Penentuan laju-tekanan-volum-jumlah/posisi sumur injeksi itu idealnya terpadu oleh suatu asset team. Karena setiap anggota team punya kepedulian masing2, yang harus diakomodasi sejauh mungkin (reservoir-, prodn-, workover-engineer, petrophysicist, geologist, prodn ops supt, dll.). Anda sbagai team leader sebaiknya merangkap peran proj economist, aspek pengendali proses pemilihan alternatif yang menjadi sorotan management. Jangan sampai terperangkap standar acuan parameter air injeksi apalagi, menurut saya lho, dosa over-design jauh lebih berat daripada under-design. Khususnya jaman sekarang, salah2 dituding oditur sebagai penjahat mark-up CostRec.

Tanya – caca

Bapak, Ibu, saya kesulitan mendapatkan dasar acuan artikel untuk parameter kualitas air injeksi seperti TSS, solid, oil content, ph, turbidity, scale index, bactery, oxigen content, co2, cl-, kadar besi., mohon bantuannya apabila bapak, ibu ada yang punya artikel tersebut. Tolong dikirimkan ke saya, sebelumnya terimakasih. Selain itu, mohon pencerahannya dalam menentukan operasional rate injeksi optimum hal apa saja yang perlu diperhatikan selain kemampuan sumur itu sendiri, Sebagai informasi, injeksi air ini dalam rangka pressure maintenance dan di-injek di zona aquifernya. Terima kasih.

Tanggapan 1 – Eko Yudha

Mas/mbak? Caca,

Terlampir dlm attachment, ada satu SPE paper yang saya buat bersama pak Rudi Rubiandini (dosen tek perminyakan ITB) tentang produced water re-injection. Paper tsb saya presentasikan di SPE APOGCE Melbourne 2002. Mudah2an bermanfaat.
Tentang kualitas air injeksi, saya coba cari2 dulu di database saya, mudah2 sempat saya simpan file-nya.

Tanggapan 2 – Admin Migas

Terima kasih Mas Eko yang sudah mengirimkan papernya ‘Designing an Injection Program of Produced Water Re-injection in Mature Fields’ dan sudah saya upload di URL :

http://migas- indonesia. net/index. php?option= com_docman& task=cat_ view&gid= 161&Itemid= 42
bersama dengan 3 dokumen yang lainnya yaitu :

Production Logs

Reservoir Compaction and Surface Subsidence in the North Sea Ekofisk Field Surveillance Technology to Detects and Monitor Compaction and Subsidence Effects.

Silahkan kalau ada yang ingin ditanyakan, langsung via milis saja. Karena langsung dimonitor oleh penulisnya.

Tanggapan 3 – rdanisworo1@mmm

Dear All,

Partikel kontaminant dari Air yang akan di injeksi harus dikontrol pada ukuran tertentu , sebuah studi menunjukkan bahwa Partikel dengan ukuran antara 1/3 – 1/7 dari rata rata diameter pore , akan membentuk stable bridge , dan akan plug the pore.

Salah satu yang diamati juga dari model ini , terutama untuk completion services , lebih menguntungkan bagi operator untuk meminta system USD/ barrel fluid filtered at detemined parameter., daripada USD / cartridge filter.

Karena ada ribuan cartridge filter disana , dengan macam macam performance.

Kalau cost based on per cartridge , semakin cepat mampet filter semakin banyak duit yang harus dikeluarkan. Please challenge this statement.

Terima kasih

Tanggapan 4 – roeddy setiawan

Memang benar, menyaring air dg catridge filter was water bad idea, first line filter yng bisa diregenerasi jadi ngak beli beli lagi.
nomer dua qual;itas air baku nya sendiri, kalau pake surface wtr yg spt bajigur, well its dificult anda boleh dibilang harus bikin instalasi spt pam dulu baru difilter lagi.

Instalasi modern cenderung ke membrane, jadi life time nya cukup lama , we are doing 150,000 bblpd wtwr injection pakai membrane ngak pernah masalah , lebih bagus dr air suntik , at well cost 8 million a piece we dont want to spoil the reservoir dg masukin yg bukan bukan. memang initial cost mahal tapi continuation of operation important.
dulu saya dengar maxus sudah sampai 300,000 bbl wtr injection, barangkali rekan ex maxus bisa share.

Tanggapan 5 – Rawindra Sutarto b

Belum ada sharing dari teman2 CNOOC-Maxus-DiamondShamrock-IIAPCO SES ?

Kalau pengalaman saya, masalah serius bukan dari padatan tersuspensi. Bila sumber air injeksi diambil dari laut, biasanya kombinasi kandungan oksigen dan kegaraman menjadi sumber perkara. Jadi umumnya pasang oxygen stripper. Bila dari air produksi, penyakit utama adalah oil-in-water content. Biar pun memenuhi standar overboard disposal 25 ppm OIW, setidaknya dalam jangka panjang ya bumpet lah perforasi sumur injeksi, apalagi kalau masih tersisa emulsi yang memudahkan partikel2 halus (fines) terperangkap dan terbawa oleh air injeksi. Tapi yang menjengkelkan bila terjadi minor plant upset dan beberapa gallon minyak (oil slugs) lolos terinjeksi bersama air produksi, lantas menyumbat perforasi dalam hitungan beberapa jam saja. Dan insiden oil slugs lolos ke sumur injeksi begini nggak bakal ketahuan atau tercatat di logbook prodn operator. Proyek kami yang belom sempet saya saksikan selesai (20 thn y.l.) adalah merangkai oil-in-water detector ke sistem S/D. Maklumlah cuma proyek sampingan teknisi instrumen, yang selalu kewalahan terbebani program maintenance rutin. Sekarang mestinya paket sistem ini sudah dijual komersial, ‘off-the-shelf’.

Buat Caca, sekedar pencerahan umum, penentuan laju-tekanan-volum-jumlah/posisi sumur injeksi itu idealnya terpadu oleh suatu asset team. Karena setiap anggota team punya kepedulian masing2, yang harus diakomodasi sejauh mungkin (reservoir-, prodn-, workover-engineer, petrophysicist, geologist, prodn ops supt, dll.). Anda sbagai team leader sebaiknya merangkap peran proj economist, aspek pengendali proses pemilihan alternatif yang menjadi sorotan management. Jangan sampai terperangkap standar acuan parameter air injeksi apalagi, menurut saya lho, dosa over-design jauh lebih berat daripada under-design. Khususnya jaman sekarang, salah2 dituding oditur sebagai penjahat mark-up CostRec ….. cilakak 12.

Buat pencerahan mikro, sebelum memilih teknologi filtrasi, pastikan dulu bahwa pertolongan gravitasi+retention time (washtank) dan/atau gaya sentrifugal (cyclone) terbukti tidak memadai bagi proyek anda. Saya tidak sempat berpengalaman dengan filter cartridges / membrane, karena baru baca price-tags sudah mau pingsan, ditambah terkesan jelek dengan kinerja filter kuno jenis DA (diatomeous earth) yang menurut manual harus diregenerasi berkala … tapi kurang cermat diamalkan oleh operator… ya masalah klasik SDM di lapangan, lack of supervision. Secara intuisi, mendidik/memecat pekerja lapangan pasti tidak semudah/semurah membuang filter buntu. Tapi siapa tau, pilihan2 tsb perlu ikut dihitung keekonomiannya dan ternyata memberi hasil yang menarik …..