berbagai tipe utk menunjang operasi oil company) tiba2 tidak cukup, dan lain sebagainya, membuat seluruh biaya naik sehingga budget oil company perlu direvisi dan disetujui oleh BPMIGAS, yg lagi2 tidak bisa dilakukan dg prinsip ‘asal cepat’.

– Selain itu tentu seperti yg sudah2 dikemukakan, kebanyakan lapangan di Indonesia sudah tua, sehingga perlu dilakukan usaha2 tambahan. Kalo dulu tekanan di reservoir cukup utk mendorong hidrokarbon ke permukaan, sekarang perlu ‘disedot’ dg berbagai metode. Selain itu skrg yg dikejar adalah perkiraan cadangan yg letaknya lebih dalam artinya biayanya pasti lebih tinggi (drilling lebih dalam, butuh OCTG lebih banyak, semakin sulit mengandalkan tekanan reservoir agar hidrokarbon naik sendiri ke atas, dsb).
Kesemua extra efforts tadi tentu membutuhkan biaya lebih tinggi.

– Selain itu utk oil company yg juga beroperasi di negara lain, prospek proyek di Indonesia harus dibandingkan dg prospek proyek di negara lain, utk penetapan alokasi resources (dana, waktu, personel) yg dapat memberikan tingkat keuntungan yg optimal bagi company. Wajarlah, namanya juga tindakan ekonomi, pertimbangannya tentu berdasarkan motif ekonomi.

Demikian penjelasan yg dapat saya berikan sependek pengetahuan saya.
Mudah2an anggota Milis yg lebih paham bisa memberikan penjelasan yg lebih baik yg bisa menjawab rasa penasaran Pak Aroon yg saya rasa juga mewakili rasa penasaran banyak pihak.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia pembahasan bulan Mei 2008 dapat dilihat dalam file berikut:

Share This