Di majalah Fortune edisi circa lebaran 2007 lalu, ketika harga minya belum mencapai US$ 100, sudah dibahas mengenai tumbuhnya solar-based power generation industry.
Singkatnya di negeri Paman Sam sana, yang kurang lebih pola konsumsi energinya berbasis Bensin, sudah mulai dimulai gerakan penggunaan solar power untuk housing dan toko-toko supermarket besar seperti WalMart. Pemerintah negara bagian California pun menerapkan insentif penggunaan solar cells untuk housing, sehingga harganya kompetitif dengan listrik yang dijual oleh power companies.

Oleh : Eko Prasetyo

Dear All,

Di majalah Fortune edisi circa lebaran 2007 lalu, ketika harga minya belum mencapai US$ 100, sudah dibahas mengenai tumbuhnya solar-based power generation industry.
Singkatnya di negeri Paman Sam sana, yang kurang lebih pola konsumsi energinya berbasis Bensin, sudah mulai dimulai gerakan penggunaan solar power untuk housing dan toko-toko supermarket besar seperti WalMart. Pemerintah negara bagian California pun menerapkan insentif penggunaan solar cells untuk housing, sehingga harganya kompetitif dengan listrik yang dijual oleh power companies.

Para pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin pun mulai menginvestasikan uang mereka untuk sebuah powercell company. Jim Cramer, investment advisor nyentrik dari CNBC.com (yang bisa diliat kenyentrikannya di fim Iron Man (2008) ) pun selalu mengadvis para homegamers (investor kelas rumahan) untuk membeli saham-saham perusahaan solar cells.

Mudah-mudahan pemerintah, dengan mencabut subsidi BBM, bisa menyisihkan sebgaian uangnya untuk meriset dan merintis penggunaan solarcells ini. Saya lihat di Jakarta sendiri banyak sekali kemungkinan penghematan BBM dengan penggunaan solarcells ini: lightings untuk halte-halte, papan-papan reklame, street lightings, bahkan mungkin power untuk lampu-lampu bis-bis transjakarta pun bisa menggunakan solarcells ini.

Penggalakan solarcells pun bisa menghindari kita dari penggunaan PLTN yang kontroversial. Saya kira PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) bisa kita bangun besar-besaran di propinsi-propinsi yang masih sedikti penduduk dan masih kurang pembangunannya, seperti NTB, NTT, Sulteng, Maluku, dan Irian. Kita tidak perlu khawatir tentang bahaya radiasi, dan pembangunan solar cells compound besar-besaran bisa memberikan multiplier effects yang luar biasa bagi perekenomian daerah-daerah itu. Dengan keterpaduan antara teknologi dan arsitektur dan seni, bisa saja PLTS-PLTS compounds bisa menjadi sebuah sasaran pariwisata yang bisa menarik devisa.

Ini ada beberapa link untuk solar generated electricity dari Wikipedia.

http://en.wikipedia.org/wiki/Photovoltaics

http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_power

Semoga pemikaran saya ini bisa sedikit menyumbang pemecahan untuk pengurangan BBM.