Select Page

Sebuah nilai ilmiah harus terukur dengan pasti. Kepastian tergantung dari siapa yang mengukur, alat ukur, metode yang digunakan dan sistem yang diukur itu sendiri. Operator alat ukur sebaiknya paham tentang sistem pengukuran, mengerti standar yang dipakai pada bidang sistem secara keseluruhan, dan sangat dianjurkan terlatih secara formal, ditunjukkan dari sertifikat yang dimiliki operator.

Kiriman dari : Totok R. Biyanto

Belajar Ihklas dari Teknik Pengukuran

Sebuah nilai ilmiah harus terukur dengan pasti. Kepastian tergantung dari siapa yang mengukur, alat ukur, metode yang digunakan dan sistem yang diukur itu sendiri.

Operator alat ukur sebaiknya paham tentang sistem pengukuran, mengerti standar yang dipakai pada bidang sistem secara keseluruhan, dan sangat dianjurkan terlatih secara formal, ditunjukkan dari sertifikat yang dimiliki operator.

Sebuah alat yang presisi sangat menentukan ketepatan dan repeatabiliti sebuah nilai pengukuran. Alat ukur multitester yang sederhana mengukur voltase dengan error yang besar, namun harganya murah dan kalibrator standar untuk mengukur voltase yang sama pada sebuah laboratorium kalibrasi standar akan menghasilkan error yang sangat kecil namun harganya sangat jauh berbeda. Peningkatan kepresisian sangat mahal harganya sesuai teknologi yang digunakan, dimana teknologi adalah hasil dari usaha manusia yang terus menerus dan bersungguh-sungguh.
Kepresisian tidak lepas dari pemilihan sensor sampai pendisplaiannya, sebagai contoh : mengukur temperatur bisa dilakukan langsung menyentuh sistem yang diukur (misal dengan thermometer gelas, bimetal, termokopel, dll) dan bisa juga secara non kontak langsung menggunakan interpretasi warna/image dari optik. Mengukur ketinggian muka cairan/level secara langsung menggunakan sign glass/mistar, prinsip perbedaan tekanan dan non kontak mengunakan radar. Mengukur laju aliran fluida secara kontak menggunakan volume dan waktu (turbin meter), head loss (perbedaan tekanan), dan non kontak misalnya ultrasonik flow meter. Pengukuran tekanan biasanya langsung untuk tekanan yang bisa dirasakan/disensor dengan mekanik (diafragma, bellows, bourdon tube), namun bila resolusinya sangat kecil maka bisa menggunakan optik yang non kontak dan perbedaan tekanan dilihat dari perbedaan warna atau spektrum gas yang diukur. Semua mempunyai karakteristik diri berbeda-beda termasuk karakteristik kepresisiannya.

Sebuah alat ukur tidak lepas dari mana power diterima dan seberapa stabil dan handal power tersebut. Dari segi power atau tenaga, ada pengukuran yang harus diberikan power supply dari luar/external dan ada yang sudah bisa membangkitkan sumber tenaga sendiri. Namun sebenarnya keduanya sama, yaitu sama-sama membutuhkan tenaga. Eksternal power sudah jelas powernya dari adaptor DC sesuai tegangan yang dianjurkan pembuat alat, disambungkan ke tegangan 220 dari PLN. Internal power mengambil tenaga dari sistem itu sendiri misalnya bimetal memanfaatkan prinsip perbedaan muai dari dua logam saat dipanaskan, pengukuran pH dari perbedaan kandungan H+ dan OH- larutan yang diukur dan sebagainya.

Pengolahan sinyal mutlak diperlukan disebabkan range output sebuah komponen pengukuran tidak sesuai dengan standar, terlalu kecil atau terlalu besar untuk langsung diumpankan ke komponen berikutnya, misalnya menggunakan penguat operasional (Opamp) agar Common Mode Rejection Ratio (CMRR) menjadi besar. Terkadang juga sinyal yang kita peroleh mempunyai Signal to Noise Ratio (SNR) terlalu kecil sehingga membutuhkan filter untuk mengurangi noise, mengkonversi dari analog ke digital dan sebagainya.
Semua usaha mencapai presisi yang tinggi harus dilakukan secara terus menerus, memakan waktu dan biaya. Hanya yang sabar dan bersunguh-sungguh saja yang akan mampu bertahan..

Spesifikasi alat ukur yang penting adalah range atau daerah yang bisa diukur dan akurasi. Range pengukuran sangat beragam tergantung dari sistem yang diukur, berbeda range (0-100% sinyal) maka kesalahan sistematik akan terjadi. Batas bawah range pengukuran bisa diatur pada zero adjusment, sedangkan batas atas pengukuran bisa disesuaikan dengan mengatur span adjusment, sehingga sesuai dengan range yang kita inginkan.

Apakah data hasil pengukuran yang presisi itu sudah benar secara relatif? Belum, karena belum dikalibrasi. Kalibrasi adalah usaha meningkatkan akurasi pengukuran atau dengan kata lain, akurasi sebuah alat ukur merupakan resultan antara presisi alat itu sendiri dan kalibrasi yang dilakukan. Kalibrasi sebaiknya dilakukan menggunakan master kalibrator dengan standar tertinggi yang diakui bersama. Kalau tidak terdapat standar tertinggi maka dianjurkan menggunakan master kalibrator sudah dikalibrasi dan mempunyai akurasi 10 kali lebih baik daripada unit/alat yang dikalibrasi.

