Select Page

LFL di setiap area pasti beda2 tergantung konsentrasi gas dan massa yang terbuang ke udara, serta dll.

Tanya – Punjung Sasmito

Dear Bosses,

Mohon pencerahan tentang setting LFL di gas plant dan referensinya, selama ini saya setting demikian :

20% LFL –> alarm

40% LFL –> initiate to ESD (Emergency ShutDown)

apakah ini terlalu berlebihan?, karena ketika ada kebocoran gas sedikit saja bisa mematikan plant.
apakah sebaiknya saya menaikkan settingan detector gas saya? kata engineer2 safety biasanya untuk setting ESD digunakan 80 – 100% LFL, sedangkan untuk alarm cukup dengan 50 – 60% LFL, tetapi mereka tidak
menyebutkan referensinya, cuma feeling aja katanya….

Mohon pencerahan dari Bapak & Ibu yang lebih berpengalaman di hal ini.

Tanggapan 1 – Fadhli Halim@saipem

Dear Pak Punjung,

Topik ini baru minggu lalu dibahas, mungkin bapak bisa mencari pesan2 yang ada dimilis dengan judul: (Process Safety) Lower Explosive Limit (LEL).

Tanggapan 2 – roeddy setiawan

Pak Punjung,

Saya ngak tahu teman bapak dapat info dari mana. yang betul bapak bikin segi tiga sama sisi
yang satu nitrogen, yang satu oxigen, yang satu hidrocarbon,
ada reference bagus dr cpps ‘safe design and operation process vent and emission control’

In prinsip bapak ngak boleh lebi tinggi dr lower flamability limit , boleh lebih rendah
bapak ngak boleh lebih rendah dr uper flamability limit.kalau bapak lihat gambar nya pasti langsung ngerti ngak perlu pake feeling spt main gatrik, gas plant 100 million dollar bisa unusable

Jadi area yg combustible dibawah ufl diatas lfl , sayang kita ngak bisa pasting graphic disini biar bisa lebih baik, gimana pak moderator ???? tambahin capability to pasting graphic dong

Tanggapan 3 – Punjung Sasmito

Dear Bosses,

Terima kasih buat advisenya Pak.Rudy,

Kalo ada referensinya mohon japri pak ya, hehehehe….ke :

busro.punjung@gmail.com

Yg pasti LFL di setiap area pasti beda2 tergantung konsentrasi gas dan massa yg terbuang ke udara, serta dll yg saya tanyakan apakah untuk settingan tersebut udah memenuhi syarat sebuah safety procedure?

Terus terang saya masih bingung pake code apa untuk memastikan bahwa di area ini harus disetting sekian % LFL untuk alarm, sekian %LFL untuk process shut down (PSD), dan sekian %LFL untuk ESD.

Untuk kondisi yg sekarang ini saya setting 20% LFL alarm / initiate PSD (process shutdown) dan 40% LFL initiate to ESD (Emergency shutdown), dengan pembacaan maksimum LFL = 100% LFL.
Jadi ketika kebocoran gas baru mencapai 40% dari LFL-nya maka detektor tsb akan mematikan seluruh plant. Dan setahu saya, gas tersebut baru bisa terbakar kalau sudah mencapai LFLnya atau lebih tinggi dari LFLnya, dan gak akan terbakar jika dibawah LFLnya (cuma tau dari buku aja pak…hehehe…maklum masih belum ada experience).

Yg saya tekankan apakah untuk kebocoran gas 40% LFL harus perlu mematikan plant? takutnya plant bisa keseringan shutdown…….apa kata dunia…….hehehe

Yg saya temukan kebanyakan detektor menganjurkan setting 20% LFL perlu diwaspadai……wah..wah..wah…safetynya tingkat tinggi kali yaa….

Tanggapan 4 – Fadhli Halim@saipem

Dear Pak Punjung,

Saya setuju dan sepemahaman mengenai LFL/LEL sama bapak. biasanya nilainya diambil dari company specification. nilai 40 %untuk HLG terlalu berlebihan untuk sebuah plant process. tapi nilai ini bisa juga masuk akal untuk tempat2 tertentu. Engineering judgement diperlukan untuk menentukan nilai ini.

Tanggapan 5 – roeddy setiawan

Pak Punjung,

Yang saya ada text nya tapi ngak punya electronic nya , saya kira segitiga combustible dan oxidizer banyak di publish.

Kalau setingan yg seperti bapak bilang saya ngak tahu dari mana. tapi logika nya sebelum campuran tersebut sampai ke LFL harus nya probe sudah berekasi memberikan signal, sehingga operator or who ever in charge in plant can took a apropriate measure. mulai dr alarm, sampai hi alarm then shutdown.
Yes tentu saja masing masing hydrocarbon punya combutability ynag berbeda beda yang bapak lakukan identify masing masing component, berbagai karateristik yg kita tidak sukai ntapi harus deal dg properti ini was available spt flash point, flamability limit limiting oxigen consentration,minimum iginition energy dll dipakai semua untuk supaya kita masih bisa digaji (maklum org gajian kidding).saya kira nilau UFL danLFL mudah didapat, problem nya LFL was fuel limited tapi insentive thfd oxigen const, ufl sangat tergantung pd konsentrasi oxigen,. diagram segitiga bisa bapak kostruksikan sendiri atau bisa nyontek dr publikasi berau of mines bulletin sayang ngak inget ;agi no nya.hope this help.

Tanggapan 6 – Punjung Sasmito

Setting 80%-100% buat ESD dan 50%-60% buat alarm, pakai feeling …waduuh pingin ngerapal belajarnya nich bagaimana caranya ?

Selain diagram segitiga yang disebut2 Pak Roeddy, ada banyak reference hal semacam ini di berbagai sumber, search aja Pak. Kalo ada waktu saya kirim japri ke Bapak, tapi posisi saya masih di remote jadi tak bisa janji beneran nich.

Tanggapan 7 – Alvin Alfiyansyah

Yang jelas kalo ESD 40%-60% LFL saya kira masih wajar saja jika memang konsep desainnya seperti itu. Yang jelas dari berbagai company spec dan engineering spec, referencenya angka2 tersebut (20% alarm, 40% alarm or ESD, 60% ESD) dari dasar2 NFPA 496, 325M, 70, 72 dan beberapa API RP untuk prevention semacam API RP 14C,14J,14G.

Tapi sangat setuju, kalo bisa dicek dahulu apakah ESD terjadi karena false alarm, salah pembacaan, indikator yang kotor, dll. Silahkan ditindaklanjuti.

Tanggapan 8 – teguh eka prakasya

Dear Pak,

Sedikit menambahkan dari subject di bawah, jika memang takut plant-nya sering shut down, karena gas yg terdeteksi tinggi, ya memang itu di buat spt itu pak, yg harus di lakukan adalah cari tahu dari mana sumber gas tersebut ? (real atau bohong / indikasi fault / alat yg ngaco). kemudian di betulin permasalahnnya biar ga bocor2 lagi jika memang ada gas bocor yg terdeteksi. selesai, klo di rubah2 setting nya tanpa analisa dan argumentasi yg benar,, nanti malah meledak (apa kata dunia lagi dong ??).

Untuk permasalahan kedua mengenai dari mana setting2 nya, penjelasan pak rudy sudah baik sekali tinggal di follow up ke referensinya. atau silahkan tanya engineer di kantor bapak ttg safety design dari sejak awal design platform tsb, disitu ada perhitungan SIL, SYS, dan kenapa ada safe area, ada harazdous area, kenapa setting gas UFL dan LFL di area ini berbeda, dll .., klo engineer nya pada sibuk, minta aja dossier -nya atau related dokumen di perpustakaan perusahaan (klo ada). mudah2an membantu.
Terimakasih,

Tanggapan 9 – Crootth Crootth

Wah, membaca e-mail dari Mas Teguh ini, terasa gampang benget yah menentukan settingan LFL… ck ck ck. Tinggal tanya apa ke perpus jadi… Jadi ga perlu risk assessment nih mas? Yakin?

Tanggapan 10 – teguh eka prakasya

Pak Dam, maksud saya yg ‘aplikatif’ saja utk Pak Punjung, tentu-nya dari saat platform di design sudah ada risk assesment-nya kan ? hanya saja biasanya sejalan perkembangan waktu dan kondisi operasi yg berbeda saat awal dengan waktu sekarang maka pasti akan ada perubahan2, kan saya juga baca2 di IIPS,, hehehe.. selain itu dulu juga saya mengalami hal yg kurang lebih sama dengan Pak Punjung.
Terimakasih.

Share This