Select Page

Tim analis energi Goldman Sachs dari Amerika mengatakan bahwa dalam kurun waktu 6 – 24 bulan mendatang krisis energi akan terus berlajut dengan harga minyak dapat mencapai antara 150 – 200 dolar AS per barel! Tetapi, Mr. Murti -ketua tim tadi- percaya bahwa harga minyak tidak akan naik lagi dan kembali normal setelah harga minyak yang tinggi dapat mengurangi deman dan merubah kebiasaan konsumsi minyak cukup untuk menjadikan suplai global tertata kembali. Dengan harga minyak sekarang ini, pemerintah telah berada dalam pilihan yang sangat berat untuk mengambil keputusan menaikkan harga minyak. Selain mengurangi kebiasaan boros energi seperti yang dikatakan Tuan Murti yang dapat menstabilkan harga minyak, sekarang ini bangsa Indonesia harus segera memperoleh solusi untuk masalah energi pada masa yang akan datang.

Pembahasan – Budhi, Swastioko (Singgar Mulia)

Mas Ferry dan Pak Wahyudi Citrosiswoyo, terima kasih atas kiriman dokumennya yang sangat menarik ini. Saya setuju dengan pendapat Pak Wahyudi bahwa seharusnya Indonesia harus lebih serius beralih ke Geothermal mengingat potensi yang dipunyai Indonesia sebesar 27 GW atau setara dengan 40% cadangan geothermal dunia.

Mas RDP pasti langsung merepon email ini :). Bagi anggota yang mengambil mode daily digest atau no email, attachment yang sama dapat anda download dari
http://migas-indonesia.net/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=183&Itemid=42.

Attachment : Geothermal Sumber Energi Masa Depan.pdf

Ferry Ferdiansyah@saipem

Yth. Bapak/Ibu sekalian, teman2, adik2 mahasiswa,

Berikut ini saya lampirkan tulisan mengenai Geothermal yang saya susun dari berbagai sumber.
Pada dekade 70-an akhir, ketika saya masih duduk di bangku SMA saya telah mendengar ada kegiatan eksplorasi panas bumi di Dieng Jawa Tengah. Saya mendengar ada kegiatan itu dari saudara sepupu saya yang lulusan STM Pembangunan jurusan Pertambangan dan Geologi Jogja tidak mau bekerja di bidang geothermal karena ada temannya yang meninggal karena kecelakaan pada saat pemboran eksplorasi.

Bukan masalah kecelakaan yang ingin saya sampaikan di sini, tetapi tentang rentang waktu yang begitu lama (hampir 30 tahun) atau lebih sejak berita kecelakaan tersebut sampai sekarang. Indonesia baru mampu memproduksi tidak sampai 900 MW dari potensi 27 GW yang dapat digerakkan oleh tenaga panas bumi di Indonesia.

Cerita lain yang terjadi kurang lebih pada waktu yang sama… Industri rumah tangga pengecoran logam di Ceper Klaten dan di Tegal Jawa Tengah pada dekade 70-an sudah mampu membuat pompa dragon(ini mungkin mudah?) dan ‘bureng’ (bhs jawa tengahan untuk rumah piston sepeda motor, itu lho tempatnya ‘seker’…).

Mestinya, seharusnya kalau… dst. dst.
Saat ini kita tidak perlu ‘dipusingkan’ oleh naiknya harga minyak…
Saat ini Indonesia tidak perlu dibanjiri sepeda motor dari Cina dan Jepang, India,… Vietnam? Siapa tahu…:-(

Apa benar ya yang ditulis seorang guru besar sosiologi (?) dari Jepang di Kompas pada tahun 2002-an (lupa saya), yang mengatakan bahwa orang Indonesia tidak pernah berpikir panjang….

Bapak/Ibu/Sdr. sekalian… Selain energi alternatif yang lain, geothermal sangat menjanjikan sebagai penggerak turbin yang menghasilkan listrik. Tentang berbagai keunggulan dan kelemahan serta kendalanya silahkan baca di lampiran.

Saat ini Jefferson Tester, seorang guru besar dari MIT sedang mengajukan proposal pengembangan geothermal universal. Tidak perlu mencari di daerah volkanik yang magmanya ada relatif dekat permukaan, tetapi bisa diperoleh di mana saja. Asal teknologi pengeboran dapat menembus 20 km!!, teknologi material dapat mengatasi kekuatan sampai suhu tinggi,teknologi drilling dapat mengatasi lost circulation dan caving dan problem pemngeboran yang lain!

Untuk teknologi di permukaan tidak jauh berbeda dengan pengeboran minyak dan untuk proses pembangkitan juga tidak jauh berbeda dengan pembangkit uap tenaga bahan bakar fosil..

Naah, mari kita patahkan pendapat profesor jepang tadi! mikir yang jauh ke depaaaaan dan yang dalaaaaam (drilling semakin dalam semakin sulit dan mahal…).

Tanggapan 2 – Rovicky Dwi Putrohari

Wah Mas Budhi ini bisa aja mancing-mancing kumentar. Saya lagi sibuk nyiapin buat presentasi di KBRI hari Sabtu besok. Jadi belum bisa komentar banyak.
Kalau saya baca (donlod) sih pasti lah 🙂

just FYI :

Cadangan yang 27 GW itu setara dengan produksi 800 barrel perhari !

– Maka dalam 30 tahun (satu masa konsesi migas) nilainya akan menjadi setara 1,451,520,000,000 liter BBM atau 9,129,786,412 barel-e (~ 9 milyar barrel ekivalen).
Cadangan minyakbumi kita saat ini hanya sekitar 5 Milyar barrel !

Tanggapan 3 – Miftahul Arif

Malah ada yg bilang, kalau cadangan steam yg ada di tiap well bisa mencapai 100th ya pak?
hhmmm…. kenapa kita terlambat ya?
100thn = ~ 30 Milyar barel

Tanggapan 4 – Eko Prasetyo

Belum lagi kemungkinan steamnya bisa direcycle dengan inject kembali ke aquifer.

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

Dear Pak Bahagia,

Bisa juga pak, cuman kan ngak bisa besar besar seperti power demand jaman sekarang.
recip engine seperti yang di pakai di kereta api jaman dulu power nya tidak lah besar.

dari sisi investor ingin ballance antara drilling , facilities investemnt, maintenace , operating cost vs power yang harus dihasilkan berat ke power.

Dari sisi investor, kalau bisa energy nya diambil semua nya besok pagi, jadi present value nya tinggi, dibandingkan kalau harus di spent 30 tahun baru habis.

Tanggapan 6 – roeddy setiawan

Opini,

Agak berkerut dg geothermal, yes the potential was ther but do we have the technology to extract geothermal saya kira masih jauh.
The technology was much diferent dg oil and gas yg dicari adalah fracturng rock yang menganga lebar buat megeluarkan steam nya.
Belum lagi ada nya ditempat2 yg tinggi , jadi untuk continuity air harus disuply dr tempat yang lebih rendah, gravity rule. begitu banyak potensi hanya beberapa yg ahirnya sampai jadi powerplant, salak 50 mw, kalau dibanding dg Frame 9 yg cuman segede peti kemas 120 mw
bagi mechanical engineer geothermal steam mimpi buruk , acid gas, mulai dr h2so4 saampai h2s, masih banyak problem yg harus diresolved dr sisi well exploration maupun utilization. kalau rekan yg suka ngoprek steam boiler dan turbine nya sekali, faham begitu banyak usaha buat membuat feed water acceptable untuk boiler. yang ini sebaliknya. steam yg didapat low energy density bukan yg superheat, jadi turbinya mesti sebesar klinker roaster nya pabrik semen, so its technological challange, kalau massa yg besar diameter besat diputar, gaya setrifugalnya menarik blade nya keluar, ngak banyak orang yang punya technolgy untuk membuat material tahan excessive strain spt di geothermal turbine ada yg hidden, ngak pernah dibilang tapi disebut green energy, actually its not so green ya. itu unwanted chemicals keluar semua, mulai dr boron mercury silica dll. saya kira kalau technology nya sudah mature ya okay, tapi yangg bikin power plan geothermal bisa dihitung jari the reality is not in our life time maksud nya, lets faceit bukan kita saja yang susah, tapi yang penting bagaimana kita keluar dr obstacle ini tentunya bukan dengan semboyan tiada rafia bisa pake gedebok pisang, dr solution yg kita punya, pake acceptable standard yg dikenal dunia, bisa dikomersialkan every nation need the solution untuk kebutu=han ebnergy nnya.

Tanggapan 7 – ebahagia@ebahagia

Pak Roeddy & rekan milist,

Tanya dikit kalo boleh… apa steam engine (reciprocating) juga lazim di pakai dalam geothermal or coal/biomass power plant ? bukannya lebih efficient vs rotary type?

Tanggapan 8 – Herry Putranto@cendrawasih

Dear Pak Budhi,

Pantesan seharian saya cari dokumen tersebut koq gak ada di Folder yang disebut Pak Budhi, soalnya saya perlukan sebagai masukan untuk seminar Mengelola Resiko dalam Investasi Panas Bumi di Indonesia yang akan saya hadiri di Ritz Carlton minggu depan. Karena dari sudut pandang bisnis maka pembicaranya juga ada dari Perbankan (Pak Agus Martowardoyo, Dirut Bank Mandiri) karena tidak melulu dari aspek teknologinya saja tetapi juga aspek regulasi dan otonomi daerah yang kadang2 menghambat investasi. Namun karena ada masukann2 dari rekan2 milis maka saya akan coba sharing dengan para Pakar (Herman Darnel ibrahim), Asosiasi Pabum Ind (Surya Darma), Pelaku Usaha (Darmoyo D/Medco) dan pak Simon F Sembiring selaku Regulator. Mudah2an bisa memperkaya khasanah kita semua dibidang energi alternative khususnya Pabum ini.

Tks Pak Budhi untuk infonya yang sangat berharga dan tepat waktu.

Tampaknya banyak juga ya rekan2 milis ini yang sudah bergerak di usaha pengolahan dan pemasaran CNG di Indonesia. Soalnya setiap ketemu pelaku2 CNG eh ujung2nya beliau2 ini anggota milis tercinta juga he he he kalau mau disebut satu2 banyak banget deh dan beliau2 ini moderator dan aktivis milis migas. Hallo Mas Suparman, Mas Hasannuddin (KPM), Mas ebahagia, Mas Indra Prasetyo (IndoGas), Danny Praditya (PT CNG), Ivanna (Energy CNG), Ruddy Firmanto (Galileo), Zaki (Organics) dst belum termasuk rekan2 yang yang punya Gas (PGN). Sukses dan selamat menikmati booming CNG.

Share This