Setelah dikalibrasi alat harus kita rawat dengan baik agar akurasi tetap terjaga dengan di warming up berkala, jangan dijatuhkan, dijaga suhu ruangan, kebersihan, dan lain-lain.

Nilai keikhlasan kita sangat penting dalam beramal karena ‘orang tak berilmu bagaikan orang mati, berilmu tanpa amal bagikan orang tidur dan orang beramal tanpa ikhlas adalah merugi ‘. Ihklas bisa didefinisikan beramal tanpa menuntut balasan kepada selainNYA. Apa yang diperintahkan kita kerjakan dan yang dilarang kita jauhi. Langkah awal adalah belajarlah ilmu yang berguna mulai dari buaian sampai masuk liang lahat atau syareatnya, amalkan ilmu yang diperoleh sedikit demi sedikit dari yang mudah agar tidak menimbulkan beban yang berlebihan yang mungkin dapat merusak tujuan inti beramal dengan ikhlas.

Apakah kita sudah ikhlas? Mari kita ukur keihlasan kita sendiri secara ilmiah. Pertama operator yang mengukur keihlasan yaitu kita sendiri harus paham variabel ihklas, dengan apa sensor yang sesuai, apa penggangu dan noisenya, bagaimana menghilangkan/meminimalkan pengaruh penggangu dan noise. Kalau perlu pendidikan formal tentang agama dijalani, atau mengikuti pengajian yang terstruktur dan berkesinambungan yang bisa menambah pengetahuan mendekatkan diri kepadaNYA.

Kerjakan dengan sungguh-sungguh, continous improvement, selalu merasa bodoh dan salah dengan selalu memohon ampun dan memohon syafaat, diberi petunjuk ke jalan yang benar dan karunia untuk kemudahan kemudahan menjalaninya. Jika kita datang berjalan maka Dia datang dengan berlari, dan seterusnya. Artinya kita telah berusaha meningkatkan kepresisian terhadap nilai yang kita anggap benar secara relatif dimana nilai kebenaran relatif ini tidak lain adalah mean atau rata-rata dari keseluruhan nilai dalam diri dan lingkungan kita semata, yang tergantung dari sebaran data dan bisa berubah rubah. Semua orang yg mencari kebenaran kiranya sudah paham dan menjalani hal ini.

Indikator ihklas dapat dilihat dari kepatuhan kepadaNYA dan ahlak kepada semua makhluk dalam kesehariannya, sekali lagi hanya indikator yang terkadang tidak sesuai dengan nilai yang sebenarnya bila tidak dikalibrasi dengan nilai yg mutlak dariNYA, atau hanya kelap kelip lampu/led bahkan screen saver yang indah. Bagaimana mengkalibrasi dengan yang Maha Benar, Maha Akurat dan Maha-Maha Positif lainnya sedangkan kita maha kecil, maha kotor, maha bodoh, dan maha-maha negatif lainnya. Kalau kita tidak bisa mengkalibrasi langsung secara fisik terhadap master kalibrator tertinggi, carilah kalibrator yang dianggap lebih tinggi akurasinya dari kita dengan kata lain kalau belum bisa menjadi kekasihNYA, maka berkumpullah dengan orang orang yang sholeh, para wali dan kekasih-kekasihNYA di dunia, agar treaceablity tetap terjaga sampai kepadaNYA. Usaha kita mengkalibrasi kepadaNYA adalah dalam rangka meningkatkan akurasi nilai keikhlasan kita.

Apakah kita sudah selamat dengan semua usaha-usaha diatas? Belum, karena musuh utama kita yang telah mengeluarkan Adam dari surga lebih cerdik dari kita dan ‘bertahta ‘ dalam diri kita. Kita tidak tahu syaitan, sedangkan dia sangat tahu kelemahan kita, itulah sebabnya Adam kalah di surga bukan di tempat hiburan. Rawat alat/unit yang telah dikalibrasi dengan selalu berkumpul dengan kekasih-kekasihNYA, meminimalkan penggangu yaitu kejahatan/syaitan yang ada dalam diri kita atau mungkin pengganggu dari lingkungan kita yang akan menyebabkan noise pada keikhlasan, dengan selalu berfikiran positif, positive feeling, tebarkan kasih sayang terhadap semua mahluk, membantu sesama, bersedekah, berdoa, dan seterusnya karenaNYA agar terkikis hijab dan kekerasan hati. Semua mungkin bisa membantu bila semua ditujukan ‘hanya’ untuk mencariNYA dan mencapai keridhoaanNYA.

Akhirnya, keihklasan harus dicapai dengan bersunguh-sunguh untuk meningkatkan kepresisian, dikalibrasi dengan master yang Maha Benar untuk meningkatkan keakurasian, selalu berkesinambungan merawat dengan selalu berkumpul dengan kekasih-kekasihNYa, merawat keikhlasan dari ganguan syaitan yang terkutuk dalam diri kita dengan mematuhi Standart Operating Procedure (SOP) yang sesuaiNYA dan meminimalkan penggangu lainnya dengan kasih sayang. Hal ini harus terus dilakukan mulai dari buaian sampai liang lahat, karena manusia sangat adaptif, bisa lebih buruk dari hewan karena syaitan dalam diri kita dan bisa lebih baik dari malaikat karena ada NUR NYA di dalam diri kita.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Share This