Biasanya, setiap class punya aturan untuk menghitung power supply..itu di namakan Load analisis..ketika load analisis sudah di dapat kan, maka kita akan dapat mengetahui berapa power yang kita butuhkan. Dan class biasa nya berpedoman kepada IEC, ada jg SOLAS.. harus mengikuti class itu, karena itu adalah class requirement.

Tanya – P. Arief L.

MIGAS-ers,

Apakah ada standard / code internasional yang mengatur (atau paling tidak recommended practice) ttg jumlah power supply yang harus tersedia pada suatu plant, baik (onshore maupun offshore). Dan apakah requirement ini berlaku untuk industri marine (kapal tanker, cargo, MODU, etc) atau apakah requirement ini mengikuti kelas (rule pada classification society) masing2 ?

Kemudian, saya masih awam ttg masalah ini, apakah menurut pengalaman bapak/ ibu sekalian apakah suatu batere (yang merupakan sumber pemicu awal untuk menjalankan power) bisa dikategorikan sebagai emergency generator yang bisa digunakan jika semua sumber power pada suatu plant tidak berfungsi ?

Mohon bimbingan dan pencerahannya. Terima kasih.

Tanggapan 1 – ardi soma

Biasa nya, setiap class punya aturan untuk menghitung power supply..itu di namakan Load analisis..ketika load analisis sudah di dapat kan, maka kita akan dapat mengetahui berapa power yang kita butuhkan..

Dan class biasa nya berpedoman kepada IEC, ada jg SOLAS..
harus mengikuti class itu, karena itu adalah class requirement
(itu yang saya ketahui sih pak..)

Battery berfungsi untuk mensuplly equipment2 DC yang membutuhkan, apalagi ketika kondisi2 emergency. maka battery harus bisa mengsuplly

1. Equipment Essential selama 18 jam.

2. Second Essectial..

Untuk battery bisa di katakan sebagai pemicu jantung ketika semua power plant mati.
Di katakan sebagai generator kalau kita maknai bettery adalah alat listrik yang menghasilkan tenaga listrik..

Mohon maaf kalau ada salah info..
karna jga masih belajar..

Tanggapan 2 – Kunarta DjayaPutra

Mas Ardi/N’doe,

Bicara mengenai Power Supply,

Pertanyaan nya: Adakah Standard/Code atau Recommended Practice yang mengatur atau memberi acuan mengenai jumlah power supply yang harus tersedia di suatu plant offshore or Onshore.

Untuk menjawab ini ternyata akan memakan waktu banyak dan berlembar-lembar, itu kalau mau jelas.

Saya akan coba sekilas aja (yang saya tahu dan belum tentu benar) ya,

Waktu kuliah di Uni, kita pernah dapat mata kuliah ‘Power System Analysis’ dan saya pikir itu teoritis.

Praktisnya di Engineering, setelah kita mendapat informasi dari discipline lain( Mechanical, Process etc) maka kita akan dapat load list.

Berdasarkan Load list ini baru kita buat Electrical Load Analysis dimana berdasarkan Standard baik di IEC maupun NEMA/NEC maka kita hitung,

1. 100% Normal Load

2. Max Operating Load = item 1 ditambah 50% intermittent load atau intermittent load yang paling besar.

3. Peak Operating Load = item 2 ditambah Stand by load yang paling besar.

Berdasarkan hasil Peak Operating Load inilah kita menentukan akan memakai apa sebagai Power Supply.

Itu bisa Diesel Engine, Gas Engine, Gas Turbine atau Solar panel.

Mengenai jumlah nya harus berapa, itu bisa 1 x 100 %, 2 x 100% (satu stand by) atau 3 x 50% tergantung dari kocek nya yang punya project.

Sekali lagi kita ingat waktu di kuliah dulu,

Tanggapan 3 – mujibul anam

Sedikit menambahkan saja terhadap apa yang sudah diuraikan oleh pak kun dan juga pak ardi, setiap facility baik onshore maupun offshore tentunya mempunyai requirements yang tidak persis sama mengenai electrical consumers apa saja yang harus disuplai dengan electrical power, baik untuk process equipment maupun untuk utility equipment.
dalam hal ini, selain lokasi equipment-equipment tersebut di dalam plant, perlu juga dipertimbangkan tegangan-tegangan dan frekuensi yang perlu disediakan.
mengenai tegangan dan frekuensi, standards yang bisa dirujuk misalnya IEC 60038.
selain itu, tingkat criticality-nya juga pelu dipertimbangkan (berdasarkan pertimbangan safety dan process requirements), misalnya equipment mana saja yang bersifat normal, mana yang bersifat essential, dan mana pula yang bersifat emergency.
equipment yang bersifat normal akan kehilangan suplai ketika main power generation failure dan tidak perlu disuplai dengan emergency power generation maupun back-up battery dari ups system.
equipment yang bersifat essential akan disuplai dengan emergency power generation ketika main power generation failure tetapi tidak perlu di-backup dengan battery dari ups system.
equipment yang bersifat critical harus tetap beroperasi ketika emergency power generation maupun main power generation failure, biasanya ditentukan berapa menit back-up time daripada kapasitas battery yang diperlukan.
selain itu, juga perlu dipertimbangkan electrical consumers mana saja yang akan beroperasi secara continous, intermittent, dan standby.
dalam hal ini, untuk menghitung berapa kebutuhan rata-rata (average load), berapa kebutuhan maksimum, dan berapa beban puncaknya (peak load)
kemudian seluruh electrical consumers yang ada dikelompokan berdasarkan lokasi, criticality, continuity, dan tentu juga berdasarkan tingkat tegangannya.
setelah itu barulah dihitung berapa jumlah power supply yang dibutuhkan baik dari sisi main power generation, emergency power generation, maupun ups system.
dalam hal menentukan besarnya power generation yang diperlukan, biasanya peak load yang dijadikan patokan sehingga pada saat beban puncak, electrical consumers yang beroperasi masih dalam kemampuan generator yang sedang beroperasi.
karena itu, margin atau contingency biasanya juga diaplikasikan dalam perhitungan peak load.
semoga berguna dan mohon maaf kalo ada yang kurang tepat.

Tanggapan selengkapnya dari rekan-rekan Mailing List Migas Indonesia diatas dapat dilihat dalam file berikut: